Uptodai.com - Krisis air bersih melanda jutaan penduduk di ibu kota India, Delhi, akibat tingkat pencemaran yang ekstrem. Kondisi ini memaksa warga mengubah drastis rutinitas harian mereka, termasuk frekuensi mandi. Tingginya kadar amonia dari limbah industri membuat air keran yang mengalir ke rumah-rumah tidak hanya keruh, tetapi juga mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Dampak terburuk dari masalah ini dirasakan oleh warga yang tinggal di kawasan pinggiran. Mereka harus menunggu hingga lima hari hanya untuk mendapatkan air bersih, yang kualitasnya pun masih dipertanyakan.

Dampak Polusi Sungai Yamuna Delhi: Mandi Lima Hari Sekali

Bagi Ravinder Kumar, seorang ayah tiga anak yang tinggal di Sharma Enclave, Delhi barat laut, mendapatkan air bersih kini terasa seperti memenangkan lotre. Ia menceritakan bahwa air bersih hanya mengalir sekali setiap tiga hari, itupun hanya berlangsung sekitar satu jam saja. Kondisi ini membuat kebersihan diri menjadi tantangan besar bagi keluarganya.

“Sangat sulit untuk mandi. Kadang air yang keluar berwarna hitam. Kami sekeluarga hanya bisa mandi setiap empat atau lima hari sekali,” ujar Kumar, menggambarkan betapa parahnya gangguan pasokan air yang mereka alami. Air yang berhasil mereka tampung pun sering kali berwarna kuning dan mengeluarkan bau tak sedap, mirip seperti telur busuk.

Shashi Bala, warga lain di kawasan tersebut, menambahkan bahwa krisis ini mulai berdampak serius pada kesehatan komunitas. Ia mengeluhkan kondisi lingkungan yang serba kotor karena air berkualitas buruk. “Kesehatan semua orang menurun. Semuanya kotor dan tidak higienis,” katanya.

Sungai Suci yang Berubah Menjadi Saluran Limbah Terbuka

Akar masalah dari krisis air keran berbau busuk ini adalah tingginya pencemaran amonia yang berasal dari limbah industri yang dibuang ke Sungai Yamuna. Sungai ini secara historis merupakan tulang punggung peradaban Delhi sejak abad ke-17 dan menyumbang sekitar 40% dari total kebutuhan air ibu kota.

Namun, polusi berat telah membuat air sungai tidak lagi bisa diolah secara aman oleh fasilitas pengolahan air minum. Ironisnya, sungai yang dianggap suci dan disembah oleh jutaan umat Hindu di India kini telah bertransformasi menjadi saluran limbah terbuka.

Komite pemantau pemerintah mencatat bahwa hanya sekitar 2% aliran Sungai Yamuna yang melewati wilayah ibu kota Delhi, namun bagian kecil inilah yang menyumbang sekitar 76% dari total polusi Yamuna secara keseluruhan. Kandungan oksigen terlarut (DO) di sungai ini kerap turun hingga nol, mematikan kehidupan air dan ekosistem di dalamnya.

Jutaan Penduduk Terdampak Gangguan Pasokan Air Delhi

Dewan Air Delhi mencatat bahwa sedikitnya 43 kawasan di ibu kota, yang dihuni oleh sekitar dua juta penduduk, terdampak parah oleh gangguan pasokan air. Bahkan, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ditemukan bahwa setidaknya 10 wilayah, dengan total lebih dari 600.000 penduduk, tidak menerima air sama sekali selama beberapa hari berturut-turut.

Simbol paling kasat mata dari krisis lingkungan ini adalah lapisan busa putih beracun yang tebal dan menutupi permukaan sungai. Lapisan busa ini bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengandung zat berbahaya yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Pertumbuhan kota yang tidak terencana turut memperparah kondisi pasokan air. Jutaan warga kini tinggal di permukiman ilegal yang tidak memiliki jaringan pipa dan sistem pembuangan limbah yang memadai. Akibatnya, limbah rumah tangga dan industri meresap langsung ke tanah, mencemari cadangan air tanah yang seharusnya menjadi alternatif pasokan air bersih.

Tantangan Berat Menghadapi Pencemaran Sungai Yamuna

Sejumlah aktivis lingkungan secara rutin turun ke bantaran sungai untuk melakukan upaya pembersihan. Mereka mengumpulkan berbagai macam limbah, mulai dari pakaian bekas, sampah plastik, hingga patung-patung ritual keagamaan yang dibuang ke sungai. Namun, para aktivis mengakui bahwa upaya ini tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah yang sesungguhnya.

Akar masalah utama tetap berada pada buruknya pengelolaan kota dan pembuangan limbah industri yang tidak terkontrol. Pemerintah Delhi sendiri telah berjanji untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah hingga hampir dua kali lipat, mencapai 1.500 juta galon per hari, serta membangun jaringan pembuangan di seluruh permukiman. Namun, implementasi rencana jangka panjang ini membutuhkan waktu dan investasi besar, sementara jutaan warga terus menderita karena kualitas air yang memburuk saat ini.