Uptodai.com - Dunia teknologi kembali diguncang oleh pernyataan radikal dari salah satu tokoh paling berpengaruh di industri semikonduktor. Adalah Jensen Huang, CEO Nvidia, yang baru-baru ini secara eksplisit menyampaikan bahwa Jensen Huang minta programmer setop coding tugas-tugas rutin yang selama ini mereka kerjakan.

Huang, yang dikenal sebagai pemimpin perusahaan dengan valuasi triliunan dolar, berpendapat bahwa tugas pemrograman yang berulang dan bersifat rutin harus segera dialihkan kepada Kecerdasan Buatan (AI). Visi ini bukan sekadar angan-angan, melainkan telah diterapkan di internal perusahaannya sendiri.

AI Gantikan Tugas Rutin, Insinyur Fokus Memecahkan Masalah

Pria yang memiliki kekayaan fantastis mencapai US$165,9 miliar ini mengungkapkan bahwa setiap insinyur di Nvidia kini diwajibkan menggunakan Cursor. Cursor merupakan asisten pengkodean berbasis AI yang dikembangkan secara internal oleh perusahaan.

Pasalnya, alat tersebut mengambil alih proses pengkodean yang bersifat repetitif. Oleh karena itu, para insinyur dapat memfokuskan energi dan waktu mereka untuk memecahkan masalah yang belum pernah terpecahkan sebelumnya.

“Tidak ada yang memberikan saya lebih banyak kegembiraan dibandingkan melihat tidak ada satupun insinyur kami yang melakukan pemrograman sama sekali,” ujar Huang dalam sebuah acara podcast, seperti dikutip dari sumber terkait. Ia menambahkan, para profesional teknik kini hanya fokus pada tantangan yang benar-benar baru.

Redefinisi Peran Programmer di Era AI

Huang menekankan bahwa permintaan ini sama sekali tidak bertujuan untuk meninggalkan bidang teknik. Sebaliknya, hal ini merupakan upaya mendefinisikan kembali apa arti dari pekerjaan teknik itu sendiri.

Menurutnya, pengkodean hanyalah tugas rutin yang bisa diotomatisasi. Sementara itu, pekerjaan yang ia sebut sebagai ‘keajaiban’ adalah mengejar tujuan strategis, menemukan masalah mendasar, dan merumuskan solusi yang belum pernah ada.

Hal ini sekaligus membantah kekhawatiran banyak pihak bahwa AI akan menggantikan posisi insinyur secara total. Justru, AI akan bertindak sebagai alat pembebasan, membuat insinyur lebih bebas dan produktif dalam menjalankan peran inti mereka.

Pelajaran dari Profesi Dokter Radiologi: Dampak AI pada Pekerjaan

Untuk memperkuat argumennya mengenai peran programmer di era AI, Huang memberikan contoh dari bidang radiologi. Sebelumnya, pelopor AI, Geoffrey Hinton, pernah memprediksi bahwa ahli radiologi akan lenyap dalam kurun waktu lima tahun karena AI mampu membaca hasil pemindaian dengan jauh lebih cepat dan akurat.

Namun, kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Jumlah ahli radiologi justru meningkat signifikan, bukan berkurang. Ini membuktikan bahwa AI tidak menghilangkan profesi, melainkan meningkatkan efisiensi dan fokus profesional.

Tujuan utama pekerjaan ahli radiologi bukanlah sekadar membaca hasil pemindaian. Sebaliknya, tugas krusial mereka adalah mendiagnosis penyakit dan merancang strategi untuk meningkatkan hasil perawatan pasien secara keseluruhan.

AI mengambil alih bagian yang berulang dan berisiko kesalahan, seperti pemindaian awal, sehingga para ahli radiologi dapat mencurahkan perhatian penuh pada kasus-kasus yang memerlukan pertimbangan klinis mendalam dan sentuhan manusia. Inilah model yang juga diharapkan terjadi pada profesi programmer dan insinyur di masa depan.