Uptodai.com - Tragedi memilukan melanda Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah seorang siswa kelas IV SD ditemukan meninggal dunia. Kejadian ini meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga inti, tetapi juga bagi seluruh komunitas di Desa Nenowea.

Menanggapi situasi darurat ini, Kepolisian Daerah (Polda) NTT segera mengambil langkah cepat. Pihak kepolisian langsung memberikan trauma healing siswa SD NTT serta dukungan material yang diperlukan kepada keluarga yang berduka. Peristiwa tragis yang terjadi pada Kamis (29/1) ini menjadi sorotan nasional, menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan tekanan sosial ekonomi.

Respons Cepat Polda NTT dan Dukungan Psikologis Keluarga Korban

Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, menegaskan bahwa penanganan kasus ini memerlukan pendekatan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi penegakan hukum. Oleh karena itu, Polda NTT langsung mengutus tim konselor psikologi profesional ke lokasi kejadian.

Tim tersebut bertugas memberikan pendampingan serta penguatan mental, khususnya kepada orang tua korban yang mengalami kehilangan besar. Irjen Rudi memastikan bahwa dukungan psikologis keluarga korban akan terus dilakukan secara intensif, mengingat dampak emosional yang sangat berat dari peristiwa tersebut.

“Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Rudi, Rabu (4/2/2026). Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian institusi Polri terhadap kondisi psikologis masyarakat pasca-tragedi.

Tim Khusus Diterjunkan ke Ngada

Tim yang diterjunkan ke lokasi adalah personel yang memiliki spesialisasi dalam penanganan krisis dan duka. Mereka terdiri dari Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan, Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono, serta Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo.

Proses pendampingan psikologis ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari, hingga Minggu (8/2/2026). Lokasi fokus intervensi berada di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Ngada, tempat tinggal almarhum. Selain pendampingan mental, Kapolda juga memerintahkan Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino untuk langsung mendatangi kediaman orang tua korban guna menyalurkan bantuan material dan dukungan moril.

Motif Ekonomi Ditemukan dalam Tragedi Siswa SD Ngada Bunuh Diri

Di samping fokus pada pemulihan psikologis, pihak kepolisian juga terus mendalami motif di balik tindakan fatal yang dilakukan oleh korban. Kapolda Rudi Darmoko menegaskan bahwa kejadian ini menjadi perhatian serius dan harus diusut tuntas.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah tempat kejadian perkara (TKP), kepolisian menemukan indikasi kuat bahwa faktor ekonomi menjadi pemicu utama. Terdapat kekecewaan mendalam yang dialami korban, diduga terkait dengan kondisi finansial keluarga yang sulit.

“Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan,” ujar Rudi. Informasi awal ini menunjukkan bahwa tekanan hidup dapat memberikan dampak traumatis yang signifikan, bahkan pada usia yang sangat muda.

Tragedi siswa SD Ngada bunuh diri ini menjadi alarm keras bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya sistem dukungan sosial dan ekonomi yang kuat di tingkat komunitas untuk mencegah kasus serupa terulang di masa depan.

Penyelidikan masih terus berjalan untuk memastikan semua detail dan konteks di balik tragedi ini. Korban sendiri ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh pada Kamis (29/1), di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.