Uptodai.com - Persaingan di papan atas Liga Italia musim 2025/2026 berjalan ketat, namun selisih performa antara dua raksasa kota Milan mulai terlihat mencolok. AC Milan memang masih nyaman di posisi kedua dengan 46 poin dari 21 pertandingan. Namun demikian, selisih tiga angka dari Inter Milan di puncak klasemen menyimpan sebuah masalah fundamental.

Perbedaan paling signifikan terlihat jelas pada sektor serangan. Inter Milan, yang berada satu tingkat di atas Rossoneri, jauh lebih subur. Hingga pekan ke-21, Nerazzurri sudah mengoleksi 44 gol, sementara AC Milan kurang produktif dengan hanya mencatatkan 34 gol. Selisih 10 gol ini menjadi sorotan tajam bagi para pengamat sepak bola, termasuk mantan pelatih legendaris Italia, Fabio Capello.

Capello Ungkap Kunci Produktivitas Inter Milan

Fabio Capello, yang pernah menukangi AC Milan, memberikan penilaian lugas mengenai disparitas daya gedor kedua tim. Menurutnya, perbedaan mendasar terletak pada karakter penyerang tengah yang dimiliki masing-masing klub. Inter memiliki Lautaro Martinez, seorang striker murni yang sangat efektif di kotak penalti.

Padahal, kontribusi gol di kubu Milan tersebar merata. Christian Pulisic telah menyumbang delapan gol dan Rafael Leao mencatatkan tujuh gol. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Milan tidak memiliki satu sumber gol utama yang dominan, melainkan mengandalkan kontribusi dari sektor sayap dan lini kedua.

Perbedaan Gaya Bermain Leao dan Pulisic

Capello menekankan bahwa gaya bermain Leao dan Pulisic secara alami berbeda dari tipikal striker klasik. Kedua pemain tersebut lebih nyaman beroperasi melebar, bergerak turun menjemput bola, atau menciptakan peluang dari posisi sayap. Mereka bukanlah sosok yang secara naluriah akan menunggu di dalam kotak penalti untuk menyelesaikan umpan silang.

Kondisi ini menciptakan dilema taktis bagi Milan. Ketika Leao atau Pulisic bergerak melebar, area sentral di depan gawang seringkali kosong. Hal ini membuat pertahanan lawan lebih mudah mengatur posisi dan memblokade jalur umpan akhir.

“Tepat sekali, mereka adalah penyerang yang suka bermain di berbagai posisi, mundur atau menyebar untuk menerima bola dan menciptakan peluang,” ujar Capello kepada Gazzetta dello Sport. Ia menambahkan bahwa pergerakan Pulisic di area penalti memang lebih baik, tetapi Leao masih harus banyak belajar mengenai posisi sentral.

Mengapa AC Milan Kurang Produktif Tanpa Striker Murni?

Pertanyaan kunci yang diajukan kepada Capello adalah apakah kesulitan Milan mencetak banyak gol disebabkan oleh absennya penyerang tengah murni. Capello menjawab dengan tegas, membenarkan anggapan tersebut. Ketiadaan seorang target man murni yang fokus di area 16 meter membuat skema serangan Milan seringkali berakhir tanpa sentuhan akhir yang mematikan.

Inter sangat bergantung pada Lautaro Martinez, yang memiliki insting predator di depan gawang dan sudah mencetak 11 gol musim ini. Lautaro memastikan bahwa setiap peluang yang datang dari sayap atau lini tengah memiliki target yang jelas di jantung pertahanan lawan. Milan, di sisi lain, harus mengandalkan pergerakan dinamis yang terkadang kurang efisien.

Meskipun Milan memiliki Niclas Fullkrug, penyerang asal Jerman yang didatangkan untuk mengisi kekosongan tersebut, Capello menilai profilnya belum mampu menandingi dampak instan yang diberikan Lautaro. Fullkrug memang menawarkan dimensi fisik baru, namun proses adaptasi dan konsistensi golnya belum mencapai level yang dibutuhkan untuk menutup kesenjangan produktivitas dengan rival sekota.

“Namun, keduanya (Leao dan Pulisic) bukanlah Lautaro, dan itu terlihat jelas,” terang Capello. Analisis ini menegaskan bahwa untuk bersaing memperebutkan Scudetto, Rossoneri mungkin perlu mempertimbangkan kembali strategi transfer mereka, dengan mencari sosok penyerang tengah yang memiliki mentalitas dan fokus sebagai mesin gol utama tim.