Uptodai.com - Masalah lini depan Timnas Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola tanah air setelah performa impresif David da Silva di kompetisi domestik. Striker asal Brasil yang kini membela Malut United tersebut seolah memberikan tamparan keras bagi para penyerang pilihan pelatih John Herdman. Ketajaman David da Silva di depan gawang lawan saat ini jauh melampaui statistik gabungan para penyerang yang selama ini menjadi tumpuan skuad Garuda.

Kondisi ini menjadi alarm serius bagi tim kepelatihan mengingat jadwal padat dalam ajang FIFA Series 2026 sudah di depan mata. Ketimpangan kualitas penyelesaian akhir antara pemain lokal, pemain keturunan, dan pemain asing di liga domestik semakin terlihat nyata. Publik kini mulai mempertanyakan efektivitas skema serangan yang diusung oleh John Herdman dalam beberapa laga terakhir.

Dominasi David da Silva di Super League 2025/2026

Performa luar biasa David da Silva kembali menjadi buah bibir saat Malut United bertandang ke markas Madura United pada Selasa (4/3/2026). Dalam laga pekan ke-24 yang digelar di Stadion Gelora Ratu Pamelingan tersebut, pemain berusia 36 tahun itu tampil sangat dominan. Ia berhasil memborong dua gol sekaligus memastikan kemenangan krusial bagi tim berjuluk Laskar Kie Raha.

Tambahan dua gol tersebut membuat koleksi gol David da Silva musim ini melonjak drastis menjadi 13 gol. Catatan ini menempatkan dirinya sebagai salah satu kandidat terkuat peraih sepatu emas di kompetisi Super League 2025/2026. Konsistensi yang ia tunjukkan membuktikan bahwa usia hanyalah angka bagi seorang predator di dalam kotak penalti.

Keberhasilan David da Silva menjaga produktivitasnya tentu menjadi prestasi tersendiri bagi Malut United yang baru promosi. Namun di sisi lain, torehan fantastis ini justru menjadi ironi besar bagi sektor penyerangan tim nasional. Pasalnya, belum ada satu pun striker pilihan utama timnas yang mampu mendekati angka dua digit gol musim ini.

Perbandingan Kontras dengan Striker Timnas Indonesia

Statistik gol David da Silva terasa semakin menyakitkan jika dibandingkan dengan rapor para striker yang dipanggil memperkuat lini depan Timnas Indonesia. Ole Romeny, yang diharapkan menjadi mesin gol baru setelah proses naturalisasinya, justru masih mengalami masa sulit di Eropa. Bersama Oxford United, penyerang tersebut tercatat belum mampu menyumbangkan satu gol pun sepanjang musim ini.

Situasi yang hampir serupa juga menimpa Mauro Zijlstra yang baru saja merapat ke Persija Jakarta di bursa transfer terbaru. Meski datang dengan ekspektasi tinggi, Zijlstra masih membutuhkan waktu adaptasi dan belum berhasil membuka keran golnya di kompetisi domestik. Hal ini tentu menjadi beban tambahan bagi John Herdman dalam menentukan komposisi pemain depan yang ideal.

Mandulnya Penyerang Lokal di Kompetisi Domestik

Nasib penyerang lokal seperti Ramadhan Sananta dan Hokky Caraka juga tidak jauh berbeda dari rekan-rekan mereka. Ramadhan Sananta yang kini berkarier bersama DPMM FC baru mengemas empat gol dari total penampilannya musim ini. Meskipun sering mendapatkan menit bermain, efektivitas Sananta dalam memanfaatkan peluang masih sering mendapat kritik dari pengamat sepak bola.

Hokky Caraka yang membela Persita Tangerang memiliki catatan yang identik dengan Sananta, yakni baru mengoleksi empat gol. Jika produktivitas keempat penyerang andalan timnas tersebut digabungkan, total gol mereka tetap tidak mampu mengejar torehan David da Silva seorang diri. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis penyelesaian akhir yang sangat akut di tubuh skuad Garuda.

John Herdman kini harus memutar otak lebih keras untuk menemukan solusi instan sebelum terjun ke FIFA Series 2026. Ketergantungan pada pemain tertentu atau harapan pada proses naturalisasi baru tampaknya belum membuahkan hasil yang instan. Tanpa adanya perbaikan signifikan, sektor penyerangan akan terus menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi oleh lawan.

Peluang Naturalisasi David da Silva Lewat Jalur Domisili

Melihat performa yang tetap stabil di level tertinggi, wacana untuk menaturalisasi David da Silva kembali mencuat ke permukaan. Pemain kelahiran Brasil ini diketahui sudah menetap dan berkarier di Indonesia dalam durasi yang cukup lama. Ia tercatat pernah membela klub-klub besar seperti Persebaya Surabaya dan Persib Bandung sebelum akhirnya berlabuh di Malut United.

Berdasarkan aturan FIFA, seorang pemain bisa berpindah kewarganegaraan jika telah tinggal di negara terkait selama lima tahun berturut-turut. David da Silva secara administratif telah memenuhi syarat tersebut melalui jalur domisili yang sah. Banyak pihak menilai kehadirannya bisa menjadi solusi jangka pendek yang sangat efektif untuk menambal lubang di lini serang Indonesia.

Meskipun demikian, proses administrasi untuk mengubah status kewarganegaraan sang pemain dikabarkan belum sepenuhnya rampung. PSSI dan tim kepelatihan John Herdman tampaknya masih menimbang banyak faktor, termasuk faktor usia sang pemain yang sudah menginjak 36 tahun. Namun, dengan kondisi striker lain yang tengah tumpul, opsi David da Silva sulit untuk diabaikan begitu saja.