Uptodai.com - Sejarah kelam kembali tercipta setelah kegagalan timnas Brasil di Piala Dunia 2026 yang menyisakan luka mendalam bagi para pendukung Selecao. Langkah raksasa Amerika Selatan ini harus terhenti secara tragis di babak 16 besar setelah ditumbangkan oleh Norwegia dengan skor tipis 2-1. Dua gol telat dari striker haus gol Erling Haaland pada menit ke-79 dan ke-90 mengubur mimpi Brasil untuk melangkah lebih jauh di MetLife Stadium, New Jersey. Penalti Neymar di masa injury time tidak lebih dari sekadar hiburan kecil di tengah duka yang mendalam.

Kekalahan memalukan ini menyamai rekor terburuk mereka pada edisi 1990 silam, di mana mereka juga tersingkir di fase yang sama. Publik sepak bola global menilai hasil ini sebagai sebuah kehancuran total bagi reputasi tim yang mengoleksi lima bintang emas tersebut. Kegagalan mengejutkan ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari para legenda sepak bola Brasil dan pengamat internasional. Banyak yang mempertanyakan kesiapan mental para pemain bintang dalam menghadapi tekanan turnamen sebesar Piala Dunia.

Awal Era Carlo Ancelotti yang Penuh Tekanan

Di tengah badai kritik tersebut, sorotan tajam kini tertuju pada sosok pelatih legendaris asal Italia, Carlo Ancelotti. Mantan bos Real Madrid ini sebenarnya baru akan resmi menjabat secara efektif pada 26 Mei 2025 mendatang. Penunjukannya oleh Presiden CBF, Ednaldo Rodrigues, awalnya digadang-gadang sebagai penyelamat yang akan mengembalikan kejayaan sepak bola Brasil. Ancelotti menggantikan Dorival yang dipecat akibat kekalahan memalukan 4-1 dari rival abadi mereka, Argentina, di babak kualifikasi.

Menjadi pelatih asing permanen pertama dalam sejarah Selecao tentu membawa beban psikologis yang sangat masif bagi Don Carlo. Publik Brasil dikenal sangat menuntut, tidak hanya menginginkan kemenangan tetapi juga keindahan bermain yang dikenal sebagai Jogo Bonito. Filosofi sepak bola Eropa pragmatis yang diusung Ancelotti dinilai banyak pihak bertolak belakang dengan identitas asli Brasil. Pertaruhan besar ini kini dianggap sebagai proyek berisiko tinggi yang rentan menemui jalan buntu sejak awal direncanakan.

Membangun Kembali Lini Tengah Selecao

Meskipun bayang-bayang kegagalan begitu pekat, Ancelotti menegaskan bahwa momen pahit ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia menyebut keguguran ini sebagai titik awal dari siklus baru untuk merombak total struktur permainan tim nasional. Fokus utamanya dalam waktu dekat adalah meregenerasi sektor lini tengah yang dianggap kehilangan kreativitas dan determinasi. Kontrak jangka panjang hingga Piala Dunia 2030 memberikan waktu bagi pelatih pemegang lima trofi Liga Champions ini untuk membuktikan kapasitasnya.

Perdebatan mengenai hilangnya identitas Jogo Bonito kini kembali memanas di kalangan pencinta sepak bola lokal. Banyak yang merindukan era keemasan di mana Brasil mendominasi dunia dengan tarian samba yang mematikan di atas lapangan hijau. Kini, tugas berat menanti Ancelotti untuk menyatukan taktik modern Eropa dengan bakat alamiah para seniman lapangan hijau Brasil. Hanya waktu yang akan menjawab apakah pertaruhan bersejarah ini akan berakhir manis atau justru memperpanjang kutukan Selecao.