Perjuangan Pemulung TPA Jatiwaringin di Tengah Kepulan Asap
Uptodai.com - Aktivitas ekstrem terpaksa dilakoni sejumlah pemulung TPA Jatiwaringin yang nekat menerobos kepulan asap pekat sisa kebakaran demi menyambung hidup. Meskipun area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kabupaten Tangerang, Banten, ini masih membara, mereka tetap mengais tumpukan sampah. Langkah berbahaya ini diambil karena desakan ekonomi yang tidak memberikan mereka pilihan lain untuk bertahan hidup.
Kebakaran hebat yang melanda TPA Jatiwaringin sejak Selasa (30/6/2026) hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan oleh petugas. Titik-titik api masih aktif di beberapa zona, menghasilkan asap tebal beracun yang menyelimuti seluruh kawasan. Kendati demikian, para pekerja informal ini tetap setia dengan karung mereka, mencari sisa-sisa logam berharga.
Bahaya Gas Beracun di Balik Tumpukan Sampah
Menghirup asap dari kebakaran sampah plastik dan organik sangat berbahaya bagi kesehatan saluran pernapasan manusia. Asap tersebut mengandung senyawa berbahaya seperti karbon monoksida, dioksin, dan furan yang dapat memicu kanker jangka panjang. Namun, bagi para pencari barang bekas ini, ancaman kelaparan jauh lebih nyata daripada risiko penyakit yang mengintai masa depan mereka.
Salah satu warga yang bertahan adalah Adi (28), yang terlihat sibuk memilah besi bekas di antara puing-puing gosong. Pria paruh baya ini mengaku tidak memiliki keahlian lain untuk mendapatkan penghasilan instan. Besi-besi yang telah menghitam tersebut nantinya akan dijual kepada pengepul dengan harga yang sangat murah.
Harga Jual Besi Bekas yang Sangat Rendah
“Besi-besi bekas meski sudah gosong masih laku,” ujar Adi saat ditemui di lokasi kerja yang ekstrem tersebut. Setiap kilogram besi yang berhasil dikumpulkannya hanya dihargai sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 saja. Pendapatan yang minim ini harus ditebus dengan taruhan kesehatan yang sangat mahal di tengah kepulan asap beracun.
Kesulitan pemadaman di TPA Jatiwaringin dipicu oleh kandungan gas metana yang tertimbun di bawah gunungan sampah sedalam belasan meter. Gas yang mudah terbakar ini membuat bara api di bagian dalam sulit dijangkau oleh air dari armada pemadam kebakaran. Selama bara tersebut belum padam sepenuhnya, kepulan asap akan terus menyelimuti wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Fenomena ini menjadi potret nyata lemahnya jaring pengaman sosial bagi pekerja sektor informal di Indonesia. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pemadaman api, tetapi juga memberikan bantuan masker atau logistik darurat bagi warga sekitar. Selagi solusi konkret belum hadir, para pemulung ini akan terus bertaruh nyawa di atas bara api demi sesuap nasi.