Uptodai.com - Kekalahan menyakitkan yang kembali diderita Manchester United (MU) di kompetisi domestik memicu reaksi keras dari berbagai penjuru, termasuk Asia Tenggara. Sorotan tajam kini datang dari Hanoi, di mana Media Vietnam kritik Manchester United dengan pertanyaan yang sangat menohok dan blak-blakan.

Hasil pahit 1-2 dari Brighton & Hove Albion pada babak ketiga Piala FA, yang terjadi di markas kebanggaan mereka, Old Trafford, bukan hanya sekadar kegagalan meraih kemenangan. Kekalahan tersebut menjadi cerminan nyata dari krisis struktural yang kini semakin menggerogoti tubuh Setan Merah.

Sorotan Tajam Media Vietnam Kritik Manchester United

Portal berita Vietnam, VN, melontarkan kalimat pedas yang kini menjadi viral di kalangan penggemar sepak bola global. Mereka secara terbuka mempertanyakan, “Mengapa kamu masih terpuruk seperti ini, Manchester United?” Kalimat singkat tersebut terasa menampar wajah klub raksasa yang kesulitan menemukan kembali identitasnya.

Kegagalan di Piala FA ini semakin mempertegas bahwa MU telah kehilangan satu-satunya jalur realistis untuk meraih trofi di musim yang penuh gejolak ini. Tersingkir di Old Trafford, di hadapan ribuan pendukung sendiri, menambah panjang daftar kekecewaan yang harus ditanggung oleh para loyalis Setan Merah.

Kekacauan manajerial yang terjadi pasca pemecatan Ruben Amorim membuat nasib MU menjadi bahan perbincangan lintas negara. Klub yang seharusnya menjadi barometer kejayaan sepak bola Inggris kini justru menjadi simbol kebingungan manajemen dan inkonsistensi performa di lapangan.

Old Trafford: Simbol Kejayaan yang Terasa Hampa

Pada dini hari 12 Januari, Old Trafford menjadi saksi bisu kekalahan 1-2 dari Brighton. Media Vietnam menyebut kekalahan ini sebagai “kegagalan total dari seluruh sistem,” merujuk pada ketidakmampuan tim untuk menunjukkan dominasi, bahkan di kandang sendiri.

Di tribun kehormatan, kamera menyorot wajah-wajah legendaris seperti Sir Alex Ferguson, Paul Scholes, dan Nicky Butt. Kehadiran mereka justru mempertegas jurang pemisah antara masa keemasan klub dan realitas hari ini. Darren Fletcher, yang dipercaya sebagai pelatih sementara, tampak kesulitan mengendalikan situasi dari pinggir lapangan.

Reuters bahkan menggambarkan Manchester United sebagai tim yang secara konsisten mengecewakan para penggemarnya. Meskipun diperkuat oleh pemain-pemain mahal hasil belanja besar di bursa transfer, serangan MU terlihat tumpul, pertahanan rapuh, dan permainan jauh dari kata meyakinkan.

Tamparan Simbolis dari Danny Welbeck

Ironi kekalahan MU semakin terasa ketika sosok yang menghancurkan harapan mereka justru datang dari masa lalu klub itu sendiri. Danny Welbeck, pemain yang dilepas 12 tahun silam, tampil sebagai mimpi buruk bagi mantan klubnya.

Di usianya yang menginjak 35 tahun, Welbeck mencatatkan satu assist dan satu gol penentu kemenangan bagi Brighton. Gol tersebut menjadi yang kedelapan bagi Welbeck ke gawang Manchester United sejak ia meninggalkan Old Trafford.

Media Vietnam menyoroti kontras ini sebagai simbol kegagalan kebijakan transfer dan pembinaan pemain di Old Trafford. Mereka mempertanyakan bagaimana pemain yang pernah dicampakkan justru menjadi eksekutor utama yang menghancurkan peluang MU meraih gelar.

Manchester United seolah terjebak dalam siklus pencarian identitas yang tak kunjung berujung. Setiap pergantian pelatih membawa janji perubahan, namun di lapangan, kekacauan yang sama terus terulang, membuat pertanyaan tajam dari media Vietnam itu semakin relevan: sampai kapan krisis ini akan berakhir?