Mengapa BRIN Kejar Pembangunan Lokasi Peluncuran Roket di Biak?
Uptodai.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mematangkan rencana strategis pembangunan Bandar Antariksa di Biak, Papua. Proyek ambisius ini bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan kebutuhan mendesak yang didukung oleh landasan hukum kuat dan keunggulan geografis yang tak tertandingi.
Keputusan untuk memilih Biak sebagai pusat peluncuran roket nasional didasarkan pada kajian yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Namun, BRIN menyadari bahwa studi lama tersebut wajib dimutakhirkan secara menyeluruh. Pemutakhiran ini harus menyesuaikan perkembangan teknologi terkini, kebutuhan strategis nasional, serta kondisi lingkungan dan sosial yang ada sekarang.
Alasan BRIN Bangun Lokasi Peluncuran Roket: Efisiensi Energi Maksimal
Salah satu faktor penentu utama yang menjadi alasan BRIN bangun lokasi peluncuran roket di Biak adalah keunggulan geografisnya. Pulau Biak terletak sangat dekat dengan garis khatulistiwa, sebuah posisi yang sangat ideal untuk operasi keantariksaan.
Lokasi yang dekat dengan ekuator memungkinkan peluncuran roket memanfaatkan kecepatan rotasi Bumi secara maksimal. Hal ini secara signifikan meningkatkan efisiensi energi dan menekan biaya operasional untuk membawa muatan roket menuju orbit rendah Bumi (LEO).
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa pembangunan Bandar Antariksa ini merupakan amanah strategis dari negara. Tujuannya jelas, yakni memperkuat kemandirian Indonesia dalam mengakses dan menguasai teknologi keantariksaan, menjadikannya kunci kedaulatan di masa depan.
Landasan Hukum yang Kokoh Menopang Proyek Strategis
Proyek pembangunan ini tidak berjalan tanpa payung hukum yang kuat. Dasar hukum yang menopang rencana BRIN meliputi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, yang menjadi fondasi utama regulasi antariksa nasional.
Selain itu, terdapat Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 mengenai Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040. Regulasi terbaru adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2023 tentang Penguasaan Teknologi Keantariksaan, yang secara spesifik menekankan pentingnya aspek technology safeguard atau perlindungan teknologi.
Saat ini, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa sudah menyelesaikan proses harmonisasi. Dengan demikian, regulasi ini siap menjadi dasar operasional yang kuat untuk segera memulai pembangunan fisik di lapangan.
Mengejar Peluang Ekonomi Antariksa Global
Keputusan BRIN mengejar pembangunan lokasi peluncuran roket di Biak juga didorong oleh potensi ekonomi yang masif. Ekonomi antariksa secara global saat ini tengah mengalami peningkatan pesat dan menjadi sektor yang sangat menjanjikan.
Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menjelaskan bahwa ekonomi antariksa global diperkirakan akan mencapai sekitar lima persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia.
Pembangunan fasilitas seperti Bandar Antariksa di Biak diprediksi akan memberikan multiplier effect yang signifikan bagi kawasan Papua dan Indonesia secara keseluruhan. Dampak positifnya meliputi penciptaan lapangan kerja baru, pertumbuhan ekonomi daerah yang pesat, hingga penguatan posisi diplomasi antariksa Indonesia di kancah internasional.
Target Implementasi dan Persiapan Regulasi Turunan
BRIN kini fokus pada penyusunan regulasi turunan yang akan memastikan implementasi proyek berjalan lancar. Proses ini krusial agar setelah RPP disahkan, penetapan lokasi dan pelaksanaan pembangunan dapat segera dieksekusi tanpa hambatan birokrasi.
Menurut rencana yang telah ditetapkan, pembukaan lahan milik BRIN di Biak direncanakan akan dimulai pada tahun 2026. Selain persiapan teknis dan regulasi, BRIN juga tengah memperbarui rencana induk keantariksaan hingga tahun 2045 agar selaras dengan visi pembangunan nasional jangka panjang.
Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah melalui BRIN untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain aktif dalam perlombaan teknologi keantariksaan global. Biak diproyeksikan menjadi gerbang utama Indonesia menuju luar angkasa.