Uptodai.com - Laporan terbaru mengenai bahaya kecelakaan kerja kurir online mengungkapkan fakta mengejutkan terkait tingginya angka fatalitas di jalan raya. Data ini menjadi peringatan keras bagi para penyedia platform aplikasi untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan para mitranya.

Berdasarkan laporan resmi Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Singapura, pekerja di sektor pengantaran memiliki tingkat kerawanan yang jauh melampaui industri lain. Pemerintah setempat kini mewajibkan setiap perusahaan pengelola aplikasi untuk melaporkan setiap insiden yang menimpa pekerja mereka sejak awal tahun 2025.

Sepanjang tahun 2025, tercatat dua orang pekerja pengantar barang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Singapura. Meski angka kematian total mencapai 36 jiwa di berbagai sektor, namun kondisi pekerja lapangan berbasis aplikasi menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan.

Statistik Mengkhawatirkan Keselamatan Kerja Ojek Online

Data menunjukkan sebanyak 74 pekerja berbasis aplikasi mengalami luka berat akibat kecelakaan selama menjalankan tugasnya. Angka ini menempatkan keselamatan kerja ojek online dan kurir pada posisi yang sangat rentan dibandingkan profesi kantoran atau manufaktur.

Rasio kecelakaan berat yang dialami pekerja pesan antar mencapai 84,6 dari setiap 100.000 pekerja. Angka tersebut mencatatkan risiko 4,5 kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata nasional untuk seluruh jenis pekerjaan.

Menteri Tenaga Kerja Singapura, Dinesh Vasu Dash, menegaskan bahwa karakteristik pekerjaan ini memang memiliki risiko alami yang besar. Para kurir harus berhadapan dengan padatnya arus lalu lintas dan ketidakpastian kondisi cuaca sepanjang hari di jalanan.

Tekanan Insentif dan Risiko Pekerjaan Pesan Antar

Meskipun jumlah pekerja online hanya mencakup sebagian kecil dari total tenaga kerja, kontribusi angka kecelakaannya sangat dominan. Kasus kecelakaan berat yang menimpa pekerja online menyumbang sekitar 84 persen dari seluruh total kecelakaan kerja di berbagai industri.

Kondisi ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk serikat pekerja NTUC di Singapura. Yeo Wan Ling, selaku Asisten Sekjen NTUC, menyatakan bahwa data risiko pekerjaan pesan antar ini sangat mengkhawatirkan dan memerlukan tindakan segera.

Ia mendesak perusahaan penyedia aplikasi untuk mengevaluasi kembali sistem pemberian insentif yang selama ini diterapkan. Menurutnya, skema yang mengejar kecepatan pengantaran sering kali memaksa pekerja mengabaikan prosedur keselamatan demi mengejar target pendapatan.

Perlunya Penguatan Perlindungan Pengemudi Ojol

Upaya untuk meningkatkan perlindungan pengemudi ojol dan kurir harus menjadi prioritas utama bagi regulator maupun perusahaan. Kesejahteraan pekerja tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar efisiensi waktu pengiriman atau durasi kerja yang panjang.

Menariknya, sektor lain yang selama ini dianggap berbahaya, seperti konstruksi, justru menunjukkan penurunan angka kematian kerja. Hal ini membuktikan bahwa standarisasi keamanan yang ketat mampu menekan angka kecelakaan secara signifikan di lapangan.

Pemerintah Singapura kini terus memantau dinamika risiko pekerja berbasis aplikasi untuk merumuskan kebijakan yang lebih adil. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi digital yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga aman bagi pelakunya.