Bos Telegram Kritik WhatsApp: Cuma Orang Bodoh yang Percaya Aman
Uptodai.com - Klaim mengejutkan dilontarkan oleh Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO Telegram, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal di industri teknologi pesan instan. Bos Telegram kritik WhatsApp dengan sangat tajam, bahkan menyebut pengguna yang masih memercayai keamanan aplikasi milik Meta tersebut sebagai ‘orang bodoh’. Pernyataan kontroversial ini ia sampaikan melalui akun X pribadinya.
Durov tidak melontarkan tuduhan tersebut tanpa dasar. Ia menjelaskan bahwa timnya menemukan serangkaian celah serangan serius ketika menganalisis implementasi enkripsi khas yang digunakan oleh WhatsApp. Menurutnya, kerentanan ini jauh lebih parah daripada yang disadari publik.
Durov: Celah Keamanan Digital WhatsApp Terbongkar saat Analisis Enkripsi
“Anda pasti bodoh sekali percaya WhatsApp aman di tahun 2026. Saat kami menganalisa cara WhatsApp menerapkan enkripsinya, kami menemukan banyak celah keamanan,” tulis Durov, dikutip pada Kamis (29/1/2026). Pernyataan ini menegaskan kembali pandangannya yang skeptis terhadap platform pesaingnya tersebut.
Kritikan pedas Durov ini muncul bersamaan dengan adanya gugatan hukum yang menargetkan Meta, induk perusahaan WhatsApp. Sekelompok penggugat menuding Meta membuat klaim yang menyesatkan mengenai langkah-langkah privasi yang diterapkan pada platform pesan tersebut.
Menurut berkas gugatan, WhatsApp dituduh memiliki kemampuan untuk “mengintip” percakapan penggunanya. Artinya, aplikasi ini diduga dapat menyimpan, menganalisis, dan mengakses hampir semua komunikasi pribadi, meskipun Meta selalu memasarkan platformnya dengan janji enkripsi dari ujung-ke-ujung (end-to-end encryption).
Meta, di sisi lain, membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut gugatan yang dilayangkan sebagai klaim yang tidak berdasar. Meskipun demikian, Durov memang telah berkali-kali melontarkan kritikan tajam serupa pada aplikasi pesaing Telegram tersebut.
Kerentanan Dikonfirmasi Google Project Zero
Ini bukanlah kali pertama Pavel Durov menyuarakan ketidakpercayaannya terhadap keamanan WhatsApp. Sebelumnya, pada tahun 2022, ia pernah menyatakan telah menghapus WhatsApp dari perangkatnya bertahun-tahun lalu, meyakini bahwa peretas dapat dengan mudah mengakses perangkat penggunanya melalui celah yang ada.
Setelah komentar terbaru Durov beredar luas, tim peneliti keamanan terkemuka, Google’s Project Zero, turut mengungkap adanya kerentanan fatal di WhatsApp versi Android. Project Zero adalah tim elite Google yang didedikasikan untuk menemukan kerentanan zero-day di berbagai perangkat lunak, sehingga temuan mereka memiliki bobot yang signifikan.
Berdasarkan hasil analisis Project Zero, kerentanan ini memungkinkan serangan berbahaya terjadi hanya melalui unduhan otomatis. Peretas dapat memanfaatkan celah keamanan aplikasi pesan tersebut untuk melakukan eksploitasi pada obrolan grup (group chat) dengan mengirimkan file media berbahaya yang secara otomatis terunduh ke perangkat korban.
Tanggapan Meta dan Jangka Waktu Perbaikan
Kerentanan kritis ini sebenarnya sudah dilaporkan langsung kepada Meta pada bulan September tahun lalu. Sayangnya, karena perusahaan dianggap gagal memperbaikinya dalam jangka waktu yang wajar, Project Zero akhirnya mempublikasikan temuan tersebut ke publik.
Dilaporkan bahwa Meta baru mulai melakukan perbaikan pada Desember lalu, jauh setelah laporan kerentanan diterima. Hingga saat ini, belum ada pembaruan resmi atau pengumuman lebih lanjut mengenai status perbaikan menyeluruh terhadap celah keamanan yang sangat sensitif ini, memicu kekhawatiran baru di kalangan pengguna mengenai keamanan digital WhatsApp.
Situasi ini semakin memperkuat argumen Durov bahwa pengguna harus lebih waspada dan kritis terhadap klaim privasi yang ditawarkan oleh aplikasi pesan raksasa, terutama ketika ada bukti teknis dari pihak independen yang menunjukkan adanya kerentanan serius.