CEO Uber Minta Karyawan Balas Email Weekend: Jangan Datang Jika Santai
Uptodai.com - Budaya kerja keras di Uber kini menjadi sorotan publik setelah CEO Dara Khosrowshahi secara blak-blakan mengungkap ekspektasi tinggi terhadap seluruh karyawannya. Ia menegaskan bahwa bekerja di perusahaan ride-hailing raksasa tersebut bukanlah tempat bagi mereka yang mencari kenyamanan atau sekadar ingin bersantai. Khosrowshahi tidak ragu meminta stafnya untuk tetap siaga dan memberikan respons cepat, bahkan ketika masa libur akhir pekan tiba.
Dalam sebuah sesi podcast terbaru, bos besar Uber ini mengungkapkan bahwa dirinya sering mengirimkan surat elektronik atau email pada hari Sabtu dan Minggu. Ia mengharapkan para bawahannya untuk segera membalas pesan tersebut tanpa menunda hingga hari kerja dimulai. Kebijakan ini mencerminkan betapa ketatnya persaingan dan tuntutan profesionalisme yang diterapkan di dalam internal perusahaan teknologi global tersebut.
Tuntutan Tinggi dan Risiko Pemecatan di Uber
Khosrowshahi menjelaskan bahwa perusahaan yang ia pimpin memiliki standar kinerja yang sangat tinggi dan tidak mengenal kompromi bagi mereka yang lamban. Ia secara terbuka menyatakan bahwa Uber adalah lingkungan yang sangat menuntut bagi setiap individu yang bergabung di dalamnya. Jika seorang karyawan tidak mampu menunjukkan performa yang baik, pihak manajemen akan segera memberikan teguran keras secara langsung.
Ketegasan ini bukan sekadar gertakan semata karena perusahaan tidak segan untuk mengambil tindakan ekstrem. Khosrowshahi menyebutkan bahwa karyawan yang tidak segera memperbaiki kinerjanya setelah mendapat peringatan akan menghadapi konsekuensi pemecatan. Baginya, efisiensi dan hasil nyata adalah fondasi utama agar perusahaan tetap bisa memimpin pasar di tengah gempuran kompetitor yang semakin agresif.
Etos Kerja sebagai Keterampilan Hidup yang Esensial
Menurut pandangan Khosrowshahi, budaya kerja keras di Uber merupakan bentuk pengembangan keterampilan hidup yang sangat penting, terutama bagi generasi muda. Ia percaya bahwa kemampuan untuk bekerja keras, fokus pada tujuan, dan tidak mudah putus asa saat menghadapi kegagalan adalah aset berharga. Tekad yang kuat dianggap sebagai pembeda antara individu yang sukses dengan mereka yang hanya sekadar bertahan.
Ia mengakui bahwa ritme kerja di Uber memang sangat berat dan mungkin terasa mengintimidasi bagi sebagian orang. Namun, di balik tekanan yang besar tersebut, terdapat kekuatan dan pengaruh yang sangat luas yang bisa didapatkan oleh para pekerjanya. Pengalaman bekerja di bawah tekanan tinggi ini diklaim mampu membentuk mentalitas baja yang berguna untuk jenjang karier jangka panjang di masa depan.
Kompromi Waktu Antara Pekerjaan dan Keluarga
Meskipun menuntut dedikasi total, Khosrowshahi mengklaim bahwa dirinya tetap berusaha membagi waktu untuk urusan personal dan keluarga. Ia tidak melarang karyawan untuk meluangkan waktu bersama orang-orang tercinta di sela-sela kesibukan yang padat. Namun, ia menekankan bahwa akan selalu ada kompromi yang harus dilakukan dalam menjalani keseharian sebagai bagian dari tim Uber.
Sebagai contoh, ia menceritakan rutinitas pribadinya yang tetap memantau pekerjaan di jam-jam istirahat. Jika ia makan malam pada pukul 20.00, maka tepat pada pukul 20.30 ia akan kembali membuka ponsel untuk memeriksa email yang masuk. Hal yang sama ia lakukan saat bangun tidur pada pukul 05.30 pagi untuk memastikan semua operasional berjalan sesuai rencana tanpa ada kendala berarti.
Pada akhirnya, Khosrowshahi menegaskan bahwa bekerja di perusahaannya tidak melulu soal tugas yang menjemukan karena staf tetap bisa bersenang-senang. Syarat utamanya adalah mereka harus sudah menyelesaikan seluruh tanggung jawab dengan hasil yang memuaskan terlebih dahulu. “Jangan datang ke sini jika Anda hanya ingin bersantai,” pungkasnya untuk menutup diskusi mengenai standar kerja di Uber.