Uptodai.com - Gerakan Cancel ChatGPT di Amerika Serikat kini tengah menjadi sorotan publik setelah OpenAI secara resmi mengumumkan kolaborasi strategis dengan Departemen Perang (DoW). Keputusan Sam Altman untuk mengerahkan model kecerdasan buatan ke dalam jaringan rahasia pemerintah memicu reaksi keras dari basis pengguna setianya. Warganet di berbagai platform media sosial menyerukan aksi boikot massal sebagai bentuk protes terhadap keterlibatan teknologi AI dalam urusan militer.

Aksi protes ini bukan sekadar gertakan di dunia maya, melainkan berdampak nyata pada performa aplikasi ChatGPT di pasar domestik. Data terbaru dari perusahaan intelijen pasar, Sensor Tower, menunjukkan adanya lonjakan angka uninstall yang sangat drastis dalam waktu singkat. Pengguna merasa kecewa karena teknologi yang awalnya bertujuan untuk membantu produktivitas kini mulai bersentuhan dengan sektor pertahanan yang sensitif.

Berdasarkan laporan statistik, jumlah penghapusan aplikasi ChatGPT di Amerika Serikat melonjak hingga 295 persen secara harian pada Sabtu (28/2/2026). Angka ini muncul hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman kerja sama dengan Departemen Perang dipublikasikan. Padahal, dalam kurun waktu 30 hari sebelumnya, tingkat uninstall harian rata-rata hanya berada di angka 9 persen saja.

Dampak Signifikan pada Rating dan Jumlah Unduhan

Lonjakan aksi lepas pasang aplikasi ini mencapai 33 kali lipat dari pola normal yang biasanya terjadi setiap hari. Fenomena tersebut mencerminkan kemarahan kolektif pengguna yang tidak setuju dengan arah kebijakan baru OpenAI. Selain melakukan uninstall, para pengguna juga meluapkan kekecewaan mereka melalui kolom ulasan di toko aplikasi digital.

Jumlah rating bintang satu untuk ChatGPT dilaporkan meroket hingga 775 persen pada hari Sabtu, dan terus bertambah 100 persen pada hari berikutnya. Sebaliknya, pemberian rating bintang lima justru merosot tajam hingga 50 persen pada periode yang sama. Sentimen negatif ini memberikan tekanan besar bagi reputasi OpenAI yang selama ini mendominasi pasar chatbot global.

Pertumbuhan unduhan aplikasi juga mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat sentimen kerja sama OpenAI dan Departemen Perang tersebut. Sensor Tower mencatat bahwa unduhan harian chatbot dengan 900 juta pengguna mingguan ini turun 13 persen pada 28 Februari. Tren penurunan ini terus berlanjut pada hari Minggu dengan penyusutan tambahan sebesar 5 persen secara harian.

Migrasi Massal Pengguna ke Chatbot Claude

Di tengah keterpurukan ChatGPT, kompetitor utamanya yakni Claude buatan Anthropic justru memanen keuntungan besar. Banyak pengguna yang memutuskan untuk bermigrasi ke Claude karena dianggap lebih memegang teguh prinsip etika penggunaan AI. Anthropic secara cerdik memanfaatkan momentum ini dengan menegaskan posisi mereka terhadap isu keterlibatan militer.

Unduhan Claude di Amerika Serikat tercatat naik 37 persen pada Jumat (27/2/2026) dan kembali melonjak 51 persen pada hari berikutnya. Kenaikan ini terjadi tepat setelah Anthropic menyatakan secara terbuka bahwa mereka tidak akan menjalin kerja sama dengan Departemen Perang. Pernyataan tegas tersebut menjadi magnet bagi pengguna yang mencari alternatif teknologi AI yang lebih netral.

Keputusan Anthropic untuk menolak kesepakatan dengan pihak militer didasari oleh kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan teknologi AI. Publik melihat langkah ini sebagai komitmen nyata terhadap keamanan dan kemanusiaan di tengah persaingan teknologi yang semakin memanas. Hal ini membuktikan bahwa faktor etika kini menjadi pertimbangan utama bagi konsumen dalam memilih layanan digital.

Masa Depan Etika AI di Industri Teknologi

Fenomena gerakan Cancel ChatGPT di Amerika Serikat memberikan pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi raksasa di seluruh dunia. Kepercayaan pengguna merupakan aset yang sangat rapuh dan dapat runtuh seketika akibat kebijakan yang dianggap kontroversial. Transparansi mengenai penggunaan data dan tujuan pengembangan teknologi menjadi kunci utama untuk menjaga loyalitas pasar.

Para ahli teknologi menilai bahwa keterlibatan AI dalam sektor pertahanan memang selalu memicu perdebatan panjang terkait moralitas. Banyak pihak khawatir bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk tujuan destruktif jika tidak diawasi dengan regulasi yang ketat. Oleh karena itu, reaksi keras dari warganet Amerika Serikat dianggap sebagai bentuk kontrol sosial terhadap laju inovasi yang terlalu cepat.

Kini, OpenAI harus menghadapi tantangan besar untuk memulihkan citra mereka di mata publik yang semakin kritis. Jika tren penurunan ini terus berlanjut, posisi ChatGPT sebagai pemimpin pasar bisa terancam oleh kompetitor yang lebih responsif terhadap isu etika. Persaingan di industri AI ke depannya tidak hanya soal kecanggihan fitur, tetapi juga soal integritas dan nilai-nilai kemanusiaan yang diusung.