Uptodai.com - Kebijakan strategis mengenai ekspor chip AI ke China yang sempat dilonggarkan oleh Presiden Donald Trump kini menemui jalan buntu. Meskipun Washington telah memberikan lampu hijau untuk pengiriman perangkat keras canggih tersebut, kenyataan di lapangan menunjukkan angka penjualan yang masih nol besar.

Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya sempat melunak terhadap Beijing guna meredakan ketegangan geopolitik yang kian memanas. Langkah ini diambil dengan menangguhkan beberapa tindakan tegas terkait keamanan nasional yang semula menyasar perusahaan-perusahaan teknologi asal Tiongkok.

Sikap Trump ini segera memicu gelombang kontroversi di dalam negeri, baik dari kalangan Partai Demokrat maupun rekan separtainya di Republik. Banyak pihak menilai bahwa melunaknya pengawasan terhadap Tiongkok dapat membuka celah yang membahayakan stabilitas keamanan nasional Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Ironi di Balik Izin Ekspor Chip H200

Di tengah upaya pelunakan sikap tersebut, pihak Tiongkok justru terlihat masih menunjukkan sikap “jual mahal” terhadap tawaran teknologi Amerika. Kementerian Perdagangan AS mengonfirmasi bahwa hingga detik ini, belum ada satu pun unit chip Nvidia H200 yang berhasil menembus pasar China.

David Peters, selaku Asisten Sekretaris untuk Penegakan Ekspor, memberikan pernyataan resmi di hadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR. Ia menegaskan bahwa berdasarkan data yang ada, belum ada aktivitas transaksi untuk prosesor mutakhir tersebut meskipun izin resmi telah dikantongi.

Chip H200 sendiri merupakan salah satu prosesor kecerdasan buatan paling kuat milik Nvidia yang tersedia di pasar global saat ini. Sebelumnya, perangkat ini masuk dalam daftar hitam ekspor karena kekhawatiran AS bahwa Beijing akan memanfaatkannya untuk memperkuat kapabilitas militer mereka.

Strategi Menghambat Kemajuan Huawei

Keputusan mendadak Trump untuk mengizinkan kembali ekspor chip AI ke China sebenarnya memiliki motif terselubung yang cukup taktis. Kepala Bagian AI Gedung Putih, David Sacks, berpendapat bahwa membanjiri pasar China dengan chip Nvidia akan memberikan dampak sistemik bagi industri lokal mereka.

Pemerintah AS berharap langkah ini dapat menghambat ambisi perusahaan lokal seperti Huawei dalam mengembangkan desain chip mandiri. Dengan tersedianya produk Nvidia secara legal, para pesaing di Tiongkok diharapkan akan kehilangan momentum untuk melakukan riset dan pengembangan teknologi tandingan.

Namun, strategi ini tetap mendapat perlawanan sengit dari para pengamat politik garis keras yang fokus pada isu Tiongkok. Mereka khawatir bahwa chip komersial tersebut tetap memiliki risiko tinggi untuk disalahgunakan guna meningkatkan dominasi Beijing di sektor kecerdasan buatan global.

Maraknya Praktik Penyelundupan Chip Gelap

Selain masalah penjualan legal yang macet, Washington juga tengah dipusingkan oleh isu penyelundupan teknologi yang semakin masif. Perwakilan Partai Republik, Bill Huizenga, menyoroti adanya laporan mengenai startup AI asal China, DeepSeek, yang diduga menggunakan teknologi terlarang.

DeepSeek dikabarkan berhasil melatih model AI terbaru mereka menggunakan chip tercanggih Nvidia yang seharusnya berada di bawah kontrol ketat ekspor. David Peters mengakui bahwa praktik penyelundupan chip memang nyata terjadi dan menjadi tantangan berat bagi penegak hukum di Amerika Serikat.

Pemerintah kini menempatkan penanganan penyelundupan teknologi ini sebagai prioritas utama dalam agenda penegakan hukum internasional. Mereka terus memantau pergerakan perangkat keras di pasar gelap yang sering kali melibatkan pihak ketiga sebagai perantara transaksi ilegal.

Hingga saat ini, baik pihak Kedutaan Besar China di Washington maupun manajemen Nvidia masih enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait situasi ini. Ketidakpastian ini semakin mempertegas bahwa diplomasi teknologi antara dua kekuatan ekonomi dunia ini masih jauh dari kata stabil.