Uptodai.com - Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI kini memasuki babak baru yang sangat panas di meja hijau persidangan Amerika Serikat. Miliarder pemilik Tesla tersebut melayangkan tuntutan hukum yang sangat masif terhadap perusahaan kecerdasan buatan yang pernah ia bantu dirikan tersebut.

Musk menuduh Sam Altman dan Greg Brockman telah melakukan manipulasi serta memberikan janji palsu terkait status non-profit perusahaan. Persidangan yang diprediksi berlangsung selama empat pekan ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku industri teknologi global di awal tahun 2026.

Juri akan memegang peranan krusial untuk memutuskan apakah para pendiri OpenAI benar-benar berbohong saat menyatakan perusahaan akan tetap mempertahankan struktur nirlaba. Kasus ini bermula dari kekecewaan mendalam Musk terhadap arah bisnis OpenAI yang kini dinilai terlalu komersial.

Sejarah Keretakan Hubungan Elon Musk dan OpenAI

Perselisihan ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup panjang sejak visi awal pembentukan OpenAI pada tahun 2015 silam. Saat itu, Elon Musk menjadi salah satu sosok kunci yang menyumbangkan dana awal sebesar US$38 juta atau setara Rp645 miliar.

Tujuannya sangat jelas, yakni memastikan pengembangan AI tetap aman dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia tanpa mengejar keuntungan finansial. Namun, dinamika internal berubah drastis ketika Musk gagal membujuk Sam Altman untuk membiarkan Tesla mengakuisisi lembaga riset tersebut pada 2018.

Kegagalan negosiasi itu akhirnya membuat Musk memutuskan untuk hengkang dari jajaran pengurus OpenAI secara permanen. Setelah kepergiannya, OpenAI justru terus melaju pesat hingga berhasil meluncurkan alat AI canggih ChatGPT yang mengguncang dunia pada akhir 2022.

Transformasi Menjadi Perusahaan Komersial

Elon Musk merasa dikhianati karena OpenAI secara perlahan mengubah identitasnya menjadi entitas bisnis yang sangat berorientasi pada profit. Ia menyoroti kemitraan strategis bernilai miliaran dolar yang dijalin perusahaan dengan raksasa teknologi Microsoft Corp.

Dalam dokumen gugatannya, penasihat utama Musk, Marc Toberoff, menyatakan adanya bukti substansial mengenai jaminan palsu yang diberikan pimpinan OpenAI. Mereka diduga sengaja menyesatkan Musk mengenai misi amal perusahaan demi meraup keuntungan pribadi yang sangat besar.

Pihak Musk mengklaim bahwa Sam Altman dan terdakwa lainnya telah memperkaya diri sendiri hingga miliaran dolar secara tidak adil. Hal inilah yang memicu kemarahan Musk hingga akhirnya memutuskan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum yang lebih serius.

Tuntutan Ganti Rugi Fantastis Rp2.277 Triliun

Dalam materi gugatan Elon Musk terhadap OpenAI, sang miliarder menuntut ganti rugi yang nilainya sangat fantastis. Ia meminta kompensasi hingga US$134 miliar atau setara dengan Rp2.277 triliun sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan.

Angka tersebut muncul berdasarkan perhitungan saksi ahli yang menilai Musk berhak atas porsi keuntungan dari valuasi OpenAI saat ini. Saksi ahli menyebutkan bahwa keuntungan yang dianggap ‘haram’ tersebut berkisar antara 2.900 kali lipat dari nilai investasi awal Musk.

Meskipun hakim sempat menyebut metodologi perhitungan tersebut tidak terlalu meyakinkan, namun pengadilan tetap mengizinkannya masuk ke dalam proses persidangan. Hal ini tentu menjadi ancaman finansial yang sangat serius bagi keberlangsungan bisnis OpenAI di masa depan.

Kesaksian Tokoh Kunci Industri Teknologi

Persidangan ini dijadwalkan akan menghadirkan sejumlah tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah. Nama-nama besar seperti Sam Altman, Elon Musk, hingga CEO Microsoft Satya Nadella dipastikan akan naik ke kursi saksi.

Kehadiran mereka diharapkan dapat mengungkap fakta-fakta internal mengenai bagaimana keputusan besar di OpenAI diambil selama masa transisi. Selain itu, mantan Kepala Ilmuwan OpenAI, Ilya Sutskever, juga dijadwalkan hadir untuk memberikan keterangan krusial mengenai visi teknis perusahaan.

Di sisi lain, pihak OpenAI membantah keras semua tuduhan tersebut dan menganggap gugatan Musk hanyalah bagian dari pola pelecehan semata. Mereka telah mengajukan mosi untuk menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa tuntutan Musk tidak memiliki dasar hukum yang kuat.