Uptodai.com - Sebuah upaya rahasia dan ambisius di Tiongkok baru-baru ini terkuak. Menurut laporan investigasi yang bocor ke publik, Insinyur China Bangun Mesin Chip canggih secara diam-diam, menantang dominasi teknologi Barat yang telah berlangsung puluhan tahun.

Prototipe mesin berukuran raksasa ini dilaporkan telah selesai dibangun pada awal 2025. Mesin tersebut kini memenuhi hampir seluruh lantai fasilitas laboratorium dengan pengamanan super ketat di Shenzhen.

Proyek ini bukan hanya sekadar upaya riset biasa, melainkan sebuah misi nasional. Tiongkok berupaya keras mereplikasi teknologi litografi sinar ultra-ungu ekstrim (EUV) yang sangat vital untuk memproduksi semikonduktor paling modern.

Proyek Manhattan Versi Tiongkok

Proyek rahasia ini melibatkan tim elite yang sebagian besar direkrut dari luar negeri. Beberapa anggota kunci tim adalah mantan insinyur dari raksasa semikonduktor Belanda, ASML, perusahaan yang memonopoli teknologi EUV global.

Mereka ditugaskan melakukan teknik bongkar-pasang (reverse engineering) terhadap mesin EUV asli. Upaya ini sering disebut-sebut sebagai “Proyek Manhattan” versi Tiongkok, merujuk pada program rahasia Amerika Serikat saat mengembangkan bom atom di era Perang Dunia II.

Raksasa teknologi domestik, Huawei, memainkan peran sentral dalam mengoordinasikan ribuan insinyur dari berbagai lembaga riset negara. Koordinasi ini bertujuan mengejar target Kemandirian Teknologi Semikonduktor secepat mungkin.

Tujuan utama Beijing sangat jelas: memastikan China dapat membuat chip canggih sepenuhnya dengan mesin buatan dalam negeri. Hal ini dilakukan demi menendang pengaruh Amerika Serikat 100% dari rantai pasok teknologi mereka.

Merekrut Talenta Global dengan Bonus Miliaran

Saat ini, mesin EUV adalah aset paling berharga di dunia teknologi. Satu unit mesin ini bernilai sekitar US$ 250 juta (sekitar Rp 4 triliun) dan sangat diperlukan untuk memproduksi chip AI, smartphone premium, hingga senjata militer modern.

Investigasi menunjukkan bahwa Tiongkok melakukan upaya yang sangat agresif untuk merekrut talenta global. Sejak 2019, pemerintah Tiongkok menawarkan bonus penandatanganan kontrak yang fantastis.

Bonus tersebut berkisar antara 3 juta hingga 5 juta yuan (sekitar Rp 6,5 miliar hingga Rp 11 miliar) untuk menarik para ahli semikonduktor yang bekerja di luar negeri. Skema ini berhasil menarik banyak profesional top dari Eropa dan Amerika.

Bahkan, beberapa mantan insinyur ASML yang direkrut dilaporkan bekerja menggunakan nama samaran dan kartu identitas palsu. Langkah ini diambil untuk menyembunyikan identitas mereka dari dunia luar, bahkan dari rekan kerja di fasilitas yang sama.

Tantangan Besar dalam Replikasi Optik Presisi

Meskipun proyek Prototipe Mesin Chip Canggih ini telah mencapai kemajuan signifikan, tantangan teknis yang dihadapi Tiongkok masih sangat besar. Prototipe tersebut memang sudah mampu menghasilkan cahaya ultra-ungu ekstrim yang dibutuhkan.

Namun, mesin itu belum mampu memproduksi chip yang berfungsi secara komersial dalam skala besar. Masalah utamanya terletak pada sistem optik presisi tinggi.

Sistem optik ini selama ini dimonopoli dan dipasok oleh perusahaan Jerman, Carl Zeiss AG. Mereplikasi cermin dan lensa yang sangat sensitif dan akurat buatan Carl Zeiss AG menjadi hambatan terbesar yang harus diatasi Tiongkok.

Awalnya, analis global memperkirakan Tiongkok membutuhkan waktu setidaknya satu dekade penuh untuk mengejar ketertinggalan teknologi chip dari Barat. Akan tetapi, dengan keberadaan prototipe rahasia ini, Beijing kini menargetkan garis waktu yang jauh lebih cepat.

Keberhasilan proyek ini akan mengubah peta kekuatan teknologi global secara fundamental. Ini adalah perlombaan waktu yang akan menentukan siapa yang memimpin masa depan industri semikonduktor.