Uptodai.com - Upaya memperkuat konektivitas internet Indonesia kini menjadi prioritas utama pemerintah demi mengurangi ketergantungan digital yang sangat tinggi pada Singapura. Saat ini, sekitar 90 persen lalu lintas data nasional masih harus melewati infrastruktur di negeri singa tersebut sebelum menyebar ke seluruh dunia. Ketergantungan yang masif ini terjadi karena posisi geografis dan kesiapan infrastruktur Singapura sebagai hub digital utama di Asia Tenggara.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki 72 jalur kabel bawah laut yang terdiri dari rute domestik dan internasional. Sayangnya, hampir seluruh jaringan internasional tersebut bermuara dan terhubung langsung ke Singapura. Kondisi ini dinilai cukup berisiko karena menciptakan konsentrasi jalur komunikasi pada satu koridor tunggal saja.

Risiko Keamanan dan Kebutuhan Jalur Alternatif

Ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara tetangga menyimpan berbagai risiko laten bagi kedaulatan digital nasional. Selain masalah keamanan data sensitif, ancaman fisik seperti bencana alam bawah laut, gempa bumi, hingga jangkar kapal dapat memutus koneksi global seketika. Jika jalur utama tersebut terganggu, maka seluruh aktivitas ekonomi digital di tanah air berpotensi mengalami kelumpuhan massal.

Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya membangun diversifikasi rute kabel serat optik, baik di darat maupun di laut. Indonesia perlu membuka gerbang digital baru yang langsung menghubungkan wilayah timur dan barat ke pusat internet global lainnya, seperti Australia atau Amerika Serikat. Langkah strategis ini tidak hanya meningkatkan ketahanan jaringan, tetapi juga mempercepat pemerataan akses internet di daerah pelosok.

Tantangan Investasi dan Geografi Kepulauan

Meskipun urgensi pelepasan ketergantungan ini sangat tinggi, merealisasikannya bukanlah perkara yang mudah dan murah. Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut pembangunan stasiun pendaratan kabel (cable landing station) yang tersebar di banyak titik. Kondisi geografis yang menantang ini membutuhkan biaya investasi infrastruktur yang sangat fantastis dari pihak swasta maupun pemerintah.

Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mengakui bahwa hanya segelintir perusahaan lokal yang memiliki kapasitas finansial untuk membangun infrastruktur laut sedalam itu. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan terus melonjak membutuhkan jaminan koneksi yang stabil dan mandiri. Sinergi regulasi yang ramah investasi dan kolaborasi global menjadi kunci utama agar Indonesia bisa benar-benar mandiri secara digital.