Harga Kawat Tembaga Melonjak, Industri AC Hadapi Tekanan Berat
Uptodai.com - Tantangan berat kini tengah membayangi industri manufaktur setelah harga kawat tembaga melonjak hingga lebih dari 50 persen sejak awal tahun 2026. Lonjakan drastis yang terjadi sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026 ini langsung memukul produsen alat pendingin ruangan (AC). Pasalnya, tembaga merupakan komponen utama yang paling banyak digunakan dalam sistem sirkulasi dan kondensor unit AC.
Vice President PT Flife Technologies Indonesia, Nicky, mengungkapkan bahwa situasi ini memicu gelombang kenaikan harga produk AC secara global. Hampir semua merek dan tipe pendingin udara di berbagai belahan dunia terpaksa melakukan penyesuaian tarif akibat membengkaknya biaya produksi. Namun, Flife sendiri memilih untuk mengambil langkah berani dengan tidak menaikkan harga jual selama semester pertama tahun ini.
Langkah menahan harga ini sengaja diambil demi menjaga daya beli masyarakat serta kenyamanan konsumen setia mereka. Sebagai pemain baru di pasar Indonesia, Flife saat ini tengah fokus membangun reputasi dan kepercayaan publik untuk bersaing dengan merek-merek mapan. Perusahaan bahkan menargetkan penjualan tumbuh 100 persen menjadi 100.000 unit pada tahun ini, naik signifikan dari capaian tahun lalu yang berkisar di angka 50.000 unit.
Penyebab Lonjakan Harga Tembaga Global
Kenaikan harga tembaga di pasar internasional ini sebenarnya dipicu oleh berbagai faktor makroekonomi yang kompleks. Salah satu pendorong utamanya adalah tingginya permintaan tembaga untuk proyek transisi energi hijau global, seperti pembuatan kendaraan listrik dan infrastruktur panel surya. Di sisi lain, gangguan pasokan dari negara-negara produsen utama di Amerika Selatan turut memperparah kelangkaan komoditas vital ini.
Kondisi ini semakin diperumit oleh ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku impor yang masih sangat tinggi. Pemerintah Indonesia sebenarnya terus mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk mengurangi ketergantungan impor tersebut. Namun, keterbatasan fasilitas pemurnian (smelter) tembaga di dalam negeri membuat produsen lokal tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Peluang Besar Pasar AC di Indonesia
Meskipun didera tekanan biaya produksi, potensi pasar pendingin udara di tanah air sebenarnya masih sangat menjanjikan. Guru Besar Bidang Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Politeknik Negeri Bandung (Polban), Andriyanto Setyawan, menjelaskan bahwa kebutuhan AC nasional mencapai 3 hingga 5 juta unit per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi pabrikan dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 2,4 juta unit saja.
Kesenjangan yang cukup besar antara permintaan dan kemampuan produksi ini menjadi peluang emas bagi para produsen baru. Apalagi, tren pemanasan global dan meningkatnya suhu rata-rata di berbagai kota besar Indonesia terus mendorong masyarakat untuk memasang AC di hunian mereka. Berbagai lembaga riset bahkan memproyeksikan bahwa pasar pendingin udara global akan terus tumbuh stabil di kisaran 5,3 persen dalam jangka panjang.