Uptodai.com - Hubungan antara Donald Trump dan raksasa teknologi Apple kini tengah memanas akibat persoalan janji manis Apple bangun pabrik di Amerika Serikat. Mantan penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, secara terang-terangan menuduh CEO Apple Tim Cook telah memberikan harapan palsu kepada pemerintah. Navarro menilai bahwa Apple telah memanipulasi situasi politik demi keuntungan perusahaan semata.

Navarro menyebut bahwa pada masa jabatan pertama Trump, Apple berjanji akan memindahkan seluruh lini produksi iPhone ke tanah airnya sendiri. Namun, realita di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda dari kesepakatan awal yang pernah dibicarakan. Trump kabarnya merasa kecolongan karena telah memberikan banyak kelonggaran kebijakan kepada perusahaan berlambang buah apel tersebut.

Tudingan Kebohongan Tim Cook kepada Trump

Peter Navarro mengungkapkan kekecewaannya dalam sebuah wawancara terbaru yang memicu perbincangan hangat di publik. Ia menilai pemerintah Amerika Serikat telah membiarkan Apple lolos begitu saja meski tidak menepati komitmen besarnya. Menurutnya, janji manis Apple bangun pabrik di Amerika Serikat hanyalah strategi untuk menghindari tekanan tarif dagang.

Navarro menegaskan bahwa Tim Cook secara terang-terangan berbohong mengenai rencana relokasi pabrik iPhone dari China ke Amerika. Alih-alih pulang kampung, Apple justru memperkuat basis produksinya di negara lain yang memiliki biaya tenaga kerja lebih rendah. Hal ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap visi “America First” yang diusung oleh Donald Trump.

India Menjadi Pelarian Apple dari China

Data terbaru menunjukkan bahwa Apple lebih memilih untuk mengalihkan investasi produksinya ke India daripada ke Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil Apple untuk mengurangi ketergantungan manufaktur mereka pada China yang sedang dilanda ketegangan geopolitik. Namun, bagi kubu Trump, pemindahan ini tidak memberikan dampak positif bagi lapangan kerja di domestik.

Navarro berpendapat bahwa memindahkan pabrik ke India hampir sama saja dengan tetap bertahan di China. Ketergantungan pada manufaktur luar negeri tetap menjadi isu utama yang terus dikritik oleh para pendukung kebijakan proteksionisme. Ia melihat tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kedaulatan industri jika produksi tetap dilakukan di luar wilayah hukum Amerika Serikat.

Tantangan Besar Manufaktur di Tanah Amerika

Laporan industri menyebutkan bahwa merakit iPhone di Amerika Serikat bukanlah perkara mudah bagi perusahaan pimpinan Tim Cook tersebut. Ada berbagai kendala struktural yang menghambat realisasi janji manis Apple bangun pabrik di Amerika Serikat secara massal. Masalah upah tenaga kerja yang sangat tinggi menjadi hambatan utama bagi keberlangsungan operasional pabrik.

Selain masalah gaji, ketersediaan perumahan bagi pekerja pabrik dan infrastruktur pendukung lainnya masih sangat minim di Amerika Serikat. Para ahli menilai ekosistem manufaktur di AS belum siap untuk menampung skala produksi sebesar yang ada di Asia. Hal inilah yang membuat Apple terus menunda pemindahan lini perakitan smartphone utama mereka.

Tren masa depan menunjukkan bahwa pabrik di Amerika Serikat kemungkinan besar akan didominasi oleh teknologi robotika canggih. Hal ini berarti hanya sedikit tenaga kerja manusia yang terserap dengan kualifikasi keahlian yang sangat tinggi. Kondisi ini tentu berbeda dengan harapan pemerintah yang menginginkan penyerapan tenaga kerja massal di sektor manufaktur.

Komitmen Baru Melalui Produksi Mac Mini

Meskipun mendapat kritik tajam, Apple mencoba membuktikan komitmennya melalui lini produk komputer compact mereka. Apple berencana memindahkan produksi Mac Mini ke fasilitas manufaktur di Amerika Serikat mulai akhir tahun 2026 mendatang. Langkah ini merupakan bagian dari realisasi investasi besar senilai US$600 miliar yang telah dicanangkan perusahaan.

Tim Cook menegaskan bahwa pihaknya terus mempercepat peningkatan kapasitas manufaktur canggih di dalam negeri. Melalui akun media sosial pribadinya, Cook menyatakan bahwa Mac Mini akan menjadi produk pertama yang diproduksi sepenuhnya di AS tahun ini. Apple juga berencana memproduksi lebih banyak server berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung kebutuhan pasar global.

Langkah ini diharapkan dapat meredam kemarahan publik dan kritikus politik terkait isu janji manis Apple bangun pabrik di Amerika Serikat. Apple juga berkomitmen untuk memperluas hubungan dengan pemasok lokal guna memperkuat rantai pasok domestik. Meski demikian, banyak pihak masih menunggu apakah janji untuk memproduksi iPhone di Amerika akan benar-benar terwujud suatu saat nanti.