Fantastis! Beli Kontrak Prediksi Yesus Untung Lebih Cuan dari Obligasi AS
Uptodai.com - Di tengah gejolak pasar keuangan global, sebuah instrumen investasi yang sangat tidak konvensional muncul dengan imbal hasil yang mengejutkan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa beli kontrak prediksi Yesus untung di platform Polymarket, sebuah pasar prediksi berbasis blockchain, menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fenomena ini menyoroti bagaimana platform taruhan digital kini telah menjadi arena spekulatif yang serius. Pengguna mempertaruhkan uang tunai pada hasil berbagai peristiwa dunia, mulai dari isu politik, perang, hingga fenomena spiritual yang paling mendasar.
Polymarket dan pesaingnya, Kalshi, telah menarik perhatian jutaan pengguna yang ingin menguji intuisi mereka terhadap masa depan. Mereka menawarkan peluang finansial yang unik, jauh di luar lingkup investasi tradisional.
Kontrak Prediksi ‘Kedatangan Kedua’ yang Mencengangkan
Salah satu kontrak paling unik dan menarik perhatian publik adalah pertanyaan: “Will Jesus Christ return in 2025?” atau “Apakah Yesus Kristus akan turun ke Bumi pada 2025?” Kontrak ini berhasil menyedot partisipasi finansial hingga mencapai nilai US$3,3 juta, setara dengan sekitar Rp 55 miliar, sepanjang tahun 2025.
Kontrak tersebut memberikan dua opsi bagi para partisipan: ‘Iya’ atau ‘Tidak’. Pemegang kontrak ‘Iya’ akan mendapatkan imbal hasil jika peristiwa yang disebut “The Second Coming of Jesus Christ” benar-benar terjadi sebelum 31 Desember 2025, pukul 23:59 waktu New York.
Sebaliknya, pemegang kontrak ‘Tidak’ akan menjadi pihak yang diuntungkan jika peristiwa tersebut tidak terjadi sesuai tenggat waktu yang ditetapkan. Hasil akhir dari kontrak ini didasarkan pada konsensus yang dicapai dari “sumber-sumber yang kredibel,” sebagaimana ditegaskan oleh laman Polymarket.
Mengapa Memprediksi ‘Tidak’ Lebih Menguntungkan dari Obligasi AS
Menurut laporan Bloomberg, investor yang memilih opsi ‘Tidak’—yakni memprediksi Yesus Kristus belum akan kembali pada 2025—mencatatkan tingkat pengembalian (return) yang fantastis. Saat kontrak ditutup pada 1 Januari 2026, mereka yang membeli kontrak ‘Tidak’ pada April tahun sebelumnya berhasil meraup keuntungan sebesar 5,5 persen.
Angka 5,5 persen ini secara signifikan melampaui imbal hasil yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang sering dianggap sebagai aset paling aman di dunia. Keunggulan return ini menjadikan pasar prediksi spiritual tersebut sebagai instrumen yang secara tak terduga lebih ‘cuan’ dibandingkan investasi konvensional.
Tingginya imbal hasil bagi pihak yang memprediksi ‘Tidak’ ini dipengaruhi oleh tingginya volume taruhan yang masuk pada opsi ‘Iya’ sepanjang tahun. Pada puncaknya, probabilitas kembalinya Yesus Kristus pada 2025 sempat mencapai 3 persen di platform tersebut.
Kondisi ini menunjukkan adanya spekulasi besar-besaran yang mendorong harga kontrak ‘Tidak’ menjadi sangat murah pada awalnya. Ketika prediksi ‘Iya’ gagal terwujud, para pemegang kontrak ‘Tidak’ pun menikmati keuntungan besar.
Evolusi Pasar Prediksi dan Kontrak Kontroversial Lainnya
Kesuksesan finansial dari kontrak “Kedatangan Kedua” ini mendorong Polymarket untuk membuka pasar serupa. Saat ini, mereka telah meluncurkan kontrak baru dengan pertanyaan “Will Jesus Christ return before 2027?” atau “Apakah Yesus Kristus akan turun ke Bumi sebelum 2027?”
Per Jumat, 9 Januari 2026, kontrak terbaru ini telah menarik uang prediksi senilai US$187.932 (sekitar Rp 3,16 miliar) dengan probabilitas ‘Iya’ berada di angka 3 persen. Ini menunjukkan bahwa pasar spekulatif berbasis keyakinan ini terus mendapatkan traksi dari para investor yang mencari peluang di luar aset tradisional.
Selain isu spiritual, platform Polymarket sebelumnya juga menjadi sorotan karena kontrak yang melibatkan isu politik sensitif. Salah satu kontrak paling kontroversial adalah taruhan mengenai Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Laporan menyebutkan bahwa orang dalam di lingkaran pemerintahan Presiden Donald Trump diduga menghasilkan keuntungan hingga US$400 ribu, atau sekitar Rp 6,7 miliar, dari pasar taruhan tersebut. Keuntungan ini didapat setelah adanya spekulasi mengenai kemungkinan penculikan Nicolas Maduro oleh tentara AS, menunjukkan betapa luasnya spektrum taruhan yang diakomodasi oleh platform prediksi ini.