Uptodai.com - Ancaman krisis ekologi global kini semakin nyata dengan rilisnya daftar kota yang terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut yang ekstrem. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memproyeksikan permukaan laut global bakal naik sekitar 3 hingga 6 kaki pada tahun 2100 mendatang. Kondisi mengkhawatirkan ini berpotensi merendam wilayah pesisir padat penduduk dan memaksa ratusan juta orang mengungsi mencari tempat tinggal baru.

Fenomena banjir rob yang kian sering melanda wilayah pesisir menjadi alarm awal dari dampak perubahan iklim global ini. Sepanjang awal tahun 2025 saja, banjir besar telah melumpuhkan beberapa kawasan di Jabodetabek dan Jawa, dengan wilayah Bekasi mencatat rekor genangan terparah. Kondisi ini mempertegas bahwa ancaman kehilangan ruang hidup akibat luapan air laut bukan lagi sekadar prediksi masa depan.

Mengapa Jakarta Menjadi Kota yang Terancam Tenggelam Paling Cepat?

Jakarta kini memegang predikat suram sebagai salah satu kota metropolitan dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia. Laporan ilmiah dari Sciencing menyebutkan bahwa beberapa wilayah di ibu kota Indonesia ini tenggelam hingga 17 sentimeter setiap tahunnya. Secara geografis, kota ini memang berdiri di atas dataran rendah yang dahulu merupakan kawasan rawa-rawa berair.

Beban tanah Jakarta kian berat karena keberadaan 13 sungai besar yang membelah area metropolitan ini menuju Laut Jawa. Sejak awal abad ke-21, intensitas banjir bandang di Jakarta terus menunjukkan tren peningkatan yang sangat mengkhawatirkan. Bencana banjir terdahsyat pada tahun 2007 bahkan merenggut puluhan nyawa dan memicu kerugian finansial hingga ratusan juta dolar.

Keputusan Evakuasi Massal ke Ibu Kota Nusantara (IKN)

Pemerintah Indonesia akhirnya mengambil langkah berani dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Keputusan yang diketok sejak tahun 2022 ini tidak terlepas dari tingginya risiko Jakarta tenggelam di masa depan. Selain ancaman rob yang terus mengintai, kemacetan parah dan polusi udara akut juga menjadi faktor pendorong utama evakuasi ini.

Pembangunan IKN sendiri ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2045 mendatang untuk menjadi pusat peradaban baru yang lebih berkelanjutan. Kawasan baru ini dirancang menjadi kota pintar yang ramah lingkungan sekaligus tempat penyelamatan dari potensi tenggelamnya Jakarta. Langkah mitigasi ini menjadi sorotan dunia sebagai salah satu adaptasi iklim paling ambisius abad ini.

Selain Jakarta, Alexandria di Mesir Juga Berada di Ujung Tanduk

Ancaman hilangnya wilayah pesisir dari peta dunia ternyata tidak hanya membayangi wilayah Asia Tenggara saja. Alexandria, kota pelabuhan bersejarah sekaligus kota terbesar kedua di Mesir, kini menghadapi nasib serupa yang tidak kalah mengerikan. Dengan populasi mencapai 5,7 juta jiwa, kota ini terancam lenyap akibat naiknya permukaan Laut Mediterania.

Ironisnya, Alexandria merupakan hub energi vital yang menyalurkan minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab menuju benua Eropa. Aktivitas industri fosil yang masif di wilayah ini justru mempercepat efek pemanasan global yang kini mengancam keberadaan mereka sendiri. Kenaikan suhu bumi memicu pencairan es kutub yang secara langsung menaikkan volume air laut global.

Mitigasi Global Menghadapi Krisis Iklim

Para ahli lingkungan terus mendesak para pemimpin dunia untuk segera menekan emisi karbon secara drastis sebelum terlambat. Tanpa adanya aksi nyata, kota-kota besar dunia lainnya seperti Dhaka, Venesia, hingga New York juga berisiko menyusul nasib Jakarta dan Alexandria. Pembangunan tanggul laut raksasa dan restorasi kawasan mangrove menjadi opsi pertahanan yang kini gencar dilakukan di berbagai negara.

Namun, solusi infrastruktur fisik tersebut hanya bersifat sementara jika akar masalah pemanasan global tidak segera diatasi secara kolektif. Masyarakat pesisir kini harus bersiap menghadapi kenyataan pahit bahwa peta dunia yang kita kenal hari ini mungkin akan berubah total dalam beberapa dekade mendatang. Kolaborasi global dalam transisi energi bersih menjadi satu-satunya kunci untuk menyelamatkan kota-kota bersejarah ini dari kepunahan.