Uptodai.com - Para arkeolog baru saja menemukan bukti keberadaan kuil pemuja matahari di bawah masjid saat melakukan proses restorasi bangunan bersejarah di Suriah. Temuan ini berlokasi di Masjid Agung Homs, sebuah situs yang selama puluhan tahun menjadi pusat perdebatan para ahli sejarah dunia.

Prasasti granit tersebut ditemukan tepat di bawah salah satu kolom utama bangunan yang megah itu. Area penemuan ini memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan erat dengan penguasa Dinasti Zengid pada abad ke-12, Nur ad-Din. Keberadaan benda bersejarah ini membuka tabir baru mengenai asal-usul bangunan tersebut.

Selama ini, masyarakat dan peneliti meyakini bahwa Masjid Agung Homs berdiri di atas bekas gereja yang didedikasikan untuk Santo Yohanes Pembaptis. Namun, muncul teori lain yang menyebutkan bahwa jauh sebelum menjadi gereja, lokasi tersebut adalah rumah bagi Kuil Elagabalus yang legendaris. Perdebatan ini telah berlangsung lama tanpa adanya bukti fisik yang benar-benar kuat.

Jejak Arkeologis Kuil Elagabalus di Suriah

Profesor arkeologi dari Universitas Sharjah, Maamoun Saleh Abdulkarim, mengungkapkan bahwa prasasti ini merupakan titik terang yang sangat dinantikan. Ia menjelaskan bahwa temuan tersebut memberikan bukti baru dalam perdebatan panjang mengenai lokasi asli kuil pemuja matahari di bawah masjid tersebut. Temuan ini memberikan perspektif baru bagi dunia arkeologi internasional.

Melalui studi yang diterbitkan dalam jurnal Shedet, Abdulkarim menyebutkan ada dua kemungkinan lokasi kuil tersebut. Pertama, berada tepat di bawah masjid saat ini, atau kedua, terletak di lapisan arkeologis lain di atas bukit buatan tempat benteng Islam Homs berdiri. Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan koordinat pastinya.

Kota Homs, yang dahulu dikenal sebagai Emesa, tercatat mengalami tiga fase religius yang sangat kontras namun saling berkesinambungan. Fase tersebut dimulai dari era paganisme, kemudian beralih ke masa Kristen, hingga akhirnya menjadi bagian dari peradaban Islam yang kuat. Ketiga fase ini meninggalkan jejak arsitektur yang saling bertumpuk.

Transformasi Ruang Suci dari Masa ke Masa

Pada masa kekuasaan Romawi, Emesa tersohor sebagai pusat pemujaan dewa matahari yang sangat berpengaruh di wilayah tersebut. Memasuki abad keempat, identitas kota ini berubah drastis menjadi pusat penyebaran agama Kristen yang penting. Perubahan ini menandai berakhirnya dominasi paganisme di wilayah Suriah pada masa itu.

Setelah penaklukan Islam, wilayah ini bertransformasi kembali dan Masjid Agung pun didirikan di atas fondasi bangunan sebelumnya. Abdulkarim menekankan bahwa jika simbolisme kultus matahari dalam prasasti ini terkonfirmasi, maka ada kesinambungan ruang suci yang luar biasa. Hal ini membuktikan betapa pentingnya lokasi tersebut bagi berbagai peradaban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi agama di Emesa tidak dilakukan melalui penghancuran total bangunan lama secara brutal. Sebaliknya, para penguasa di setiap zaman memilih untuk melakukan pelapisan dan adaptasi terhadap struktur bangunan yang sudah ada sebelumnya. Strategi ini membuat situs kuil pemuja matahari di bawah masjid tetap terjaga secara struktural.

Detail Prasasti dan Pesan Penguasa Kuno

Prasasti yang ditemukan tersebut terbuat dari batu granit kokoh dengan ukuran dasar sekitar 1×1 meter. Pada bagian depan setinggi 75 sentimeter, terdapat pahatan teks dalam bahasa Yunani kuno yang dikelilingi oleh bingkai dekoratif yang indah. Ukirannya masih terlihat cukup jelas meskipun telah berusia ribuan tahun.

Kepala Departemen Ekskavasi Homs, Teriz Lyoun, menjelaskan bahwa gaya penulisan pada prasasti tersebut terlihat sangat formal dan tertata rapi. Susunan garis horizontal yang presisi menjadi ciri khas dari sebuah prasasti dedikasi resmi dari pihak otoritas kerajaan masa itu. Hal ini menandakan bahwa prasasti tersebut dibuat oleh tenaga ahli profesional.

Isi teks tersebut menggambarkan sosok penguasa pejuang yang memiliki kekuatan dahsyat layaknya angin, badai, dan macan tutul. Sang penguasa digambarkan sebagai sosok yang mampu menaklukkan musuh-musuhnya serta menarik upeti dengan kewibawaan yang sangat besar. Narasi ini memperkuat status politik dan religius penguasa tersebut di mata rakyatnya.

Meskipun ditulis dalam bahasa Yunani, Abdulkarim mencatat adanya beberapa ketidakteraturan dalam tata bahasa yang digunakan. Fenomena ini dianggap wajar karena pada masa Romawi di Suriah, bahasa Aram sebenarnya lebih dominan digunakan dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan bahasa Yunani pada prasasti kuno Masjid Agung Homs lebih berfungsi sebagai bahasa administratif resmi.