Uptodai.com - Ambisi besar Mark Zuckerberg untuk membangun dunia virtual bernama Metaverse tampaknya harus menelan pil pahit. Unit bisnis utama yang menaungi proyek tersebut, Reality Labs, kini menghadapi pemangkasan besar-besaran. Kabar buruk ini datang setelah Megaproyek Metaverse Meta Gagal mencapai titik balik yang diharapkan.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Meta akan segera mengumumkan Pemecatan Karyawan Meta secara massal. Keputusan ini merupakan respons langsung terhadap kinerja Reality Labs yang terus merugi dan dianggap tidak efisien. Perusahaan raksasa teknologi tersebut kini terpaksa melakukan restrukturisasi besar-besaran demi mengamankan masa depan finansialnya.

Reality Labs Terpuruk, Ribuan Karyawan Terdampak

Reality Labs, yang dulunya dikenal sebagai Oculus, merupakan divisi yang menjadi ujung tombak Meta dalam mengembangkan teknologi realitas virtual (VR) dan realitas berimbuh (AR). Unit ini bertanggung jawab memproduksi perangkat keras seperti kacamata pintar Ray-Ban Stories serta platform perangkat lunak andalan mereka, Horizon Worlds. Namun, produk-produk ini gagal menarik perhatian pasar secara signifikan.

Dampak dari Kegagalan Proyek Reality Labs ini sangat terasa di internal perusahaan. Menurut laporan New York Times, Meta berencana merumahkan sekitar 1.500 karyawannya. Angka ini setara dengan 10% dari total 15.000 pekerja yang saat ini bernaung di bawah Reality Labs.

Gelombang PHK Massal Reality Labs ini sudah tercium sejak bulan lalu, diikuti dengan kebijakan pemotongan anggaran yang drastis. Reality Labs dipaksa memangkas alokasi dananya hingga 30% pada tahun fiskal 2026. Hal ini menunjukkan bahwa Meta mulai kehilangan kepercayaan terhadap potensi jangka pendek dari dunia virtual yang mereka impikan.

Proses Pengumuman dan Restrukturisasi Internal

Pengumuman mengenai pemecatan ini diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat. Bahkan, Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew Bosworth, telah menjadwalkan pertemuan yang disebut “penting tahun ini” dengan seluruh staf Reality Labs. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung secara langsung, sehari setelah pengumuman PHK resmi disampaikan kepada publik.

Langkah restrukturisasi ini menandai berakhirnya era investasi tak terbatas Meta ke dalam Metaverse. Perusahaan kini secara tegas mengalihkan fokus dan sumber daya ke sektor yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih nyata dan cepat: Kecerdasan Buatan (AI).

Pivot Strategis ke Kecerdasan Buatan (AI)

Perombakan unit bisnis ini sejalan dengan langkah strategis Meta yang semakin mantap di sektor AI. Meta telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun pusat data raksasa yang diberi nama Meta Compute. Pusat data ini dirancang untuk memiliki kapasitas komputasi AI puluhan gigawatt, menjadikannya salah satu infrastruktur komputasi terbesar di dunia.

Anggaran belanja modal Meta untuk pengembangan AI sangat fantastis, jauh melampaui investasi yang pernah digelontorkan untuk Metaverse. Perusahaan mengalokasikan hingga US$400 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 6.745 triliun, sepanjang tahun 2025 hanya untuk proyek-proyek AI.

Anggaran Fantastis untuk Proyek AI

Komitmen finansial yang masif ini didukung oleh pembentukan Superintelligence Labs. Laboratorium ini didedikasikan untuk mendukung proyek-proyek AI paling mutakhir Meta. CEO Mark Zuckerberg dikabarkan terjun langsung dalam proyek ini, memimpin upaya akuisisi talenta terbaik di bidang Kecerdasan Buatan.

Pergeseran prioritas ini menegaskan bahwa Meta melihat AI sebagai masa depan utama perusahaan, bukan lagi Metaverse. Dengan mengorbankan Reality Labs dan melakukan Pemecatan Karyawan Meta, Zuckerberg secara gamblang menunjukkan bahwa Meta siap melakukan langkah ekstrem demi memenangkan persaingan di era teknologi komputasi generasi berikutnya.