Pencipta AI Sebut Donald Trump Diktator Usai Kontrak Pentagon Batal
Uptodai.com - Isu mengenai tudingan Donald Trump diktator mencuat ke publik setelah bos perusahaan kecerdasan buatan ternama melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan pemerintahan Amerika Serikat. Dario Amodei, pendiri Anthropic, secara terang-terangan menuduh Departemen Pertahanan AS telah memblokir perusahaannya dari berbagai proyek strategis nasional.
Dalam sebuah memo internal yang bocor, Amodei mengklaim bahwa alasan utama perusahaannya disingkirkan adalah karena faktor politik. Ia menyebut pemerintah sengaja menghambat Anthropic lantaran mereka menolak memberikan sumbangan dana kampanye kepada pihak Trump.
Amodei menekankan bahwa pihaknya enggan memberikan pujian berlebihan kepada sang presiden hanya demi mendapatkan kontrak pemerintah. Ia bahkan membandingkan perlakuan tersebut dengan cara kerja seorang pemimpin otoriter yang menuntut loyalitas mutlak dari para pelaku industri.
Persaingan Panas Antara Anthropic dan OpenAI
Perselisihan ini semakin memanas ketika nama Sam Altman, CEO OpenAI, terseret dalam pusaran konflik. Amodei menuduh Altman bersikap oportunis dengan mendekati lingkaran kekuasaan demi memuluskan langkah bisnis perusahaannya di sektor pertahanan.
Laporan keuangan menunjukkan bahwa petinggi OpenAI memang memberikan kontribusi besar bagi pendanaan politik Trump. Presiden OpenAI, Greg Brockman, tercatat menyumbang sebesar US$ 25 juta, sementara Sam Altman sendiri menggelontorkan US$ 1 juta untuk dana pelantikan pada 2024.
Dukungan finansial tersebut diduga menjadi pelicin bagi OpenAI untuk mengambil alih posisi Anthropic sebagai penyedia teknologi AI utama bagi Pentagon. Kini, OpenAI telah resmi menandatangani kesepakatan besar dengan Departemen Pertahanan setelah Anthropic didepak dari daftar mitra.
Benturan Etika Penggunaan AI untuk Perang
Titik sengketa utama antara Anthropic dan Pentagon sebenarnya berakar pada penggunaan model AI bernama Claude dalam operasi militer. Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan ingin menggunakan teknologi tersebut untuk mendukung serangan militer di wilayah Venezuela.
Namun, Anthropic memegang teguh prinsip etika yang melarang penggunaan AI buatannya untuk operasional senjata otonom maupun memata-matai warga sipil. Sikap keras kepala Anthropic inilah yang kabarnya membuat pemerintahan Trump geram dan mencari alternatif lain.
Sam Altman melihat celah tersebut dan segera menawarkan kemampuan OpenAI kepada Departemen Pertahanan. Langkah ini memicu kontroversi besar karena dianggap mengabaikan risiko kemanusiaan demi ambisi dominasi pasar teknologi global.
Gelombang Boikot dan Uninstall ChatGPT
Keputusan OpenAI untuk bekerja sama dengan militer memicu kemarahan luas dari para pengguna setianya. Gerakan untuk menghapus aplikasi ChatGPT dari ponsel pintar mulai viral di berbagai platform media sosial sebagai bentuk protes keras.
Data dari Sensor Tower mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai lonjakan jumlah pengguna yang berhenti menggunakan layanan OpenAI. Volume uninstall aplikasi mobile ChatGPT meroket hingga 295 persen pada akhir Februari 2026, jauh melampaui rata-rata bulanan.
Di sisi lain, kompetitor mereka yakni Claude justru mendapatkan berkah dari eksodus massal pengguna ini. Jumlah unduhan aplikasi Claude melonjak hingga 51 persen dalam waktu singkat setelah publik mengetahui komitmen mereka untuk tidak bekerja sama dengan militer.
Solidaritas Industri Teknologi Melawan Kebijakan Pemerintah
Ketegangan ini tidak hanya melibatkan dua perusahaan AI tersebut, tetapi juga menyeret raksasa teknologi lainnya. Keputusan Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth yang melabeli Anthropic sebagai supply chain risk memicu protes dari asosiasi industri.
Perusahaan besar seperti Nvidia, Amazon, hingga Apple dikabarkan telah mengirimkan surat terbuka kepada pemerintah. Mereka mempertanyakan dasar pemberian status risiko tersebut yang biasanya hanya diberikan kepada perusahaan yang berafiliasi dengan musuh negara.
Langkah pemerintah yang memberikan label negatif kepada perusahaan domestik dianggap bisa merusak ekosistem inovasi di Amerika Serikat. Para pelaku industri khawatir bahwa tekanan politik semacam ini akan menghambat perkembangan teknologi masa depan yang transparan dan etis.