Uptodai.com - Kondisi penurunan muka tanah Pantura kini memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan hidup masyarakat di pesisir utara Jawa. Fenomena alam yang diperparah oleh aktivitas manusia ini telah menyebabkan sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Banten hilang dari peta akibat terendam air laut secara permanen.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, memaparkan data mengejutkan mengenai kondisi geografis kawasan tersebut. Berdasarkan riset terbaru, tekanan demografi yang tinggi memicu pembangunan permukiman dan pusat ekonomi secara masif di sepanjang garis pantai.

Penyebab Geologis dan Tekanan Ekstraksi Sumber Daya

Secara geologi, sekitar 84 persen wilayah Pantai Utara Jawa tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta yang bersifat unconsolidated. Kondisi tanah yang belum terkompaksi dengan kuat ini membuat daratan sangat rentan mengalami pemampatan serta erosi yang cepat.

Tubagus menjelaskan bahwa karakteristik tanah yang lunak ini menjadi faktor utama mengapa penurunan muka tanah Pantura terjadi begitu cepat. Situasi ini semakin sulit terkendali karena adanya ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang tidak terawasi dengan ketat oleh otoritas terkait.

Kerentanan wilayah ini juga didukung oleh kondisi morfologis pesisir yang didominasi oleh dataran rendah dengan elevasi kurang dari 10 meter. Hampir 83 persen dari total panjang garis pantai utara memiliki profil relief rendah yang sangat mudah terjangkau oleh kenaikan permukaan air laut.

Anomali Erosi di Wilayah Delta Jawa

Hasil analisis menggunakan Citra Satelit Sentinel periode 2000 hingga 2024 menunjukkan tren perubahan garis pantai yang didominasi oleh laju erosi sebesar 65,8 persen. Sementara itu, proses akresi atau penambahan daratan secara alami hanya mampu mencapai angka 34,2 persen dalam kurun waktu yang sama.

Menariknya, para peneliti menemukan anomali di mana erosi masif justru terjadi di lingkungan delta yang seharusnya menjadi area pengendapan sedimen. Hal ini mengindikasikan adanya gangguan serius pada siklus alamiah yang menyokong keberadaan daratan di pesisir utara.

Gangguan tersebut berasal dari modifikasi di daerah hulu, seperti pembangunan bendungan besar, kanalisasi, hingga pembelokan arah aliran sungai. Aktivitas antropogenik ini memutus suplai sedimen yang seharusnya mengalir ke wilayah muara untuk memperkuat struktur pesisir.

Daftar Wilayah yang Kini Terendam Air Laut

Dampak nyata dari hilangnya suplai sedimen dan penurunan muka tanah Pantura terekam jelas di beberapa titik krusial. Di Tanjung Pontang, Serang, tercatat daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah lenyap sepenuhnya akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.

Kondisi yang lebih tragis menimpa kawasan Pantai Bahagia di Muara Gembong, Bekasi, di mana air laut telah merangsek masuk hingga 4 kilometer ke daratan. Fenomena ini menenggelamkan berbagai infrastruktur publik serta merendam lebih dari 1.000 hektare tambak milik warga setempat.

Selain Bekasi, wilayah Legonkulon di Subang juga mengalami nasib serupa dengan intrusi air laut yang mencapai jarak 2 kilometer dari garis pantai lama. Bencana ini mengakibatkan 700 hektare tambak produktif hilang dan jalan desa sepanjang 500 meter tidak lagi bisa dilalui karena tererosi sempurna.

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu segera mengambil langkah strategis untuk memitigasi dampak krisis ekologi ini. Tanpa intervensi sains dan inovasi yang tepat, ancaman tenggelamnya pusat-pusat ekonomi di sepanjang jalur Pantura akan menjadi kenyataan yang tak terelakkan dalam beberapa dekade ke depan.