Uptodai.com - Dinamika pasar ponsel pintar global sepanjang tahun 2025 menunjukkan persaingan yang semakin ketat, terutama di antara dua pemain utama. Laporan terbaru mengenai Peringkat vendor smartphone global 2025 menegaskan bahwa dominasi pasar masih berada di tangan Apple, yang berhasil mencetak rekor pengiriman tertinggi sepanjang sejarah mereka.

Meskipun demikian, pertumbuhan pasar tidak merata di semua wilayah. Hampir seluruh kawasan mencatat peningkatan permintaan, kecuali China Raya (Greater China) yang justru mengalami penurunan tipis. Pelemahan di China ini terjadi seiring meredanya dampak skema subsidi nasional yang sempat memacu penjualan pada awal tahun.

Secara keseluruhan, pasar menutup kuartal IV 2025 dengan pertumbuhan 4% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja kuat ini didorong oleh faktor musiman akhir tahun dan performa solid dari para produsen kelas atas.

Dominasi Apple yang Memecahkan Rekor

Apple berhasil mempertahankan posisinya sebagai vendor smartphone terbesar di dunia, sebuah pencapaian yang menandai puncak dominasi mereka. Sepanjang tahun 2025, pengiriman (shipment) iPhone tercatat tumbuh 7%, mencapai angka fantastis 240,6 juta unit.

Angka ini bukan hanya sekadar peningkatan, melainkan rekor tertinggi yang pernah dicapai Apple. Lonjakan penjualan pada kuartal IV 2025 menjadi pendorong utama keberhasilan ini.

Khusus di China Daratan, Apple mencatat pertumbuhan impresif sebesar 26% pada kuartal terakhir. Permintaan yang sangat tinggi terhadap seri iPhone 17 menjadi kunci utama yang mengamankan posisi teratas mereka di tengah persaingan yang sengit.

Samsung Bangkit dari Keterpurukan

Sementara itu, Samsung membuktikan bahwa mereka mampu bangkit setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan tahunan. Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini menempati posisi kedua, hanya terpaut tipis dari Apple.

Pengiriman Samsung pada 2025 juga tumbuh 7% secara tahunan, menunjukkan pemulihan yang signifikan di berbagai segmen. Kinerja kuartal IV 2025 menjadi penentu, di mana pengiriman melonjak 16% YoY.

Kenaikan ini didukung oleh permintaan yang solid untuk seri flagship premium, terutama lini Galaxy S dan Galaxy Z (lipat). Selain itu, pemulihan permintaan di segmen entry-level dan mainstream juga turut menyumbang volume besar bagi Samsung.

Nasib Vendor China: Xiaomi Stagnan, Oppo Tertekan

Di bawah dua raksasa premium tersebut, persaingan di antara vendor asal China juga berlangsung ketat dengan hasil yang beragam. Xiaomi, meskipun bertahan di peringkat ketiga, menghadapi tekanan signifikan menjelang akhir tahun.

Pengiriman Xiaomi tercatat menurun 2% pada tahun 2025, mencapai 165,4 juta unit. Pelemahan ini disebabkan oleh kontraksi tajam pada kuartal IV di sejumlah pasar utama, terutama pada segmen entry-level yang menjadi andalan mereka.

Vivo Menyodok, Oppo Terbawah di Lima Besar

Di sisi lain, Vivo berhasil mencetak tonggak sejarah baru dengan menempati posisi keempat untuk pertama kalinya. Vendor ini mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 4%, dengan total 105,3 juta unit.

Kinerja kuat Vivo di India serta pasar domestik China menjadi motor penggerak utama pencapaian ini. Mereka berhasil memanfaatkan celah di pasar menengah yang tertekan.

Melengkapi lima besar Peringkat vendor smartphone global 2025, Oppo menempati posisi paling buncit. Sepanjang tahun 2025, Oppo membukukan pengiriman 100,7 juta unit, turun 3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun menghadapi tekanan berat pada paruh pertama tahun, Oppo berhasil mencatat pertumbuhan kembali pada kuartal IV 2025. Namun, penurunan tahunan ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi merek tersebut dalam mempertahankan pangsa pasar.

Terdapat harapan bagi Oppo di tahun 2026. Analis memproyeksikan bahwa mereka akan memperoleh tambahan volume signifikan seiring dengan masuknya realme ke dalam grup perusahaan. Konsolidasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi mereka melawan kompetitor lain di segmen yang sama.

Tantangan Biaya Komponen di Tahun Mendatang

Meskipun pasar global menunjukkan pemulihan, industri smartphone diprediksi akan menghadapi tantangan baru pada tahun 2026. Kenaikan biaya komponen utama menjadi isu krusial yang harus diwaspadai.

Kenaikan harga memori seperti DRAM dan NAND dinilai berpotensi besar menekan margin keuntungan para produsen. Situasi ini kemungkinan besar akan mendorong penyesuaian harga jual kepada konsumen, yang pada akhirnya dapat melemahkan permintaan pasar secara keseluruhan.