Uptodai.com - Strategi bisnis AI Alibaba sedang mengalami perombakan besar-besaran di tengah tekanan finansial yang cukup berat bagi perusahaan. Raksasa e-commerce asal China ini baru saja melaporkan penurunan laba bersih hingga 67 persen yang memicu kekhawatiran investor global. Langkah drastis pun diambil dengan mengalihkan seluruh sumber daya menuju pengembangan teknologi masa depan.

Saham perusahaan yang tercatat di bursa Hong Kong langsung merosot 6 persen pada perdagangan Jumat (20/3/2026). Penurunan tajam ini terjadi setelah laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan perusahaan meleset dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memaksa manajemen untuk melakukan restrukturisasi fundamental pada struktur organisasi mereka.

Di balik angka-angka tersebut, Alibaba melakukan efisiensi besar dengan memangkas jumlah karyawan secara signifikan dalam setahun terakhir. Hingga akhir Desember 2025, perusahaan hanya menyisakan sekitar 128.197 pekerja. Angka ini turun drastis dari tahun sebelumnya yang masih mencatatkan jumlah karyawan sebanyak 194.320 orang.

Dampak Divestasi Ritel dan Efisiensi Tenaga Kerja

Pengurangan tenaga kerja ini merupakan dampak langsung dari keputusan strategis untuk melepas beberapa unit bisnis ritel fisik. Alibaba secara bertahap menjual grup ritel Sun Art pada akhir tahun 2024 untuk mengurangi beban operasional. Langkah ini menandai berakhirnya era ekspansi ritel offline yang sebelumnya sempat menjadi fokus utama.

Selain Sun Art, raksasa teknologi ini juga melepaskan kepemilikan saham mereka di jaringan department store ternama, Intime. Proses divestasi ini sengaja dilakukan untuk membuang unit bisnis yang dianggap terlalu padat karya. Manajemen kini lebih memilih untuk mengalokasikan modal pada sektor yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.

Fenomena pengurangan karyawan ini sebenarnya tidak hanya menimpa Alibaba sendirian di panggung teknologi global. Banyak perusahaan besar dari Silicon Valley hingga Hangzhou juga melakukan langkah serupa demi menjaga stabilitas keuangan. Namun, skala pemangkasan yang dilakukan Alibaba kali ini tercatat jauh lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Fokus Total pada Ekosistem Kecerdasan Buatan

Langkah restrukturisasi ini mempertegas ambisi Alibaba untuk menjadi perusahaan yang berbasis pada teknologi kecerdasan buatan sepenuhnya. Strategi bisnis AI Alibaba mencakup integrasi vertikal yang sangat ambisius di dalam ekosistem digital mereka. Perusahaan ingin menguasai seluruh lini, mulai dari manufaktur semikonduktor hingga model komputasi tingkat tinggi.

Sebagai bagian dari ekspansi tersebut, Alibaba baru saja memperkenalkan layanan agen AI terbaru yang diberi nama Wukong. Layanan ini dirancang khusus untuk membantu pelaku bisnis dalam mengotomatisasi berbagai proses operasional yang kompleks. Kehadiran Wukong diharapkan mampu menjadi mesin pertumbuhan baru di tengah melambatnya bisnis e-commerce konvensional.

Permintaan yang melonjak terhadap infrastruktur digital juga mendorong perusahaan untuk menyesuaikan skema harga mereka. Alibaba memutuskan menaikkan tarif layanan cloud dan penyimpanan data hingga 34 persen. Kebijakan ini diambil guna menutupi kenaikan biaya rantai pasokan global yang semakin mahal dan kompetitif.

Target Ambisius Pendapatan Cloud dan AI

CEO Alibaba, Eddie Wu, menyatakan bahwa transformasi ini adalah kunci untuk mempertahankan dominasi perusahaan di pasar global. Dalam konferensi pendapatan terbarunya, ia menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berinvestasi pada riset dan pengembangan teknologi. Fokus utama mereka adalah menciptakan nilai tambah melalui inovasi digital yang berkelanjutan.

Manajemen menetapkan target yang sangat ambisius untuk sektor komputasi awan dan kecerdasan buatan dalam lima tahun ke depan. Eddie Wu memproyeksikan pendapatan dari sektor cloud dan AI mampu menembus angka US$100 miliar per tahun. Target ini menunjukkan betapa besarnya harapan perusahaan terhadap peralihan fokus bisnis tersebut.

Meskipun harus melewati fase transisi yang menyakitkan dengan PHK massal, Alibaba optimistis dengan masa depan teknologi ini. Mereka percaya bahwa efisiensi yang dilakukan saat ini akan memberikan ruang gerak yang lebih luas untuk berinovasi. Transformasi digital yang menyeluruh menjadi harga mati bagi Alibaba untuk tetap relevan di era persaingan teknologi yang semakin ketat.