Rp2.684 T Habis di HP: Total Belanja Aplikasi Mobile Melonjak
Uptodai.com - Dunia digital terus menunjukkan dominasinya sebagai mesin ekonomi baru. Data terbaru menunjukkan bahwa pengguna smartphone di seluruh dunia, baik pemilik iPhone maupun HP Android, menggelontorkan dana fantastis untuk pembelian di dalam aplikasi dan layanan berlangganan.
Sepanjang tahun 2025, total belanja aplikasi mobile secara global mencapai angka US$155,8 miliar, atau setara dengan Rp2.684 triliun (kurs Rp17.227). Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam bagaimana konsumen bersedia membayar untuk pengalaman digital yang premium.
Belanja Aplikasi Mobile Global Melonjak, Unduhan Justru Turun
Kenaikan belanja pengguna di App Store (Apple) dan Google Play Store (Android) menjadi sorotan utama. Meskipun nilai transaksi melonjak tajam, terdapat paradoks menarik: jumlah unduhan aplikasi dan game justru mengalami penurunan. Total unduhan merosot 2,7 persen menjadi 106,9 miliar pada tahun yang sama.
Fenomena ini menunjukkan keberhasilan strategi monetisasi yang diterapkan oleh para pengembang aplikasi. Mereka berhasil merayu pengguna yang sudah ada agar mau mengeluarkan uang, baik melalui pembelian in-app, fitur premium, atau model langganan bulanan.
Data dari Appfigures memperjelas bahwa fokus industri kini telah bergeser dari sekadar mengejar volume unduhan masif menjadi memaksimalkan nilai dari setiap pengguna yang terinstal. Strategi retensi dan konversi menjadi kunci utama pertumbuhan pendapatan di sektor ini.
Puncak unduhan aplikasi sempat terjadi selama masa pandemi, di mana total instalasi mencapai 135 miliar kali. Sejak periode tersebut, tren unduhan terus melambat, terutama pada kategori game mobile yang mencatat penurunan paling tajam, anjlok 8,6 persen menjadi 39,4 miliar kali unduhan.
Pergeseran Kekuatan: Pendapatan Aplikasi Non-Game Mendominasi
Selama bertahun-tahun, game mobile selalu menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi industri aplikasi. Namun, pada tahun 2025, terjadi pergeseran kekuatan yang fundamental. Aplikasi non-game kini mengambil alih peran sebagai kontributor utama dalam perputaran uang triliunan rupiah ini.
Pertumbuhan belanja pada aplikasi non-game melesat hingga 33,9 persen, menjadikannya sektor yang paling cepat berkembang. Sebaliknya, belanja di aplikasi game hanya tumbuh 10 persen, dan kini hanya menyumbang 46 persen dari total pendapatan keseluruhan.
Lonjakan ini didorong oleh popularitas layanan berbasis langganan (subscription), seperti aplikasi produktivitas, kesehatan, hiburan streaming, hingga kecerdasan buatan (AI). Konsumen semakin terbiasa membayar biaya rutin untuk mendapatkan akses tanpa batas ke konten atau fitur eksklusif.
Aplikasi AI dan Media Sosial Jadi Mesin Uang Baru
Data pendapatan menunjukkan aplikasi-aplikasi yang mendominasi daftar teratas adalah yang menawarkan utilitas tinggi atau hiburan yang adiktif. Di platform iOS, TikTok, YouTube, dan ChatGPT menjadi aplikasi yang membukukan belanja pengguna paling tinggi pada akhir tahun 2025.
Sementara itu, di ekosistem Android, dominasi pendapatan dipegang oleh Google One, TikTok, dan ChatGPT. Keberadaan ChatGPT, baik di iOS maupun Android, menggarisbawahi bagaimana layanan berbasis AI generatif mulai menjadi sumber pengeluaran yang signifikan bagi pengguna.
Dalam hal jumlah unduhan, Gemini dari Google berhasil menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di iOS, sedangkan ChatGPT memimpin di Android. Hal ini memperkuat sinyal bahwa pengguna global kini sangat tertarik pada alat-alat baru yang memanfaatkan teknologi mutakhir untuk mempermudah pekerjaan atau mendapatkan informasi.
Tren ini sekaligus memberikan indikasi jelas bagi para pengembang: masa depan pendapatan aplikasi terletak pada kemampuan untuk menawarkan nilai berkelanjutan melalui model langganan, bukan sekadar mengandalkan pembelian satu kali dalam game.