Uptodai.com - Daftar bandara penyumbang polusi terbesar di dunia kini menjadi sorotan tajam seiring meningkatnya krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan. Sektor penerbangan bahkan diprediksi akan menjadi penghasil emisi karbon terbesar kelima di dunia jika sektor ini dikategorikan sebagai sebuah negara mandiri.

Berdasarkan data terbaru, Dubai International Airport di Uni Emirat Arab menempati urutan teratas sebagai fasilitas penerbangan paling berpolusi. Bandara megah ini tercatat menghasilkan emisi karbon mencapai 23,2 juta ton CO2, sebuah angka yang melampaui emisi banyak kota besar di dunia.

Posisi kedua ditempati oleh Heathrow Airport di Inggris yang menghasilkan emisi sebesar 21 juta ton CO2 per tahun. Sementara itu, Los Angeles International Airport di Amerika Serikat menyusul di peringkat ketiga dengan sumbangan emisi mencapai 18,8 juta ton CO2.

Perbandingan Emisi Bandara dengan Kota Besar

Laporan penelitian tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai perbandingan polusi udara yang dihasilkan oleh infrastruktur aviasi ini. Gabungan emisi dari tiga bandara teratas tersebut ternyata tiga kali lebih besar dibandingkan total emisi yang dihasilkan oleh seluruh Kota Paris.

Data ini menunjukkan betapa masifnya jejak karbon yang ditinggalkan oleh aktivitas penerbangan internasional setiap harinya. Incheon International Airport di Korea Selatan berada di posisi keempat, yang kemudian diikuti oleh John F. Kennedy International Airport di Amerika Serikat pada urutan kelima.

Beberapa bandara besar lainnya yang masuk dalam daftar hitam ini antara lain Hong Kong International Airport, Charles de Gaulle Airport di Prancis, dan Frankfurt Airport di Jerman. Sebagian besar bandara ini merupakan hub transit utama yang melayani ribuan penerbangan lintas benua setiap pekannya.

Ketimpangan Emisi Global di Sektor Aviasi

Penelitian ini juga menemukan fakta bahwa hanya 100 bandara di seluruh dunia yang bertanggung jawab atas dua pertiga total emisi CO2 dari penerbangan penumpang. Hal ini menunjukkan adanya konsentrasi polusi yang sangat tinggi pada titik-titik transportasi tertentu saja.

Bandara-bandara di benua Eropa bahkan tercatat menghasilkan emisi yang jauh lebih besar dibandingkan gabungan seluruh bandara di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika. Kondisi ini memicu perdebatan mengenai keadilan iklim dan tanggung jawab negara maju dalam menekan polusi udara.

Transport and Environment (T&E) menilai industri penerbangan saat ini masih sangat jauh dari target net zero emission yang dicanangkan pada tahun 2050. Ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil menjadi hambatan utama dalam melakukan transformasi hijau di sektor transportasi udara.

Kritik Terhadap Rencana Ekspansi Bandara

Denise Auclair dari T&E menyatakan bahwa meningkatkan kapasitas bandara hanya akan memperburuk kerentanan sektor penerbangan terhadap krisis lingkungan. Menurutnya, membiarkan sektor yang bergantung pada bahan bakar fosil terus berkembang adalah langkah yang keliru secara ekologis.

Ia juga menambahkan bahwa perluasan bandara di wilayah Eropa kini tidak lagi memiliki dasar ekonomi yang kuat jika mempertimbangkan dampak lingkungannya yang merusak. Banyak pihak mendesak agar pemerintah mulai membatasi pembangunan landasan pacu baru demi menekan laju pemanasan global.

Peneliti dari ODI Global, Sam Pickard, menyoroti bahwa emisi sektor penerbangan terus meningkat secara konsisten sejak Perjanjian Paris 2015. Padahal, pada saat yang sama, banyak sektor industri lain justru sudah mulai berhasil menurunkan tingkat emisi karbon mereka secara signifikan.

Pickard mengkritik keras rencana ekspansi berbagai bandara yang tetap berjalan meskipun emisi industri penerbangan semakin mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa janji penggunaan bahan bakar berkelanjutan atau skema kompensasi karbon saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan akar masalah polusi aviasi.

Di sisi lain, pihak Heathrow Airport mengklaim telah memiliki rencana kerja yang jelas untuk mencapai target net zero di masa depan. Mereka berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap ekspansi bandara tetap mematuhi aturan ketat pemerintah Inggris terkait kualitas udara dan ambang batas kebisingan.