Uptodai.com - Setelah penantian panjang, Fenomena Bunga Bangkai Bogor akhirnya mencapai puncaknya. Tumbuhan langka yang dikenal secara ilmiah sebagai Amorphophallus titanum ini mekar sempurna di area koleksi Kebun Raya Bogor, menarik perhatian para botanis dan publik.

Peristiwa langka ini telah dipantau intensif oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak memasuki fase awal mekar pada Minggu, 25 Januari 2026. Lokasi tumbuhnya berada di tebingan Mata Air Kahuripan, salah satu area konservasi penting di Kebun Raya Bogor.

Amorphophallus Titanum Mencapai Klimaks Mekar

Klimaks dari siklus generatif bunga bangkai raksasa ini terjadi pada malam hari, Kamis, 5 Februari 2026. Momen tersebut menjadi penanda keberhasilan upaya konservasi yang dilakukan oleh Kebun Raya Bogor.

Menurut Horticulture Senior Manager PT Mitra Natura Raya, Yudhistira, bunga bangkai tersebut mencapai fase mekar penuh tepat pukul 00.24 WIB. Tongkol bunga menjulang tinggi hingga mencapai 140 cm, sementara diameter seludang bunga tercatat sebesar 56 cm.

“Seludang bunga terbuka sempurna, menandai klimaks dari peristiwa langka yang hanya berlangsung singkat. Ini adalah pemandangan yang sangat ditunggu-tunggu, mengingat siklus mekarnya tidak terduga dan jaraknya bisa sangat lama,” jelas Yudhistira dalam siaran pers yang dirilis pada Sabtu (7/2/2026).

Penantian 12 Tahun dan Pesan Konservasi Tumbuhan Langka

Bunga bangkai yang mekar kali ini merupakan koleksi dengan nomor 382. Koleksi ini ditanam sejak 11 September 1992, dengan bibit yang didatangkan langsung dari habitat aslinya di Jambi, Sumatra.

Menariknya, koleksi nomor 382 ini baru mekar setelah penantian selama 12 tahun, berbeda dengan koleksi bunga bangkai lain (nomor VI.C.489) yang terakhir mekar pada tahun 2020. Setiap mekarnya bunga ini membawa pesan penting.

Yudhistira menambahkan bahwa mekarnya bunga bangkai raksasa bukan sekadar peristiwa botani yang unik, melainkan pengingat kuat akan keajaiban siklus alam. Hal ini sekaligus menekankan pentingnya Konservasi Tumbuhan Langka di Indonesia.

“Setiap mekarnya adalah pesan sunyi dari hutan hujan. Ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian flora eksotis harus terus ditingkatkan,” tambahnya.

Perbedaan Unik dan Tantangan Penyerbukan

Peneliti Ahli Madya BRIN, Dian Latifah, mendorong masyarakat untuk datang melihat langsung fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) memiliki perbedaan signifikan dengan jenis bunga bangkai lain seperti suweg (Amorphophallus paeniifolius) atau bahkan Rafflesia.

Meskipun disebut bunga bangkai raksasa, Dian menjelaskan bahwa bunga jantan dan betina sebenarnya berukuran kecil. Keduanya mengelompok di bagian bawah spadiks yang menjulang tinggi, berbeda dengan Rafflesia yang seluruhnya merupakan bunga tunggal besar.

Tantangan utama dalam pelestarian di Kebun Raya adalah penyerbukan. Di alam liar, proses penyerbukan dibantu oleh serangga yang harus terbang puluhan kilometer membawa serbuk sari dari bunga lain yang mekar bersamaan.

“Karena bunga jantan dan betinanya tidak masak bersamaan di satu individu, di Kebun Raya Bogor proses penyerbukan harus dibantu manusia atau hand pollination. Ini adalah upaya krusial agar bunga ini dapat menghasilkan buah dan biji,” papar Dian Latifah.

General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, menegaskan bahwa mekarnya Amorphophallus titanum merupakan momen yang sangat berarti bagi dunia botani. Fenomena ini tidak hanya unik, tetapi juga menjadi bukti nyata peran strategis Kebun Raya Bogor dalam menjaga keragaman hayati nasional.