28 Juta Warga Alami Gejala Depresi, Ini Kelompok Paling Rentan
Uptodai.com - Laporan terbaru mengenai kondisi kesehatan mental di Indonesia memunculkan data yang mengejutkan: lebih dari 28 juta warga alami gejala depresi dan kecemasan. Angka yang fantastis ini segera menjadi sorotan, mengingat beban masalah kejiwaan di Tanah Air tergolong besar berdasarkan berbagai riset yang dilakukan oleh lembaga kesehatan.
Meskipun demikian, tingginya angka tersebut tetap mencerminkan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian lebih luas dan penanganan yang lebih sungguh-sungguh dari berbagai pihak. Data ini menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan isu besar yang dialami oleh jutaan orang di Indonesia.
Membedah Angka: Gejala vs. Diagnosis Klinis
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menilai angka yang beredar tersebut memang masuk akal jika merujuk pada beban masalah kesehatan mental yang ada. Namun, ia menekankan pentingnya memahami konteks data ini secara hati-hati agar tidak terjadi salah tafsir di masyarakat.
Angka 28 juta orang, menurut dr. Riati, perlu dipahami sebagai populasi yang menunjukkan gejala-gejala awal depresi atau kecemasan, bukan jumlah penderita gangguan jiwa yang telah terdiagnosis secara klinis. Gejala depresi dan kecemasan tidak serta-merta berarti seseorang telah mengalami gangguan jiwa berat.
Definisi masalah kejiwaan yang digunakan dalam survei sangat menentukan besarnya angka. Hal ini termasuk apakah yang dihitung adalah gejala atau diagnosis gangguan mental, serta dari tahun berapa data tersebut diambil. Terlepas dari definisinya, data ini tetap menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat.
Siapa Paling Berisiko? Kelompok Rentan Masalah Kesehatan Mental
Dr. Riati menjelaskan, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan kelompok lainnya. Kerentanan ini dipicu oleh kombinasi faktor biologis, sosial, dan tekanan lingkungan yang dihadapi sehari-hari.
Anak, Remaja, dan Tekanan Akademik
Kelompok anak dan remaja berada dalam daftar teratas. Mereka masih berada dalam fase krusial perkembangan emosi dan identitas diri. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan terhadap berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik yang tinggi, persaingan pergaulan, hingga perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah maupun dunia maya.
Terlebih lagi, paparan masif terhadap media sosial sering kali memicu perbandingan diri yang tidak realistis, sehingga memperbesar risiko kecemasan dan rasa tidak aman pada diri mereka.
Usia Produktif dan Beban Kerja Berlapis
Kelompok usia produktif atau pekerja juga menghadapi risiko serupa, bahkan dengan kompleksitas yang berbeda. Beban kerja yang berat, target perusahaan yang ketat, persaingan antarkolega, hingga tekanan ekonomi keluarga kerap memicu stres kronis.
Tekanan-tekanan ini dapat berakumulasi dan menjelma menjadi kecemasan berkepanjangan serta gejala depresi. Mereka dituntut untuk selalu tampil prima, sementara ruang untuk mengelola emosi dan mencari bantuan sering kali terbatas.
Selain itu, perempuan dinilai lebih rentan akibat faktor biologis, seperti fluktuasi hormonal. Mereka juga sering kali memikul peran ganda yang berat, baik di rumah sebagai pengurus keluarga maupun di tempat kerja, ditambah potensi tekanan relasi dan kekerasan psikologis yang masih marak terjadi.
Faktor Lingkungan dan Akses Layanan
Masyarakat perkotaan juga termasuk dalam kelompok berisiko tinggi. Kehidupan dalam ritme yang sangat cepat, tingkat kompetisi yang tinggi, biaya hidup mahal, serta relasi sosial yang cenderung individualistik menciptakan lingkungan yang penuh tekanan.
Tekanan ekonomi dan sosial, seperti masalah keuangan, pengangguran, konflik keluarga, dan tuntutan sosial yang berlapis, turut memperbesar risiko masalah mental. Seseorang yang menghadapi kesulitan finansial kronis, misalnya, akan lebih mudah terperosok dalam gejala depresi.
Kelompok lain yang tak kalah rentan adalah lansia yang menghadapi isolasi sosial dan penurunan fungsi tubuh, serta masyarakat dengan akses layanan kesehatan mental yang terbatas. Stigma yang masih tinggi terhadap isu kejiwaan membuat banyak orang enggan mencari bantuan profesional, sehingga memperparah kondisi yang mereka alami.