Uptodai.com - Di tengah sulitnya mencari pekerjaan kerah putih yang stabil, banyak Gen Z pilih profesi tukang las sebagai jalur karier menjanjikan. Pilihan ini mungkin terdengar tidak lazim, tetapi data menunjukkan bahwa pekerjaan berbasis keterampilan fisik menawarkan stabilitas finansial yang luar biasa. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran meluasnya otomatisasi dan Kecerdasan Buatan (AI) di berbagai sektor.

Salah satu contoh nyata adalah Paredes, seorang pemuda yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan tinggi karena kendala biaya dan ketiadaan beasiswa. Daripada menumpuk utang pendidikan, ia memilih langsung terjun ke dunia kerja, mencari keterampilan yang bisa memberinya keamanan ekonomi jangka panjang.

Ancaman AI dan Daya Tarik Gaji Miliaran

Paredes sempat bekerja sebagai teknisi listrik, sebuah profesi yang menuntut mobilitas tinggi. Ia harus menghabiskan enam hari seminggu bolak-balik antara Katy, Texas, dan Louisiana, sebuah jadwal yang menggerus waktu pribadinya. Demi mendapatkan waktu keluarga yang lebih seimbang, ia beralih ke pengelasan.

Faktanya, keputusan Paredes membuahkan hasil fantastis. Penghasilan tahunannya kini mampu menembus US$100.000, atau setara dengan Rp1,6 miliar. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk membeli rumah dan menafkahi keluarganya dengan layak, membuktikan bahwa jalur non-tradisional bisa menjadi mesin mobilitas ekonomi yang kuat.

“Saya punya etos kerja yang bagus dan cepat belajar. Saya coba, dan ternyata cocok,” ujar Paredes. Ia menemukan bahwa profesi ini tidak hanya membayar mahal, tetapi juga memberikan fleksibilitas waktu yang ia idamkan, sesuatu yang sulit didapatkan dalam pekerjaan korporat.

Kekhawatiran Otomatisasi: Mengapa Kerah Biru Lebih Aman?

Di saat banyak pekerja kerah putih (white-collar) mulai panik akan ancaman Kecerdasan Buatan yang berpotensi mengambil alih tugas-tugas administratif, Paredes merasa profesinya relatif aman. Keyakinan ini sejalan dengan hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang menunjukkan mayoritas warga AS khawatir AI akan menghilangkan banyak lapangan kerja.

Kekhawatiran tersebut mendorong minat pada pekerjaan keahlian yang sulit diotomatisasi, seperti pengelasan, perpipaan (plumbing), hingga penataan lanskap (landscaping). Profesi-profesi ini membutuhkan koordinasi fisik, keterampilan teknis, dan kemampuan adaptasi di lapangan yang sangat sulit ditiru oleh algoritma generatif.

Studi yang dilakukan oleh Pearson pada 2023 memperkirakan bahwa AI berpotensi mengambil hingga 46% tugas di sejumlah pekerjaan kerah putih pada 2032. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dampak pada peran kerah biru yang paling terdampak, yang hanya sekitar 27%.

Menurut Paredes, meskipun robot sudah banyak digunakan di pabrik-pabrik, mereka tetap membutuhkan manusia untuk mengoperasikan, memprogram, dan memastikan kualitas kerja. “Kita masih butuh orang fisik, manusia, supaya robot-robot itu bisa bekerja,” tegasnya. Artinya, pekerjaan berbasis keterampilan fisik dan teknis dinilai jauh lebih terjamin di masa depan (future-proof).

Pergeseran Prioritas: Stabilitas dan Keseimbangan Hidup

Penasihat keuangan asal Connecticut, Bill Shafransky, menilai bahwa kekecewaan anak muda terhadap dunia kerja tradisional sudah muncul bahkan sebelum AI marak. Namun, kehadiran AI yang makin masif di berbagai industri mempercepat proses koreksi arah karier ini.

Ada tiga pendorong utama mengapa Generasi Z kini melirik profesi seperti tukang las, meninggalkan stigma bahwa kuliah adalah satu-satunya jalan menuju sukses. Pertama, keamanan kerja. Profesi keahlian seperti las dan plumbing lebih sulit digantikan teknologi generatif dan memberikan keamanan ekonomi yang jelas.

Kedua, tujuan utama mereka adalah work-life balance. Jika pekerjaan menggerus kehidupan pribadi dan mental, wajar jika mereka mencari peran yang lebih selaras dengan kebutuhan hidup, bahkan jika itu berarti meninggalkan meja kantor.

Ketiga, jalur nontradisional kini patut dipertimbangkan secara serius. Bagi mereka yang ingin cepat bekerja, menghindari utang pendidikan yang mencekik, dan mencari stabilitas jangka panjang, pekerjaan keahlian teknis menawarkan solusi yang stabil dan berpenghasilan tinggi, menantang anggapan lama tentang definisi karier yang sukses.