Uptodai.com - Kegemaran terhadap koleksi jam tangan vintage Ardina Rasti bersama suaminya, Arie Dwi Andhika, kini tengah menjadi sorotan publik. Pasangan selebritas ini mengungkapkan bahwa mengoleksi arloji lawas bukan sekadar hobi untuk mempercantik penampilan semata. Bagi mereka, setiap unit jam klasik yang berhasil didapatkan memiliki nilai seni tinggi sekaligus instrumen investasi jangka panjang yang menjanjikan.

Saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rasti membagikan kisah menarik di balik hobinya berburu barang antik tersebut. Ia mengaku memiliki koleksi jam tangan yang diproduksi pada era 1980-an, bahkan ada yang berasal dari tahun 1940-an. Arie Dwi Andhika pun menyetujui hal tersebut dan menegaskan bahwa jumlah koleksi mereka kini sudah semakin bertambah banyak seiring berjalannya waktu.

Nilai Seni dan Investasi Jam Tangan Kuno

Menurut Rasti, para pencinta arloji jadul memiliki komunitas tersendiri yang sangat solid di Indonesia. Setiap jam tangan kuno diyakini menyimpan cerita sejarah yang unik, seperti jam yang dahulu dirancang khusus untuk para pilot militer. Menariknya, ia menilai kualitas mesin jam zaman dahulu justru jauh lebih kokoh dan tahan lama dibandingkan dengan produk modern saat ini.

Fenomena investasi barang vintage memang sedang naik daun di kalangan kolektor karena nilainya yang terus melonjak tinggi seiring kelangkaannya. Banyak orang mulai menyadari bahwa barang-barang mekanis dari masa lalu memiliki ketahanan yang luar biasa jika dirawat dengan konsisten. Hal inilah yang membuat keputusan finansial pasangan ini dalam mengoleksi jam kuno dinilai sangat cerdas serta visioner oleh para pengamat mode.

Tak Gengsi Berburu di Pasar Loak

Meskipun memiliki koleksi barang antik bernilai tinggi, Rasti tidak ragu untuk berburu langsung ke pasar loak demi mendapatkan harga terbaik. Ia memegang prinsip hidup hemat dan fungsional, di mana dirinya selalu membandingkan harga sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Untuk urusan belanja harian, ia lebih memilih platform online, kecuali untuk barang seperti sepatu yang harus dicoba secara langsung.

Sikap bersahaja ini juga tercermin dari kebiasaan berpakaian wanita berusia 38 tahun tersebut saat bekerja di industri hiburan. Saat masih aktif memandu program televisi populer “Bedah Rumah”, Rasti kerap mengenakan pakaian yang harganya sangat murah meriah. Publik bahkan dibuat terkejut saat mengetahui bahwa baju yang ia kenakan saat syuting hanya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 saja.

Keputusan menggunakan pakaian murah ini bukan tanpa alasan, melainkan demi mendukung kelancaran pekerjaannya di lapangan yang menuntut aktivitas fisik berat dan kotor. Dengan memakai baju murah di bawah Rp50.000, ia merasa bebas bergerak secara aktif tanpa perlu khawatir pakaiannya akan rusak atau terkena noda lumpur. Baginya, kenyamanan fisik saat bekerja jauh lebih utama dibandingkan harus memaksakan diri mengikuti tren fesyen mewah yang membatasi ruang gerak.

Mengutamakan Produk Lokal dan Kenyamanan

Seiring bertambahnya usia, Rasti mengaku sudut pandangnya terhadap gaya hidup dan penampilan luar telah banyak mengalami pergeseran. Kini, ia jauh lebih mencintai produk-produk lokal buatan desainer dalam negeri yang tidak kalah saing dari segi kualitas. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa rasa nyaman saat mengenakan sesuatu jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar gengsi semata.