Uptodai.com - Konser Comeback BTS Gwanghwamun yang seharusnya menjadi momen perayaan penuh suka cita justru berujung pada gelombang protes dari masyarakat Seoul. Acara yang digelar pada 21 Maret 2026 tersebut menandai kembalinya grup fenomenal ini setelah masa hiatus panjang selama hampir empat tahun. Sayangnya, euforia kembalinya RM dan kawan-kawan harus ternoda oleh keluhan warga yang merasa hak-hak publik mereka terabaikan.

Penutupan jalan besar-besaran di sekitar area ikonik tersebut memicu kemacetan parah yang melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial di jantung ibu kota Korea Selatan. Banyak pihak menyayangkan pemilihan lokasi yang sangat padat tanpa mitigasi dampak sosial yang matang. Akibatnya, ribuan orang yang tidak berkepentingan dengan konser tersebut harus terjebak dalam situasi sulit selama berjam-jam.

Gangguan Jadwal Pernikahan dan Kerugian Logistik

Salah satu dampak paling nyata dirasakan oleh pasangan yang menggelar acara pernikahan di sekitar kawasan Gwanghwamun pada hari tersebut. Seorang pengantin pria yang diidentifikasi sebagai “A” mengungkapkan kekecewaannya karena harus memajukan jadwal akad nikah satu jam lebih awal. Langkah darurat ini diambil demi menghindari blokade jalan yang semakin ketat menjelang dimulainya konser.

Perubahan jadwal yang mendadak ini menyebabkan kekacauan bagi para tamu undangan yang sebagian besar datang dari luar kota. Banyak tamu yang akhirnya terlambat dan melewatkan momen sakral karena terjebak macet atau kesulitan menemukan akses jalan alternatif. Kondisi ini membuat suasana pernikahan yang seharusnya khidmat menjadi penuh tekanan dan kepanikan.

Masalah tidak berhenti di situ, karena sektor logistik juga mengalami hambatan serius akibat sterilisasi area untuk reuni BTS di Seoul tersebut. Beberapa vendor katering dan pengiriman bunga dilaporkan membatalkan pesanan secara sepihak karena armada mereka tidak diizinkan masuk ke lokasi. “A” menilai bahwa ruang publik seolah-olah disita secara paksa oleh penyelenggara tanpa memikirkan kepentingan warga lainnya.

Ancaman Gugatan Hukum dari Warga Terdampak

Keluhan yang lebih keras datang dari seorang pengantin lain bermarga Son yang kini sedang mempertimbangkan langkah hukum serius. Son mengaku telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk memesan lokasi pernikahan di Gwanghwamun karena akses transportasinya yang strategis bagi tamu. Namun, pada hari pelaksanaan, akses tersebut justru ditutup total demi kepentingan panggung besar BTS.

Ia merasa sangat dirugikan secara materiil maupun imateriil karena acara pribadinya dianggap kalah prioritas dibanding acara hiburan. Son bersama tim hukumnya kini sedang mengumpulkan bukti-bukti kerugian untuk melayangkan gugatan kepada pihak penyelenggara. Ia menegaskan bahwa penggunaan fasilitas publik untuk acara komersial skala besar tidak boleh mengorbankan hak warga sipil yang sudah terjadwal jauh-jauh hari.

Kritik Tajam untuk HYBE dan Pemerintah Kota Seoul

Munculnya berbagai masalah ini memicu sentimen negatif di media sosial terhadap pemerintah kota Seoul dan HYBE selaku agensi yang menaungi BTS. Publik menilai koordinasi antara pemerintah dan penyelenggara sangat buruk dalam mengantisipasi dampak konser BTS 2026 ini. Banyak yang mempertanyakan mengapa konser tidak dipindahkan ke stadion yang memiliki fasilitas manajemen kerumunan lebih baik.

Gwanghwamun Square memang merupakan lokasi bersejarah, namun secara teknis bukan tempat yang ideal untuk konser dengan skala ratusan ribu penonton. Para pengamat perkotaan menyebut bahwa memaksakan acara di pusat aktivitas warga hanya akan menciptakan gesekan sosial. Kini, desakan agar penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian vendor dan warga terus mengalir deras di berbagai platform digital.

Masyarakat Korea Selatan yang dikenal sangat menghargai ketertiban umum merasa bahwa kejadian ini menjadi preseden buruk bagi pengelolaan acara di masa depan. Mereka menuntut adanya evaluasi total terhadap kebijakan pemberian izin penggunaan ruang terbuka publik untuk konser musik. Jika tidak ditangani dengan baik, kasus ini dikhawatirkan akan merusak citra positif kembalinya BTS ke panggung hiburan.

Permintaan Maaf BTS di Tengah Kemeriahan Panggung

Di tengah keriuhan panggung, para anggota BTS sebenarnya sempat menyadari adanya ketidaknyamanan yang dialami oleh masyarakat sekitar. Suga menyampaikan rasa hormatnya bisa tampil di lokasi bersejarah tersebut, namun ia juga menyelipkan pesan apresiasi bagi warga yang terdampak. V menambahkan bahwa tampil di Gwanghwamun adalah mimpi yang menjadi kenyataan, meski ia tahu ada pengorbanan besar di baliknya.

Menjelang akhir pertunjukan, seluruh anggota BTS secara kolektif menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada warga Seoul. Mereka menyadari bahwa kehadiran mereka telah menyebabkan gangguan mobilitas dan aktivitas harian banyak orang. Permintaan maaf ini disambut haru oleh para penggemar, namun tampaknya belum cukup untuk meredam amarah warga yang mengalami kerugian finansial nyata.

Pihak HYBE sendiri hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait ancaman gugatan hukum yang dilayangkan oleh warga. Publik kini menunggu langkah konkret dari agensi dan pemerintah kota untuk menyelesaikan sengketa ini secara adil. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa kemegahan sebuah konser tidak boleh mengabaikan etika penggunaan ruang publik dan kenyamanan masyarakat luas.