Uptodai.com - Kondisi terkini korban tabrak maut Singapura, Raisha, dilaporkan mulai stabil meski saat ini masih menjalani perawatan intensif di Singapore General Hospital (SGH). Di tengah masa sulit tersebut, simpati terus mengalir bagi keluarga korban, termasuk bantuan fasilitas tempat tinggal selama di luar negeri.

Manajemen jaringan Hotel Ascott secara resmi menawarkan fasilitas menginap tanpa biaya bagi suami Raisha, Ashar Ardianto. Tawaran ini bertujuan memberikan kemudahan bagi Ashar agar bisa tetap mendampingi sang istri yang masih berjuang pulih di rumah sakit. Pihak manajemen menyampaikan pernyataan resmi ini pada 11 Februari 2026 sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Dukungan Akomodasi Gratis untuk Keluarga Korban

Manajemen Ascott menyatakan duka cita mendalam atas tragedi yang menimpa warga negara Indonesia tersebut di kawasan wisata Singapura. Mereka berkomitmen memberikan dukungan penuh melalui penyediaan akomodasi gratis selama masa perawatan medis berlangsung. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban mental dan finansial yang sedang dihadapi oleh keluarga.

Kakak kandung Raisha menyambut baik bantuan tersebut dan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak hotel. Keluarga merasa sangat terbantu karena akses menuju rumah sakit menjadi lebih mudah dengan adanya tempat tinggal yang layak. Dukungan ini menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarga di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura juga terus memantau perkembangan kasus korban tabrak maut Singapura ini secara berkala. KBRI memastikan bahwa hak-hak warga negara Indonesia terpenuhi, baik dari sisi medis maupun pendampingan hukum. Koordinasi antara pihak keluarga, rumah sakit, dan otoritas setempat masih berjalan intensif hingga saat ini.

Update Kondisi Medis Raisha di Singapura

Hingga saat ini, Raisha masih berada di bawah pengawasan ketat tim dokter Singapore General Hospital karena luka-luka yang dideritanya. Meski sudah sadar, kondisi fisiknya dilaporkan masih sangat lemah sehingga belum memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh. Keluarga sempat berencana membawa Raisha pulang ke Indonesia untuk perawatan lanjutan.

Namun, tim medis menyatakan bahwa risiko pemindahan pasien saat ini masih terlalu tinggi bagi keselamatan nyawa korban. Oleh karena itu, Raisha akan tetap berada di Singapura sampai kondisinya benar-benar dinyatakan stabil oleh dokter spesialis. Sementara itu, jenazah Sheyna yang juga menjadi korban dalam insiden ini telah dipulangkan ke Jakarta pada 8 Februari lalu.

Proses pemakaman Sheyna berlangsung dengan penuh haru di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada hari yang sama dengan kepulangannya. Kehilangan salah satu anggota keluarga ini meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan dan alumni Universitas Indonesia. Dukungan moral terus mengalir melalui berbagai platform media sosial bagi keluarga yang ditinggalkan.

Proses Hukum dan Penangkapan Tersangka

Otoritas kepolisian Singapura bergerak cepat dengan menangkap seorang perempuan berusia 38 tahun yang diduga sebagai pelaku utama. Tersangka diamankan pada 6 Februari atas tuduhan mengemudi tanpa pertimbangan yang wajar hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Saat ini, status pengemudi tersebut sudah resmi menjadi tersangka dalam penyelidikan yang masih berlangsung.

Berdasarkan laporan media lokal, kecelakaan tragis ini terjadi di area parkir dekat Buddha Tooth Relic Temple yang merupakan kawasan padat pengunjung. Pengemudi diduga kehilangan kendali saat hendak berbelok keluar dari lokasi parkir hingga menghantam para korban. Foto-foto di lokasi kejadian sempat viral dan memicu perdebatan mengenai keamanan pejalan kaki di area tersebut.

Selain bantuan akomodasi, solidaritas juga datang dari Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) yang menginisiasi penggalangan dana medis. Mengingat biaya perawatan di Singapura yang cukup tinggi, donasi ini diharapkan mampu menutupi kebutuhan pengobatan Raisha. Informasi mengenai penyaluran bantuan telah disebarkan secara luas melalui akun resmi Instagram organisasi tersebut.

Kasus korban tabrak maut Singapura ini menjadi pengingat penting mengenai pentingnya perlindungan maksimal bagi WNI yang berada di luar negeri. Publik berharap proses hukum berjalan adil dan transparan bagi seluruh korban yang terdampak. Sementara itu, doa dan dukungan terus mengalir agar Raisha dapat segera pulih dan kembali berkumpul bersama keluarga di tanah air.