Uptodai.com - Maroko Juara Piala Afrika 2025 secara mengejutkan setelah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) resmi membatalkan hasil pertandingan final. Keputusan drastis ini mengubah kedudukan yang semula dimenangkan oleh Senegal menjadi kemenangan mutlak bagi tim Singa Atlas dengan skor 3-0.

CAF merilis pernyataan resmi pada Selasa malam, tepat 57 hari setelah laga final usai digelar. Dewan banding otoritas sepak bola Afrika tersebut menyatakan bahwa Senegal kalah diskualifikasi dalam pertandingan yang sebenarnya mereka menangi dengan skor 1-0 pada Januari lalu.

Langkah hukum ini diambil setelah Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) mengajukan banding atas tindakan provokatif timnas Senegal. Para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan selama waktu normal sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit yang memimpin jalannya laga.

Kronologi Insiden Walk-Out di Final AFCON

Pertandingan final yang berlangsung panas tersebut sempat terhenti selama kurang lebih 16 menit pada masa injury time babak kedua. Ketegangan memuncak saat wasit memberikan hadiah penalti kepada Maroko, hanya beberapa menit setelah gol penentu kemenangan Senegal dianulir.

Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw, terlihat mendorong anak asuhnya untuk keluar dari lapangan sebagai bentuk protes keras. Menariknya, kapten tim Sadio Mane menjadi satu-satunya pemain yang tetap bertahan di area permainan saat rekan-rekannya menuju ruang ganti.

Setelah drama penundaan yang cukup lama, para pemain Senegal akhirnya bersedia kembali melanjutkan pertandingan. Meski Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti untuk Maroko, Pape Gueye sempat mencetak gol pada menit ke-94 yang membawa Senegal merayakan gelar juara sesaat.

Alasan CAF Menetapkan Maroko Juara Piala Afrika 2025

Dewan banding CAF menemukan bahwa tindakan timnas Senegal memenuhi unsur pelanggaran berat dalam regulasi kompetisi. Otoritas tertinggi sepak bola Afrika tersebut merujuk pada Pasal 82 dan 84 dalam peraturan resmi AFCON yang mengatur tentang integritas pertandingan.

Berdasarkan Pasal 82, sebuah tim akan langsung dinyatakan kalah jika meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin resmi dari wasit. Tindakan Senegal yang melakukan aksi mogok bermain dianggap sebagai pelanggaran disiplin yang tidak bisa ditoleransi dalam turnamen resmi.

Selanjutnya, Pasal 84 menegaskan bahwa tim yang dinyatakan kalah akibat walk-out akan dianggap kalah dengan skor telak 3-0. Aturan ini tetap berlaku kecuali jika tim lawan sudah unggul dengan skor yang lebih besar saat insiden terjadi di lapangan hijau.

Reaksi FIFA dan Masa Depan Sepak Bola Afrika

Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang turut hadir langsung dalam laga final tersebut memberikan komentar pedas terkait insiden memalukan ini. Ia menegaskan bahwa keputusan pemain Senegal meninggalkan lapangan di tengah laga merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.

Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) belum memberikan tanggapan resmi mengenai keputusan pembatalan gelar juara mereka. Namun, situasi ini diprediksi akan memicu ketegangan diplomatik olahraga yang lebih luas antara Maroko dan Senegal di masa mendatang.

Keputusan ini menjadi sejarah baru dalam sepak bola Afrika, di mana gelar juara berpindah tangan di meja hijau setelah turnamen selesai. Publik sepak bola kini menanti apakah Senegal akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) demi memulihkan status mereka.