Uptodai.com - Mudik Lebaran ekstrem di Bangladesh kembali menjadi sorotan dunia saat jutaan orang bersiap merayakan Idul Fitri di kampung halaman masing-masing. Stasiun Kereta Api Tongi di Gazipur, Dhaka, berubah menjadi lautan manusia yang saling berebut ruang demi bisa pulang. Pemandangan ini memperlihatkan betapa tingginya antusiasme warga meskipun harus bertaruh nyawa di atas gerbong besi.

Para penumpang terlihat nekat memanjat atap gerbong kereta api karena bagian dalam sudah tidak mampu lagi menampung beban. Mereka duduk berdesakan di atas atap, sementara sebagian lainnya berdiri dengan hanya berpegangan pada sisi badan gerbong yang melaju. Fenomena ini seolah menjadi pemandangan rutin yang tidak terelakkan setiap kali musim libur hari raya tiba di negara tersebut.

Bangladesh memiliki populasi Muslim yang mencapai sekitar 85 persen dari total penduduknya, sehingga Idul Fitri menjadi momentum perjalanan terbesar nasional. Ribuan orang memadati terminal feri dan stasiun kereta sejak dini hari untuk menghindari antrean yang semakin mengular. Namun, keterbatasan armada transportasi publik membuat banyak warga akhirnya memilih cara-cara yang sangat berisiko bagi keselamatan.

Nostalgia Transportasi Era 90-an di Indonesia

Suasana mencekam namun penuh perjuangan ini mengingatkan banyak orang pada potret transportasi di Indonesia beberapa dekade silam. Kondisi mudik Lebaran ekstrem di Bangladesh memang sangat identik dengan wajah perkeretaapian tanah air pada era 1990-an. Saat itu, atap kereta api di Indonesia juga sering dipenuhi oleh penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam gerbong.

Transformasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah Indonesia kini telah menghapus pemandangan tersebut dari jalur rel kereta api nasional. Sebaliknya, di Bangladesh, tantangan infrastruktur dan ledakan jumlah penduduk masih menjadi kendala utama dalam mengatur arus mudik yang aman. Warga tetap memilih moda transportasi ini karena dianggap paling efektif untuk menjangkau daerah terpencil dengan biaya terjangkau.

Banyak pekerja migran di ibu kota Dhaka yang rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan posisi di atas kereta. Bagi mereka, risiko jatuh atau mengalami kecelakaan seolah tertutupi oleh keinginan kuat untuk merayakan lebaran bersama orang tua. Pihak keamanan stasiun seringkali kewalahan menghalau massa yang terus merangsek masuk ke area peron yang sudah sangat sesak.

Perjuangan Berhari-hari demi Bertemu Keluarga

Berdasarkan catatan dari Banglapedia, antrean panjang di berbagai titik transportasi utama merupakan bagian dari realitas sosial yang sulit dihindari setiap tahun. Banyak pemudik yang harus menempuh perjalanan melelahkan selama berjam-jam hingga berhari-hari untuk sampai ke desa tujuan. Rasa lelah dan panasnya cuaca seolah sirna ketika mereka membayangkan momen hangat berkumpul di kampung halaman.

Aspek keselamatan seringkali menjadi prioritas nomor dua dibandingkan keinginan kuat untuk merayakan hari kemenangan di tanah kelahiran. Meskipun otoritas setempat terus berupaya mengatur arus penumpang, volume manusia yang luar biasa besar membuat pengawasan ketat menjadi sulit dilakukan. Gerbong-gerbong kereta pun terus melaju dengan muatan yang jauh melebihi kapasitas resmi demi mengangkut seluruh warga.

Hingga saat ini, potret perjalanan tersebut tetap menjadi simbol perjuangan masyarakat Bangladesh dalam menjaga tradisi keagamaan mereka. Dunia internasional seringkali melihat fenomena ini sebagai salah satu perjalanan kereta api paling berbahaya di planet ini. Namun bagi warga lokal, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus karena pekerjaan di kota besar.