Uptodai.com - Aktris berbakat Nirina Zubir film Jangan Buang Ibu menjadi sorotan setelah dirinya didapuk memerankan karakter yang sangat menantang. Ia harus bertransformasi menjadi sosok Ristiana, seorang ibu yang telah menginjak usia 70 tahun. Peran ini menuntut pendalaman emosi yang luar biasa mengingat rentang usia karakter yang jauh dari usia aslinya.

Nirina mengaku sempat diliputi keraguan saat pertama kali menerima tawaran naskah tersebut dari pihak rumah produksi. Membayangkan dirinya harus berakting sebagai lansia memberikan tekanan tersendiri bagi peraih Piala Citra ini. Ia merasa memerankan usia yang belum pernah ia alami secara pribadi adalah sebuah ujian besar bagi karier aktingnya.

Tantangan Fisik dan Mental Nirina Zubir

Meskipun sudah malang melintang di dunia seni peran, Nirina menyebut karakter Ristiana sebagai salah satu yang tersulit. Ia harus mempelajari gerak-gerik, cara berjalan, hingga nada bicara seorang wanita yang sudah melewati tujuh dekade kehidupan. Tantangan ini ia hadapi dengan melakukan riset mendalam agar penampilannya terlihat organik di layar lebar.

Sutradara Hadrah Daeng Ratu memberikan arahan intensif untuk membantu Nirina masuk ke dalam jiwa karakter tersebut. Selain aspek fisik, transisi emosional sebagai seorang ibu tua yang menghadapi berbagai dinamika keluarga menjadi fokus utama. Nirina berharap totalitasnya dalam film ini dapat menyentuh perasaan para penonton secara personal.

Visi Agung Saputra dalam Film Jangan Buang Ibu

Produser LEO Pictures, Agung Saputra, menjelaskan bahwa film ini membawa pesan mendalam tentang arti penting seorang ibu. Baginya, sosok ibu adalah pusat gravitasi dalam sebuah keluarga yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Melalui karya ini, ia ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali merenungkan hubungan mereka dengan orang tua.

Agung mengungkapkan bahwa ide cerita ini lahir dari keinginan menghadirkan tontonan yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Ia percaya bahwa tema keluarga selalu memiliki tempat spesial di hati penonton tanah air. Kehadiran Yasmin Napper sebagai executive producer juga memberikan perspektif segar dalam proses produksi film drama ini.

Pesan Moral untuk Generasi Muda

Agung Saputra menekankan bahwa ibu adalah rumah tempat anak-anak pulang, baik di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Ia ingin pesan ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar tetap menghormati dan menyayangi ibu mereka. Film ini diharapkan menjadi refleksi bagi setiap anak untuk tidak mengabaikan sosok yang telah membesarkan mereka.

Proses kreatif pembuatan film ini melibatkan kolaborasi emosional antara jajaran pemain dan tim produksi. Semua pihak berusaha memberikan yang terbaik agar esensi cerita tentang kasih sayang ibu dapat tersampaikan dengan sempurna. Film ini dijadwalkan akan segera menyapa pencinta sinema Indonesia dengan narasi yang kuat dan mengharukan.