Uptodai.com - Penyebab saham Pop Mart anjlok hingga lebih dari 20 persen di bursa Hong Kong menjadi sorotan tajam para investor global belakangan ini. Fenomena ini terbilang kontradiktif mengingat popularitas karakter Labubu yang tengah merajai pasar mainan koleksi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun produk mereka laku keras di pasaran, sentimen negatif justru menyelimuti pergerakan harga saham perusahaan asal Beijing tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Pop Mart sebenarnya mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan sepanjang tahun 2025. Perusahaan melaporkan pendapatan sebesar 37,12 miliar yuan atau setara dengan Rp81 triliun, meningkat 185 persen dari tahun sebelumnya. Namun, angka fantastis ini ternyata belum mampu memuaskan ekspektasi tinggi para pelaku pasar modal di lantai bursa.

Analisis Penurunan Saham Pop Mart di Tengah Tren Labubu

Analis dari Morningstar, Jeff Zhang, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba tahunan perusahaan sebenarnya meleset dari perkiraan konsensus para analis. Para investor melihat adanya perlambatan pertumbuhan yang cukup signifikan pada kuartal keempat tahun 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai seberapa lama tren kegilaan terhadap Labubu dapat bertahan di pasar global.

Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan model bisnis Pop Mart jika hanya mengandalkan satu atau dua karakter ikonik saja. Ketakutan akan kejenuhan pasar menjadi faktor utama yang menekan harga saham perusahaan. Selain itu, realisasi kinerja yang tidak mencapai target konsensus memberikan sinyal waspada bagi para pemegang saham jangka panjang.

Dampak Pemangkasan Dividen bagi Investor

Kebijakan internal perusahaan mengenai pembagian keuntungan juga menjadi pemicu aksi jual besar-besaran oleh para investor. Pop Mart memutuskan untuk memangkas rasio pembagian dividen menjadi 25 persen pada tahun 2025, turun dari 35 persen pada tahun sebelumnya. Langkah ini dianggap sebagai sinyal negatif bagi mereka yang mengharapkan imbal hasil tunai secara rutin.

Di sisi lain, Pop Mart saat ini tengah gencar melakukan diversifikasi bisnis dengan merambah ke sektor lisensi dan pengoperasian taman hiburan. Namun, Jeff Zhang menilai bahwa risiko pelaksanaan dari strategi baru ini masih tergolong sangat tinggi. Ketidakpastian mengenai keberhasilan taman hiburan bertema Labubu ini menambah daftar panjang kekhawatiran para pemilik modal.

Strategi Efisiensi dan Target Pertumbuhan 2026

Menanggapi gejolak pasar, Chairman dan CEO Pop Mart, Wang Ning, menyatakan bahwa perusahaan akan lebih berhati-hati dalam mengejar pertumbuhan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengejar pertumbuhan pendapatan secara agresif jika harus mengorbankan profitabilitas perusahaan. Wang menetapkan target pertumbuhan pendapatan setidaknya 20 persen untuk tahun 2026 mendatang.

Pop Mart juga berencana memperluas lini produk mereka ke kategori lain, mulai dari peralatan rumah tangga hingga pengembangan konten hiburan. Taman hiburan baru di Beijing dijadwalkan akan mulai beroperasi pada musim panas mendatang untuk memperkuat ekosistem merek. Perusahaan berharap langkah ini dapat menjaga loyalitas konsumen di tengah persaingan industri mainan koleksi yang semakin ketat.

Ekspansi Global dan Rencana Produksi di Indonesia

Untuk mendukung permintaan yang terus melonjak, Pop Mart telah menambah kapasitas produksi di beberapa negara strategis, termasuk Meksiko, Kamboja, dan Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan global agar tidak bergantung pada satu wilayah saja. Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar paling potensial bagi karakter Labubu di kawasan Asia Tenggara.

Selain memperkuat basis produksi, perusahaan juga berencana menjadikan London sebagai kantor pusat untuk wilayah Eropa. Inisiatif ini merupakan bagian dari ambisi Pop Mart untuk bertransformasi menjadi perusahaan hiburan global setingkat Disney. Kerja sama dengan Sony Pictures untuk menggarap film layar lebar Labubu menjadi bukti nyata keseriusan mereka dalam mengekspansi pasar luar negeri.

Meskipun menghadapi tantangan di pasar saham, manajemen Pop Mart tetap optimis terhadap fundamental perusahaan yang masih mencatatkan laba bersih sebesar 12,78 miliar yuan. Kenaikan laba sebesar 308 persen ini menunjukkan bahwa secara operasional, perusahaan masih sangat sehat. Kini, tantangan terbesar Pop Mart adalah membuktikan kepada investor bahwa kesuksesan Labubu bukanlah tren sesaat.