Geger! Pria Amputasi Kaki Demi Kedokteran, Ingin Lolos Kuota
Uptodai.com - Dunia pendidikan di India digemparkan oleh sebuah kasus yang menunjukkan betapa ekstremnya tekanan akademik dan persaingan ketat untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi favorit. Seorang pria amputasi kaki demi kedokteran di Jaunpur, Uttar Pradesh, India, kini menjadi sorotan setelah diduga sengaja melukai dirinya sendiri.
Pria berusia 24 tahun bernama Suraj Bhaskar tersebut diduga nekat memotong sebagian kakinya agar memenuhi syarat masuk program studi kedokteran melalui jalur kuota penyandang disabilitas (Persons with Disabilities/PwD). Kasus ini pertama kali dilaporkan sebagai dugaan penyerangan, namun penyelidikan polisi justru mengarah pada fakta yang jauh lebih mengejutkan.
Motif Mengejutkan di Balik Dugaan Amputasi Diri
Suraj Bhaskar diketahui merupakan peserta ujian masuk kedokteran nasional India yang dikenal sangat sulit, yakni NEET-UG (National Eligibility cum Entrance Test-Undergraduate). Bhaskar, yang merupakan lulusan Diploma Farmasi, telah berulang kali mencoba menembus program MBBS (Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery) namun selalu gagal karena ketatnya persaingan.
Kondisi ini diduga mendorongnya untuk mencari jalan pintas melalui jalur kuota disabilitas fakultas kedokteran. Kuota PwD memberikan kelonggaran persyaratan nilai bagi calon mahasiswa yang memiliki disabilitas tertentu, sehingga persaingan di jalur ini relatif lebih rendah dibandingkan jalur umum.
Awalnya, polisi Jaunpur menerima laporan adanya dugaan penyerangan setelah potongan kaki manusia ditemukan di rumah Bhaskar di Desa Khalilpur. Bhaskar sempat dilarikan ke rumah sakit swasta dan memberikan keterangan bahwa ia diserang oleh orang tak dikenal pada malam hari.
Petugas kepolisian segera mencatat kasus tersebut sebagai percobaan pembunuhan dan memulai penyelidikan. Namun, seiring berjalannya proses investigasi, aparat mulai mencium adanya kejanggalan serius yang tidak sesuai dengan keterangan korban.
Kejanggalan dan Bukti Perencanaan Matang
Penyelidikan mendalam yang dilakukan aparat kepolisian mengungkap sejumlah fakta kontradiktif. Polisi tidak menemukan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menunjukkan adanya orang lain yang masuk atau keluar dari rumah Bhaskar pada malam kejadian.
Selain itu, data panggilan telepon Bhaskar juga menunjukkan bahwa tidak ada kunjungan atau komunikasi dengan pihak luar pada waktu yang ia sebutkan sebagai waktu penyerangan. Kecurigaan polisi semakin menguat ketika mereka menemukan sebuah buku harian milik Bhaskar.
Dalam buku harian tersebut, terdapat tulisan tangan yang diduga kuat menjadi kunci motif tindakan ekstrem ini. Tulisan itu berbunyi, “Saya akan menjadi dokter MBBS pada 2026.” Catatan tersebut mengindikasikan bahwa tindakan melukai diri ini telah direncanakan jauh sebelumnya sebagai bagian dari strategi untuk mendapatkan kursi kedokteran.
Tak hanya buku harian, penyidik juga menemukan jarum suntik yang diduga digunakan untuk anestesi, serta alat-alat yang diyakini dipakai untuk memotong kaki. Temuan alat-alat medis ini memperkuat dugaan bahwa cedera yang dialami Bhaskar bukanlah akibat penyerangan, melainkan tindakan yang dilakukan secara sengaja dan terencana.
Tekanan Ujian Masuk Kedokteran dan Permohonan yang Ditolak
Persaingan untuk masuk ke program MBBS di India memang terkenal sangat brutal, dengan jutaan peserta bersaing untuk mendapatkan puluhan ribu kursi setiap tahunnya. Bhaskar, yang sangat berambisi menjadi dokter, tampaknya terdesak oleh kegagalan demi kegagalan.
Pada awal tahun 2025, Bhaskar diketahui pernah mengajukan permohonan sertifikat disabilitas kepada Banaras Hindu University. Namun, permohonan tersebut ditolak karena ia dinilai tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh lembaga tersebut.
Penolakan ini diduga menjadi pemicu utama bagi Bhaskar untuk mengambil langkah drastis dan melukai dirinya sendiri, memastikan ia memenuhi syarat disabilitas masuk kedokteran yang ketat. Aparat berwenang saat ini tengah mengkaji pasal hukum yang relevan untuk dikenakan kepada Bhaskar, termasuk dugaan memberikan keterangan palsu kepada polisi.
Kasus ini tidak hanya menyoroti ambisi pribadi yang ekstrem, tetapi juga memunculkan kembali diskusi mengenai tekanan mental dan sistem kuota pendidikan di tengah persaingan akademik yang sangat tinggi di India.