Pria Ini Nekat Jual Rumah Demi Nonton Piala Dunia 2026 di AS
Uptodai.com - Pria jual rumah demi Piala Dunia 2026 menjadi sorotan publik setelah ia memutuskan melepas aset berharganya untuk terbang ke Amerika Serikat. Langkah ekstrem ini diambil demi memuaskan hasrat menonton turnamen sepak bola paling bergengsi di planet bumi tersebut. Fenomena ini membuktikan bahwa loyalitas suporter terkadang melampaui logika finansial yang sehat.
Sosok ikonik tersebut adalah David Milne, seorang penggemar fanatik tim nasional Inggris yang wajahnya sudah tidak asing di tribun penonton. Milne dikenal luas karena sering membawa replika trofi Piala Dunia ke setiap pertandingan yang ia datangi. Baginya, sepak bola bukan sekadar hobi, melainkan nafas kehidupan yang layak diperjuangkan dengan segala cara.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini bakal menjadi edisi ke-10 yang ia hadiri secara langsung. Rekam jejaknya sangat mengesankan, mencakup sembilan edisi Piala Dunia pria dan satu edisi Piala Dunia Wanita 2023. Saat ini, Milne menetap di Thailand dan memutuskan untuk mengeksekusi rencana finansial besar demi hobinya tersebut.
Ambisi Besar David Milne di Tanah Amerika
Aset yang ia korbankan adalah sebuah rumah di wilayah utara Inggris yang selama ini ia sewakan kepada pihak lain. Properti tersebut rencananya akan dilepas ke pasar dengan harga sekitar £350.000 atau setara dengan Rp7 miliar. Milne mengaku keputusan besar ini sudah melalui pertimbangan yang sangat matang selama beberapa waktu terakhir.
Ia merasa saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk mencairkan aset properti yang telah ia miliki selama 27 tahun tersebut. Keinginan kuat untuk menyaksikan seluruh rangkaian turnamen secara utuh menjadi alasan utama di balik penjualan rumah itu. Menurutnya, pengalaman spiritual di stadion jauh lebih berharga daripada sekadar kepemilikan fisik sebuah bangunan.
Perjalanan ini diprediksi akan memakan biaya yang sangat fantastis karena durasi turnamen yang cukup panjang. Milne berencana mendarat di Amerika Serikat pada 3 Juni dan akan menetap di sana selama tujuh minggu penuh. Dengan biaya hidup dan transportasi antarnegara bagian yang mahal, ia membutuhkan dana segar dalam jumlah besar.
Rencana perjalanannya sudah tersusun rapi, dimulai dengan menyaksikan laga perdana Inggris melawan Kroasia di Dallas pada 17 Juni. Setelah itu, ia akan terbang menuju Foxborough, Massachusetts, untuk mendukung timnya melawan Ghana pada 23 Juni. Fase grup akan ia tutup dengan menonton pertandingan melawan Panama di New Jersey pada 27 Juni mendatang.
Polemik Harga Tiket Piala Dunia 2026 yang Melambung
Keputusan pria jual rumah demi Piala Dunia 2026 ini juga menyoroti masalah serius terkait biaya menonton sepak bola modern. Selain ongkos perjalanan yang tinggi, harga tiket pertandingan kali ini menuai kritik tajam dari berbagai kelompok suporter di seluruh dunia. Banyak yang menilai FIFA terlalu mengomersialisasi turnamen hingga sulit dijangkau penggemar biasa.
Pada pembukaan penjualan tiket Desember lalu, harga paling murah untuk laga fase grup dibanderol mulai dari US$140. Namun, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai US$8.680 atau sekitar Rp136 juta untuk tiket pertandingan final. Kenaikan harga yang signifikan ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai dasar sepak bola sebagai olahraga rakyat.
Kelompok suporter bahkan telah mengambil langkah hukum dengan mengajukan keluhan resmi kepada Komisi Eropa terhadap FIFA. Organisasi Football Supporters Europe (FSE) menuding FIFA telah menyalahgunakan posisi dominannya dalam menentukan harga tiket. Mereka merasa para penggemar tidak memiliki pilihan lain karena FIFA memegang monopoli penuh atas distribusi tiket.
Tudingan Monopoli dan Kurangnya Transparansi FIFA
FSE bersama lembaga konsumen Euroconsumers menyatakan bahwa FIFA menerapkan syarat-syarat penjualan yang tidak adil. Dalam pasar yang kompetitif, harga setinggi itu diyakini tidak akan pernah diterima oleh masyarakat luas. Selain masalah harga, mereka juga mengkritik praktik penjualan yang memberikan tekanan psikologis kepada calon pembeli.
Kurangnya transparansi dalam proses alokasi tiket juga menjadi poin utama yang dipermasalahkan oleh para penggemar internasional. Banyak suporter merasa dipaksa untuk membeli paket mahal tanpa mengetahui detail distribusi tiket kategori murah. Kondisi ini membuat para pendukung setia seperti David Milne harus memutar otak, bahkan hingga menjual aset masa tua mereka.
Meski menuai banyak protes, antusiasme suporter untuk hadir di Amerika Serikat tetap tidak terbendung. Kisah Milne hanyalah satu dari sekian banyak pengorbanan yang dilakukan demi menyaksikan sejarah baru di lapangan hijau. Kini, publik menunggu apakah FIFA akan merespons keluhan tersebut atau tetap bertahan dengan kebijakan harga yang kontroversial ini.