Profil Istri Ali Khamenei Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh yang Tewas
Uptodai.com - Istri Ali Khamenei Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh dilaporkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat luka parah yang dideritanya. Tragedi memilukan ini terjadi menyusul serangan udara masif yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada awal Maret 2026.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh media pemerintah Iran, termasuk Tasnim News Agency, yang menyebutkan Mansoureh mengembuskan napas terakhir pada usia 79 tahun. Ia sempat berada dalam kondisi koma selama beberapa hari sebelum tim medis menyatakan nyawanya tidak tertolong lagi. Kepergiannya menambah daftar panjang korban dari kalangan elite Iran dalam eskalasi konflik yang kian memanas di kawasan tersebut.
Tragedi Serangan yang Menewaskan Keluarga Pemimpin Tertinggi
Serangan udara yang terjadi pada 2 Maret 2026 tersebut tidak hanya menargetkan infrastruktur strategis, tetapi juga menghantam kediaman yang menampung keluarga besar Ali Khamenei. Selain sang istri, serangan tersebut juga merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran itu sendiri beserta sejumlah anggota keluarga dekat lainnya. Laporan intelijen menyebutkan bahwa putri, cucu, hingga menantu perempuan Khamenei turut menjadi korban dalam operasi militer tersebut.
Pemerintah Iran menyebut tindakan ini sebagai agresi brutal yang melanggar kedaulatan negara dan hukum internasional. Kematian Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh menjadi simbol duka nasional bagi pendukung rezim Republik Islam Iran. Publik kini menyoroti bagaimana dampak kehilangan ini terhadap stabilitas internal pemerintahan Iran yang sedang terguncang hebat.
Profil Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh dan Latar Belakang Keluarga
Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh lahir pada tahun 1947 di Mashhad, sebuah kota yang menjadi pusat keagamaan dan perdagangan paling penting di Iran. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat religius dan memiliki pengaruh ekonomi yang kuat di kota tersebut. Ayahnya, Mohammad Esmaeil Khojasteh Bagherzadeh, merupakan seorang pedagang terpandang yang dikenal memiliki kedekatan dengan kalangan ulama Syiah.
Latar belakang keluarga yang mapan dan konservatif membentuk kepribadian Mansoureh sejak usia dini. Meskipun ia merupakan istri dari orang paling berkuasa di Iran, informasi mengenai masa kecil dan pendidikannya sangat sulit ditemukan oleh publik. Hal ini dikarenakan ia sangat menjaga privasi dan memegang teguh nilai-nilai tradisional yang membatasi sorotan kamera terhadap perempuan dari kalangan elite agama.
Pernikahan dengan Ali Khamenei dan Kehidupan Rumah Tangga
Mansoureh menikah dengan Ali Khamenei pada tahun 1964 saat dirinya masih menginjak usia 17 tahun. Pernikahan tersebut berlangsung dalam suasana yang khidmat dan disaksikan oleh tokoh-tokoh besar, termasuk ulama terkemuka Mohammad Hadi Milani. Selama lebih dari enam dekade mendampingi Khamenei, Mansoureh dikenal sebagai sosok yang sangat setia dan mendukung perjuangan politik suaminya dari balik layar.
Pasangan ini dikaruniai enam orang anak, yang terdiri dari empat putra dan dua putri. Putra-putranya, yakni Mostafa, Mojtaba, Masoud, dan Meysam, memegang peran penting dalam struktur kekuasaan dan kegiatan keagamaan di Iran. Mojtaba Khamenei bahkan sempat disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang akan menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi sebelum peristiwa tragis ini terjadi.
Peran Mansoureh dalam Bayang-Bayang Kekuasaan
Berbeda dengan istri pemimpin dunia pada umumnya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh hampir tidak pernah muncul dalam acara kenegaraan atau kampanye publik. Ia memilih untuk memfokuskan seluruh energinya pada urusan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya sesuai dengan prinsip Islam yang dianutnya. Sikap low profile ini justru membuatnya sangat dihormati oleh kalangan konservatif di Iran.
Ketidakhadirannya di ruang publik bukan berarti ia tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam dinamika politik di Teheran. Banyak pihak meyakini bahwa ia memberikan dukungan moral yang sangat besar bagi Ali Khamenei dalam mengambil keputusan-keputusan krusial bagi negara. Kini, dengan tiadanya sang istri dan pemimpin tertinggi, Iran menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian di tengah gempuran konflik global.