Ekstrem! Proses Produksi Film Buto Ijo Pakai Kostum Berat
Uptodai.com - Film horor terbaru, ‘Penunggu Rumah: Buto Ijo’, tengah menjadi perbincangan hangat, bukan hanya karena unsur mistisnya, tetapi juga karena intensitas di balik layar. Proses Produksi Film Buto Ijo ternyata jauh lebih ekstrem dan menantang dari yang dibayangkan penonton. Tim produksi memilih pendekatan praktikal yang totalitas untuk menghidupkan karakter raksasa hijau legendaris tersebut.
Keputusan menggunakan efek praktis alih-alih CGI masif membawa konsekuensi besar, terutama bagi aktor yang memerankan sosok Buto Ijo. Mereka harus berhadapan langsung dengan elemen-elemen produksi yang menguji batas fisik dan mental selama sesi pengambilan gambar berlangsung.
Di Balik Kostum Buto Ijo yang Realistis
Untuk mencapai visual yang mengerikan dan meyakinkan, tim produksi menggandeng spesialis prostetik ternama yang telah lama berkecimpung di industri film horor Indonesia. Mereka merancang kostum Buto Ijo sebagai setelan full body yang hampir seluruh permukaannya dilapisi material prostetik. Pendekatan ini memang menjamin realisme sinematik yang tinggi.
Namun, Pratito Wibowo, aktor di balik topeng raksasa tersebut, harus menanggung beban yang tidak ringan. Kostum tersebut dikenal sangat berat, lengket, dan yang paling krusial, minim sirkulasi udara. Panas tubuh yang terperangkap di dalam material tebal itu membuat sang aktor cepat kelelahan dan berisiko mengalami dehidrasi serius.
Tantangan Kostum Prostetik dan Protokol Keselamatan
Walaupun proses syuting dilakukan di dalam studio yang dilengkapi pendingin udara, panas internal tetap menjadi masalah serius bagi Pratito. Kelembapan dan suhu di dalam kostum meningkat drastis hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, tim harus memberlakukan protokol keselamatan yang sangat ketat untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Gandhi Fernando, yang merangkap sebagai aktor, produser, dan penulis, menjelaskan bahwa mereka hanya bisa melakukan satu hingga dua kali take sebelum kostum harus dilepas. Tindakan ini wajib dilakukan demi mencegah Pratito mengalami kelelahan ekstrem atau bahkan sengatan panas akibat suhu tubuh yang melonjak.
“Kami benar-benar harus ekstra hati-hati. Keselamatan aktor adalah prioritas utama kami,” ujar Gandhi. Ia menambahkan bahwa jika syuting dipaksakan, apalagi di lokasi outdoor atau ruangan tanpa AC, risiko kesehatan yang dihadapi Pratito akan terlalu besar dan tidak sebanding dengan hasil gambar yang didapat.
Menjaga Identitas Folklor Buto Ijo
Selain menghadapi tantangan teknis fisik, tim kreatif juga bergulat dengan aspek desain karakter yang kompleks. Selama ini, Buto Ijo adalah figur folklor yang akrab di masyarakat, namun seringkali divisualisasikan secara kartunis atau terlalu sederhana dalam adaptasi sebelumnya.
Tantangan utamanya adalah bagaimana menjaga aura mistis dan identitas dongeng tersebut tanpa membuatnya terlihat lucu atau berlebihan di layar lebar. Tim kreatif harus mencari titik keseimbangan yang sempurna antara elemen horor murni dan karakteristik folklor yang sudah tertanam kuat di benak audiens.
Gandhi menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah menciptakan sosok yang menakutkan, tetapi penonton tetap dapat mengidentifikasinya sebagai Buto Ijo yang dikenal dari cerita rakyat. Keseimbangan visual ini memerlukan riset mendalam dan pengujian desain berulang kali. Dedikasi ini menunjukkan komitmen tinggi tim produksi untuk menghadirkan film horor dengan kualitas visual yang tidak main-main dan tetap menghormati akar budayanya.