Alasan Raja Charles Tidak Tinggal di Istana Buckingham
Uptodai.com - Keputusan mengejutkan datang dari monarki Inggris setelah Raja Charles tidak tinggal di Istana Buckingham sebagai kediaman utamanya. Alih-alih pindah ke istana bersejarah tersebut, sang raja memilih untuk tetap menetap di Clarence House, rumah pribadinya di London. Langkah ini secara resmi mengakhiri tradisi hampir dua abad yang menempatkan Istana Buckingham sebagai kediaman utama penguasa Inggris sejak era Ratu Victoria pada tahun 1837.
Meskipun tidak menjadi tempat tinggal sehari-hari Raja Charles, Istana Buckingham akan tetap berfungsi sebagai pusat administratif monarki. Bendahara Kerajaan Inggris, James Chalmers, menegaskan bahwa bangunan ikonik ini tetap menjadi markas besar untuk upacara kenegaraan dan penerimaan tamu resmi. Ketika raja sedang berada di London, panji kerajaan akan tetap dikibarkan di atas atap istana sebagai simbol kehadiran fisik sang penguasa.
Proyek Renovasi Besar-besaran Istana Buckingham
Keengganan Raja Charles untuk pindah juga dipengaruhi oleh proyek renovasi besar-besaran yang sedang berlangsung di Istana Buckingham. Proyek dekade ini, yang dikenal sebagai Reservicing Programme, menelan biaya sekitar £369 juta untuk memperbarui infrastruktur yang sudah usang sejak Perang Dunia II. Pembaruan ini mencakup penggantian kabel listrik tua, pipa saluran air, serta sistem pemanas guna mencegah risiko kebakaran dan kerusakan struktural yang fatal.
Sementara itu, Clarence House menawarkan kenyamanan yang jauh lebih personal bagi Raja Charles dan Ratu Camilla yang telah tinggal di sana sejak tahun 2003. Kediaman yang dibangun oleh arsitek terkenal John Nash pada abad ke-19 ini sebelumnya merupakan rumah bagi Ibu Suri. Bagi Charles, suasana Clarence House yang lebih intim dirasa jauh lebih cocok untuk mendukung rutinitas hariannya dibandingkan kemegahan Istana Buckingham yang formal.
Setelah seluruh proses renovasi rampung, pihak kerajaan berencana untuk memperluas akses publik ke area dalam Istana Buckingham. Saat ini, situs bersejarah tersebut telah menarik sekitar 700.000 wisatawan dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya. Kendati menetap di Clarence House, Raja Charles tetap memiliki kamar pribadi di Istana Buckingham yang siap digunakan sewaktu-waktu saat ia harus menjalankan tugas kenegaraan yang padat.
Transparansi Finansial dan Pajak Fantastis Raja Charles
Di samping keputusan mengenai tempat tinggal, pihak kerajaan juga membuat gebrakan dengan merilis laporan keuangan terbaru mereka secara transparan. Untuk pertama kalinya, rincian mengenai pajak Raja Charles diungkapkan kepada publik sebagai bagian dari upaya modernisasi monarki. Pada tahun fiskal 2024/2025, Charles tercatat membayar pajak sukarela sebesar £12,9 juta atau setara dengan Rp280 miliar.
Nominal fantastis tersebut langsung menempatkan sang raja ke dalam daftar 100 pembayar pajak terbesar di seantero Inggris Raya. Jumlah pembayaran ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di angka £11,7 juta. Seasli naik takhta menggantikan mendiang Ratu Elizabeth II pada tahun 2022, total pajak pribadi yang disetorkan Charles kini telah melampaui angka £30 juta.
Secara hukum konstitusi, penguasa monarki Inggris sebenarnya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak penghasilan maupun pajak warisan. Namun, Raja Charles memilih untuk melanjutkan tradisi sukarela yang dipelopori oleh ibunya sejak tahun 1993 silam. Sumber utama pendapatan pribadi raja berasal dari Kadipaten Lancaster, sebuah portofolio aset dan tanah kuno yang menghasilkan keuntungan sekitar £25,2 juta pada tahun fiskal terbaru.