Uptodai.com - Menyaksikan seseorang tiba-tiba memegang dada dan menunjukkan tanda-tanda nyeri hebat dapat memicu kepanikan luar biasa. Namun, dalam situasi darurat medis seperti ini, ketenangan dan kecepatan bertindak adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.

Jika Anda menemukan seseorang mengalami gejala nyeri dada yang dicurigai sebagai serangan jantung, memahami tindakan pertama saat serangan jantung adalah hal yang wajib dikuasai. Spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Isman Firdaus, Sp.JP SubSp IKKV (K), KI (K), MPH, menekankan pentingnya respons cepat dan tepat di lokasi kejadian.

3 Tindakan Krusial Saat Menemukan Pasien Nyeri Dada

Menurut Dr. Isman, hal paling mendasar yang harus segera dilakukan oleh orang di sekitar pasien adalah menghentikan semua aktivitas fisik yang sedang dilakukan pasien. Jangan biarkan pasien berjalan, berdiri, atau melakukan gerakan apa pun yang dapat membebani jantung.

Mengapa Pasien Harus Segera Diistirahatkan?

Aktivitas fisik akan meningkatkan kebutuhan oksigen oleh otot tubuh, termasuk otot jantung. Padahal, saat terjadi serangan jantung, suplai darah dan oksigen ke jantung sedang terhambat akibat penyumbatan arteri koroner. Jika pasien terus bergerak, kerja jantung akan semakin berat, dan kerusakan otot jantung bisa meluas.

Setelah pasien diistirahatkan, langkah selanjutnya adalah memastikan posisi tubuhnya nyaman dan aman. Pasien disarankan untuk duduk atau berbaring dengan posisi bersandar sekitar 30 hingga 40 derajat.

Posisi setengah duduk ini membantu mengurangi beban balik ke jantung dan memudahkan pernapasan, terutama jika pasien mulai mengalami sesak napas. Sambil memastikan pasien tenang, segera minta bantuan atau antarkan pasien ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan EKG (Elektrokardiografi).

Memahami Tanda Serangan Jantung Berat (STEMI)

Ketika pasien sudah tiba di fasilitas kesehatan, tim medis akan melakukan perekaman jantung (EKG) untuk memastikan diagnosis. Dr. Isman menjelaskan bahwa jika hasil EKG menunjukkan adanya tanda ST Elevasi, kondisi ini disebut STEMI (ST-Elevation Myocardial Infarction).

STEMI adalah jenis serangan jantung yang paling serius, di mana terjadi penyumbatan total pada salah satu arteri koroner. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera, yang dikenal sebagai tata laksana reperfusi.

Pentingnya Jendela Waktu 12 Jam untuk Reperfusi

Waktu adalah otot jantung (time is muscle) dalam kasus STEMI. Dr. Isman menegaskan bahwa tim medis memiliki jendela waktu kritis, yaitu 12 jam, untuk menolong pasien STEMI. Reperfusi adalah tindakan medis untuk membuka kembali aliran darah yang tersumbat, baik melalui obat penghancur bekuan darah (trombolitik) atau melalui tindakan invasif seperti pemasangan ring jantung.

Pemasangan ring jantung, atau stenting, berfungsi vital untuk membuka arteri yang tersumbat, melancarkan aliran darah, dan meminimalkan kerusakan permanen pada otot jantung. Jika pasien datang terlambat, kerusakan yang terjadi mungkin sudah terlalu parah, sehingga prognosisnya memburuk.

Prioritas Utama: Tetap Tenang dan Hindari Aktivitas Mengejan

Baik bagi orang yang melihat maupun bagi pasien yang merasakan nyeri dada, sangat penting untuk tetap tenang. Kepanikan dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, yang justru memperburuk kondisi jantung yang sedang bermasalah.

Selain menghindari aktivitas fisik berat, pasien juga harus menghindari segala bentuk aktivitas mengejan. Mengejan, seperti saat buang air besar atau batuk keras, dapat meningkatkan tekanan di dada dan perut, yang secara tidak langsung memberikan tekanan tambahan pada jantung.

Segera datangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. Pemeriksaan EKG adalah langkah diagnostik paling cepat dan akurat untuk memastikan apakah keluhan nyeri dada tersebut merupakan serangan jantung atau bukan. Dengan penanganan yang cepat, peluang pasien untuk pulih sepenuhnya akan jauh lebih besar.