Uptodai.com - Bencana banjir bandang Arequipa di wilayah selatan Peru baru-baru ini meluluhlantakkan infrastruktur kota setelah diguyur hujan deras selama berhari-hari. Ribuan warga kini berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur tebal dan puing bangunan yang menutup akses jalan utama di pemukiman mereka.

Hujan ekstrem yang melanda sejak Kamis pekan lalu memicu luapan sungai besar yang tak lagi mampu menampung debit air yang meningkat drastis. Kondisi ini diperparah dengan kontur wilayah yang berbukit, sehingga memicu tanah longsor mematikan di beberapa titik strategis pemukiman warga.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur yang Masif

Otoritas setempat melaporkan setidaknya dua orang meninggal dunia akibat peristiwa tragis yang dipicu oleh hujan deras di Peru tersebut. Salah satu korban merupakan seorang pria yang tewas seketika setelah tersambar petir saat badai berlangsung hebat di wilayah terbuka.

Korban lainnya adalah seorang perempuan lanjut usia yang terjebak di dalam rumahnya saat air sungai meluap dengan sangat cepat. Proses evakuasi sulit dilakukan karena arus air yang sangat deras membawa material kayu serta batu besar yang menghantam dinding bangunan.

Kerusakan infrastruktur di Arequipa terlihat sangat nyata, terutama di Distrik Cayma yang menjadi salah satu area terdampak paling parah. Kendaraan roda empat milik warga banyak yang terseret arus hingga ratusan meter dan akhirnya tertimbun material musibah tanah longsor Peru.

Gambar dari udara menunjukkan pemandangan memilukan di mana jalan-jalan utama berubah menjadi aliran lumpur cokelat yang pekat. Beberapa jembatan penghubung antar-desa juga dilaporkan mengalami kerusakan struktur yang cukup serius sehingga membahayakan pengguna jalan.

Upaya Pemulihan dan Ancaman Cuaca Ekstrem

Pemerintah daerah segera mengerahkan alat berat seperti traktor dan ekskavator untuk membuka kembali akses jalan yang terputus total. Lumpur setinggi lutut orang dewasa membuat mobilitas warga lumpuh total selama beberapa hari terakhir di pusat kota Arequipa.

Warga secara gotong royong menggunakan peralatan seadanya dan pompa air manual untuk mengeluarkan genangan dari dalam rumah mereka. Mereka khawatir jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, banjir susulan akan kembali menerjang pemukiman yang sudah rapuh.

Badan meteorologi setempat memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem Amerika Selatan ini berkaitan erat dengan perubahan iklim global yang semakin tidak menentu. Wilayah Peru memang tengah menghadapi anomali cuaca yang menyebabkan curah hujan berada jauh di atas rata-rata tahunan.

Hingga saat ini, pendataan mengenai total kerugian materiil masih terus dilakukan oleh pihak berwenang bersama tim tanggap darurat. Tim penyelamat tetap bersiaga di lokasi-lokasi rawan longsor guna mengantisipasi jatuhnya korban tambahan jika tanah kembali labil.

Bantuan kemanusiaan berupa makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan mulai didistribusikan ke sejumlah posko pengungsian darurat. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjauhi bantaran sungai selama status siaga bencana belum dicabut oleh pemerintah pusat.