Uptodai.com - Cara menghentikan perang Iran kini menjadi sorotan dunia setelah konflik antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Teheran semakin memanas. Memasuki pekan kedua agresi, tekanan internasional mulai bermunculan dari berbagai pihak, termasuk dari internal politik Israel sendiri. Banyak pihak menilai bahwa kekuatan militer semata tidak akan mampu meredam ketegangan yang kian meluas di kawasan Timur Tengah tersebut.

Politisi sayap kiri Israel, Ofer Cassif, memberikan pandangan yang cukup mengejutkan terkait jalan keluar dari krisis ini. Dalam sebuah wawancara terbaru, ia menegaskan bahwa kunci utama untuk mengakhiri pertumpahan darah ini berada di tangan rakyat Amerika Serikat. Cassif percaya bahwa gerakan sipil yang masif dapat memaksa pemerintah untuk mengubah arah kebijakan militernya secara drastis.

Menurut Cassif, jika publik Amerika Serikat yang menentang perang bersedia turun ke jalan, maka agresi militer tersebut memiliki peluang besar untuk berakhir. Ia menekankan pentingnya peran basis pendukung Partai Republik dalam menyuarakan penolakan terhadap perang ini. Tekanan dari konstituen domestik dianggap jauh lebih efektif daripada sekadar kecaman diplomatik dari negara-negara tetangga.

Ambisi Politik Donald Trump di Tengah Konflik

Donald Trump, yang saat ini memegang kendali pemerintahan, disebut-sebut memiliki kepentingan politik pribadi di balik dukungannya terhadap agresi ini. Cassif menilai bahwa Trump sangat memperhatikan citranya menjelang pemilihan paruh waktu yang akan datang. Jika ia merasa dukungan publiknya tergerus akibat perang, maka ada kemungkinan besar ia akan menarik mundur pasukannya demi mengamankan suara.

Kondisi ini serupa dengan posisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang juga menghadapi tekanan politik di dalam negerinya sendiri. Kedua pemimpin tersebut dianggap lebih mementingkan kelangsungan karier politik mereka daripada stabilitas keamanan global. Oleh karena itu, protes warga Amerika Serikat menjadi instrumen krusial untuk mengguncang zona nyaman para penguasa tersebut.

Cassif, yang merupakan satu-satunya anggota Yahudi dari partai Hadash yang mayoritas beranggotakan warga Arab, secara konsisten menyuarakan perdamaian. Keberaniannya menentang arus utama di parlemen Israel menjadikannya sosok yang sangat diperhatikan oleh media internasional. Ia berulang kali mengingatkan bahwa agresi ini hanya akan membawa penderitaan bagi warga sipil di kedua belah pihak.

Ketimpangan Standar Ganda Terhadap Isu Nuklir

Muncul sebuah pertanyaan besar mengenai alasan sebenarnya di balik serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Banyak pengamat mempertanyakan mengapa fokus serangan hanya tertuju pada Iran, sementara Korea Utara secara terang-terangan melakukan uji coba nuklir. Sejak tahun 2024, Pyongyang bahkan sudah memproklamirkan pengembangan senjata nuklir untuk angkatan laut mereka secara masif.

Kim Jong Un baru-baru ini dilaporkan mengawasi langsung uji coba kapal perusak yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir. Namun, reaksi Amerika Serikat terhadap Korea Utara cenderung lebih pasif dibandingkan dengan tindakan agresif mereka terhadap Teheran. Hal ini memicu spekulasi bahwa isu nuklir hanyalah alasan di permukaan untuk menutupi agenda tersembunyi lainnya.

Cassif membedah bahwa motif utama di balik perang ini sebenarnya adalah kepentingan ekonomi dan politik yang sangat pragmatis. Pemerintahan Trump dan kabinet Israel diduga ingin mengamankan pengaruh geopolitik dan sumber daya ekonomi di kawasan tersebut. Strategi ini dijalankan dengan memanfaatkan narasi ancaman nuklir untuk mendapatkan legitimasi internasional.

Jika cara menghentikan perang Iran melalui jalur diplomasi formal terus menemui jalan buntu, maka kekuatan rakyat menjadi harapan terakhir. Masyarakat dunia kini menunggu apakah publik Amerika Serikat akan mengambil tindakan nyata untuk menekan pemerintahannya. Tanpa adanya tekanan internal yang kuat, agresi militer di Timur Tengah dikhawatirkan akan terus berlanjut tanpa kepastian kapan akan berakhir.