Tok! China Perketat Ekspor Perak Hari Ini, Miliuner Ketar-ketir
Uptodai.com - Dunia industri global langsung menahan napas setelah kebijakan ketat dari Beijing resmi diberlakukan. Mulai hari ini, pemerintah China secara resmi menerapkan aturan baru yang membuat China perketat ekspor perak, sebuah langkah yang segera memicu gejolak di pasar komoditas dan teknologi.
Keputusan ini tidak hanya mengubah status perak di mata regulator, tetapi juga mengirimkan gelombang kekhawatiran di kalangan pebisnis raksasa dunia. Salah satu yang paling vokal adalah bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk, yang langsung menyampaikan keprihatinannya mengenai dampak pembatasan tersebut pada rantai pasok manufaktur global.
Melalui platform media sosial X, Musk menyatakan bahwa kebijakan ini akan memberikan efek negatif yang signifikan. “Ini tidak baik. Perak sangat dibutuhkan dalam banyak proses industri,” tulis Musk, merespons laporan mengenai langkah regulasi terbaru dari Beijing.
Perak Naik Status Jadi Material Strategis
Meskipun pengumuman mengenai kontrol ini sudah disampaikan oleh Kementerian Perdagangan China sejak Oktober tahun lalu, kebijakan yang berlaku per hari ini secara resmi menaikkan status perak. Logam mulia ini kini diklasifikasikan dari komoditas biasa menjadi material strategis yang sangat diawasi.
Status baru ini menempatkan perak pada level pengawasan regulasi yang sama dengan logam tanah jarang (rare earths), yang pasokannya juga didominasi oleh China. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Beijing untuk mengamankan sumber daya yang dianggap vital bagi kepentingan nasional dan teknologi canggih.
Selain perak, aturan baru yang mulai berlaku di tahun 2026 ini juga membatasi ekspor dua material penting lainnya, yaitu tungsten dan antimoni. Kedua material tersebut merupakan komponen utama yang digunakan secara luas dalam produksi teknologi pertahanan canggih, dan lagi-lagi, China adalah pemasok utama global.
Langkah pengetatan ekspor ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan dagang yang tegang antara China dan Amerika Serikat. Meskipun sempat terjadi kesepakatan gencatan senjata tarif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saat pengumuman awal, pengawasan terhadap logam langka tetap menjadi kartu truf yang dipegang erat oleh pihak China.
Harga Perak Melonjak, Dolar AS Terjun Bebas
Pengetatan ekspor ini terjadi di tengah lonjakan harga perak yang menunjukkan kinerja luar biasa di pasar global. Sepanjang tahun 2025, harga perak tercatat naik lebih dari dua kali lipat, menuju performa tahunan terbaiknya yang belum pernah terlihat sejak tahun 1979.
Awal pekan ini, harga perak bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$ 80 (sekitar Rp 1,3 juta) per ounce, sebelum akhirnya diperdagangkan stabil di kisaran US$ 73 (sekitar Rp 1,2 juta). Kenaikan harga emas dan perak yang masif ini mencerminkan pergeseran besar di kalangan investor.
Mereka kini mulai meninggalkan aset berbasis Dollar AS, yang performanya justru berbanding terbalik. Indeks Dollar AS (DXY) tercatat anjlok hampir 9,5% sepanjang tahun 2025, mencatatkan kinerja terburuknya sejak tahun 2017.
Tyler Cowen, seorang Profesor Ekonomi di George Mason University, menilai lonjakan harga komoditas ini sebagai peringatan keras bagi ekonomi Amerika Serikat. Pergeseran ini mengindikasikan hilangnya kepercayaan terhadap stabilitas mata uang greenback di tengah ketidakpastian geopolitik.
Perebutan Pasokan Fisik di Pasar Global
Dampak dari pembatasan ekspor China ini mulai terasa nyata di pasar fisik. CEO Kuya Silver yang berbasis di Kanada, David Stein, mengonfirmasi kepada media internasional bahwa terjadi perebutan pasokan perak.
Beberapa perusahaan China dan pembeli besar dari India dilaporkan mulai berebut pasokan fisik perak yang tersedia. Mereka bahkan berani menawar dengan harga premi yang sangat tinggi, mencapai US$ 8 (Rp 130 ribu) hingga US$ 10 (Rp 160 ribu) di atas harga pasar spot.
Data menunjukkan betapa dominannya China dalam rantai pasok global perak. Dalam 11 bulan pertama tahun 2025 saja, China telah mengekspor lebih dari 4.600 ton perak. Angka ini jauh melampaui volume impornya yang hanya sekitar 220 ton, menegaskan posisi China sebagai pemain kunci yang kini memegang kendali penuh atas ketersediaan material vital ini.