Uptodai.com - Dominasi Amerika Serikat (AS) di lautan global menghadapi tantangan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Laporan terbaru dari Pentagon mengindikasikan bahwa ambisi Beijing untuk menjadikan China jadi raksasa laut 2026 bukan sekadar gertakan, melainkan proyeksi nyata yang didukung oleh modernisasi militer masif.

Saat ini, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) telah melampaui AS dalam hal jumlah lambung kapal. Mereka mengoperasikan lebih dari 370 kapal perang dan kapal selam, termasuk tiga kapal induk yang menjadi simbol kekuatan maritim modern. Pergeseran keseimbangan kekuatan ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap hegemoni AS di kawasan Indo-Pasifik.

Modernisasi Armada China: Dari Kuantitas ke Kualitas

Pentagon secara terbuka memperingatkan bahwa Beijing bertekad menggusur posisi AS sebagai negara paling kuat di dunia, dan laut adalah arena utama pertarungan tersebut. Salah satu pencapaian paling signifikan yang menunjukkan lompatan teknologi China adalah pengoperasian CNS Fujian.

Kapal induk tercanggih China ini dilengkapi dengan sistem katapel elektromagnetik (CATOBAR) yang revolusioner. Teknologi CATOBAR memungkinkan peluncuran pesawat yang lebih berat dan mematikan, termasuk jet tempur siluman J-35, dengan efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem lompatan ski (STOBAR) yang digunakan pada kapal induk mereka sebelumnya.

Analis dari Center for a New American Security, Tom Shugart, menjelaskan bahwa ini menandakan pergeseran strategi. Menurutnya, China kini bergerak menuju kekuatan udara laut yang lebih tangguh dan memiliki jangkauan tempur yang jauh lebih luas.

Kapal Induk China Fujian dan Ancaman Drone Amfibi

Selain kapal induk konvensional, China juga menunjukkan inovasi yang mengkhawatirkan dengan menguji coba kapal serbu amfibi Type 076. Kapal ini dirancang secara unik karena mampu meluncurkan drone dan pesawat tanpa awak menggunakan sistem katapel.

Kapal Type 076 diprediksi akan memainkan peran kunci dalam mendukung operasi ekspedisi, terutama di wilayah sensitif seperti Laut China Selatan atau sekitar Kepulauan Senkaku. Kemampuan untuk mengintegrasikan drone tempur dalam operasi amfibi memberikan keunggulan asimetris yang sulit ditandingi.

Analisis maritim juga mencatat bahwa keberhasilan China dalam melakukan operasi kapal induk ganda di Pasifik Barat menunjukkan peningkatan kenyamanan mereka beroperasi jauh dari daratan utama. Mereka telah menunjukkan kemampuan untuk mengelilingi Australia dan melakukan latihan yang semakin kompleks.

Ekspansi Global dan Target Taiwan 2027

Meskipun China belum memiliki jaringan pangkalan militer global yang masif seperti AS, Beijing secara aktif mempertimbangkan lokasi pangkalan potensial di berbagai negara. Negara-negara di Afrika, Asia, Karibia, dan Pasifik menjadi target utama untuk memproyeksikan kekuatan udara dan laut mereka di masa depan.

Alex Luck, seorang analis maritim yang berbasis di Australia, memprediksi bahwa pada tahun 2026, China akan secara signifikan memperluas durasi dan frekuensi penempatan armadanya. Bahkan, penempatan ini diperkirakan akan melintasi Garis Batas Penanggalan Internasional, menantang batas-batas geografis tradisional.

Modernisasi besar-besaran ini sejalan dengan peringatan Pentagon mengenai target kesiapan militer China. Beijing dilaporkan menargetkan kemampuan penuh untuk memenangkan perang atas Taiwan pada akhir tahun 2027. Untuk memfasilitasi invasi melintasi Selat Taiwan, China juga terus mengembangkan kapal tongkang pendarat modular dan memanfaatkan kapal sipil dalam latihan amfibi.

Perlombaan Kapal Induk dan Respon “Armada Emas” AS

Klaim paling mengejutkan dari Pentagon adalah bahwa China bertujuan untuk memiliki total sembilan kapal induk. Jika target ambisius ini tercapai, jumlah tersebut akan melampaui armada kapal induk AS yang saat ini ditempatkan di Pasifik, yang berjumlah enam unit.

Menanggapi ekspansi cepat ini, AS tidak tinggal diam. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, program “Golden Fleet” atau Armada Emas dipacu untuk mempercepat pembangunan kapal perang baru. Program ini bertujuan untuk memodernisasi dan memperluas armada AS, termasuk kapal frigate generasi terbaru, guna menjaga keunggulan kualitatif mereka.

Perlombaan senjata maritim ini menegaskan bahwa persaingan geopolitik global di abad ke-21 akan sangat ditentukan oleh siapa yang menguasai lautan. Dengan langkah agresif dan inovasi teknologi yang cepat, China telah menempatkan dirinya sebagai penantang serius, siap mengklaim gelar raksasa laut pada pertengahan dekade ini.