China Respons Demo Iran: Tolak Keras Intervensi Asing di Teheran
Uptodai.com - Situasi politik di Timur Tengah kembali memanas seiring berlanjutnya demonstrasi besar-besaran di Iran. Menanggapi ketegangan yang kian meningkat dan munculnya ancaman intervensi dari Amerika Serikat (AS), China respons demo Iran intervensi dengan pesan yang sangat tegas. Beijing menyerukan agar semua pihak menahan diri dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Pernyataan resmi ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China di tengah pekan ketiga protes nasional yang awalnya dipicu oleh lonjakan biaya hidup, namun kini telah berubah menjadi tantangan serius bagi rezim yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Sikap Tegas Beijing Menolak Campur Tangan Asing
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menekankan bahwa Beijing secara konsisten menentang segala bentuk campur tangan dalam urusan internal negara berdaulat. Pernyataan ini muncul pada konferensi pers rutin, Senin (12/1/2026) waktu setempat, menanggapi komentar keras yang sebelumnya dilontarkan oleh Donald Trump.
Mao Ning mendesak semua pihak yang terlibat untuk mengambil langkah-langkah yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah. Sikap non-intervensi ini merupakan prinsip dasar yang selalu dipegang teguh oleh China dalam diplomasi globalnya.
Peringatan Trump dan Dinamika Protes Iran
Ketegangan di Iran memang telah mencapai titik didih setelah demonstrasi yang mulanya bersifat ekonomi berubah menjadi protes politik yang menargetkan kepemimpinan tertinggi. Gelombang protes ini telah menyebar ke berbagai kota, menciptakan atmosfer ketidakpastian yang signifikan.
Pemerintahan di Teheran menanggapi situasi ini dengan tuduhan serius, menuding bahwa kekerasan yang terjadi sengaja diubah menjadi berdarah. Hal ini, menurut mereka, dilakukan untuk memberikan alasan yang sah bagi AS agar dapat melakukan intervensi militer.
Tuduhan Iran terhadap Intervensi AS dan Elemen Asing
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berbicara di hadapan para diplomat asing di Teheran pada hari yang sama, Senin. Ia secara terbuka menuduh bahwa peringatan Presiden Trump mengenai tindakan militer jika protes berubah menjadi berdarah, justru memotivasi kelompok teroris.
Araghchi mengklaim bahwa elemen-elemen ini menargetkan demonstran maupun pasukan keamanan Iran. Tujuannya adalah menciptakan kekacauan dan mengundang intervensi asing yang didorong oleh AS.
Opsi Perang atau Dialog: Klaim Kendali Penuh
Meskipun mengakui adanya peningkatan kekerasan selama akhir pekan, Araghchi menegaskan bahwa situasi keamanan di Iran kini berada “di bawah kendali penuh” otoritas. Ia juga menegaskan bahwa Teheran siap menghadapi dua skenario yang berbeda.
“Kami siap untuk perang, tetapi juga untuk dialog,” ujar Araghchi, menunjukkan sikap yang tidak gentar namun tetap membuka ruang negosiasi. Pemerintah Iran juga mengklaim telah memiliki rekaman bukti distribusi senjata kepada para demonstran.
Bukti tersebut, termasuk pengakuan para tahanan yang ditangkap selama kerusuhan, akan segera dirilis ke publik. Araghchi secara eksplisit menuding unsur-unsur asing berada di balik kerusuhan tersebut, menegaskan bahwa demonstrasi ini dipicu dan didorong oleh elemen-elemen dari luar negeri.
Oleh karena itu, aparat keamanan Iran berjanji akan “memburu” pihak-pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan. Sementara itu, Pemerintah Iran telah menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi para “martir” yang tewas dalam kerusuhan, termasuk anggota pasukan keamanan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa 109 personel keamanan telah tewas akibat protes. Namun, otoritas Iran hingga kini belum merilis data resmi jumlah korban dari kalangan demonstran, meskipun kelompok oposisi di luar negeri mengklaim angka tersebut telah mencapai 500 orang.